Jumat, 15 Mei 2026

Harga CPO Melesat, Terdorong Penguatan Minyak Kedelai  

Penulis : Indah Handayani
19 Jan 2024 | 05:30 WIB
BAGIKAN
Pekerja memindahkan tandan buah segar (TBS) di salah satu perkebunan sawit Kota Bengkulu, Bengkulu, Selasa (21/11/2023). Berdasarkan data Kementerian Pertanian, total luas perkebunan sawit di Tanah Air naik dari 14,9 juta hektare pada tahun 2022 menjadi 16,38 juta hektare pada tahun 2023 dengan rincian 53 persen atau 8,64 juta hektare milik perusahaan swasta, sedangkan 42 persen atau 6,94 juta hektare berstatus sebagai perkebunan rakyat dan 800 ribu hektare dalam penguasaan perusahaan Badan Usaha Milik Negara (BUMN). (ANTARA FOTO/Muhammad Izfaldi/rwa)
Pekerja memindahkan tandan buah segar (TBS) di salah satu perkebunan sawit Kota Bengkulu, Bengkulu, Selasa (21/11/2023). Berdasarkan data Kementerian Pertanian, total luas perkebunan sawit di Tanah Air naik dari 14,9 juta hektare pada tahun 2022 menjadi 16,38 juta hektare pada tahun 2023 dengan rincian 53 persen atau 8,64 juta hektare milik perusahaan swasta, sedangkan 42 persen atau 6,94 juta hektare berstatus sebagai perkebunan rakyat dan 800 ribu hektare dalam penguasaan perusahaan Badan Usaha Milik Negara (BUMN). (ANTARA FOTO/Muhammad Izfaldi/rwa)

JAKARTA, investor.id – Harga kontrak Crude Palm Oil (CPO) di Bursa Malaysia Derivatives (BMD) melesat pada Kamis (18/1/2024). Kenaikan tersebut didorong oleh penguatan harga minyak kedelai.  

Berdasarkan data BMD pada penutupan Kamis (18/1/2024), kontrak berjangka CPO untuk Februari 2024 naik 74 Ringgit Malaysia menjadi 3.929 Ringgit Malaysia per ton. Untuk kontrak berjangka CPO Maret 2024 meningkat 78 Ringgit Malaysia menjadi 3.914 Ringgit Malaysia per ton.

Sementara itu, kontrak berjangka CPO April 2024 terkerek 80 Ringgit Malaysia menjadi 3.895 Ringgit Malaysia per ton. Kontrak berjangka CPO Mei 2024 bertambah 77 Ringgit Malaysia menjadi 3.849 Ringgit Malaysia per ton.

ADVERTISEMENT

Sedangkan kontrak berjangka CPO Juni 2024 melesat 70 Ringgit Malaysia menjadi 3.783 Ringgit Malaysia per ton. Kontrak berjangka CPO Juli 2024 menguat 62 Ringgit Malaysia menjadi 3.716 Ringgit Malaysia per ton.  

Pedagang minyak sawit David Ng mengatakan penguatan harga minyak kedelai dan minyak mentah membantu meningkatkan sentimen. “Oleh karena itu, kami melihat support di 3.750 Ringgit Malaysia per ton dan resistance di 3.950 Ringgit Malaysia per ton,” katanya dikutip dari  Bernama.

Sementara itu, perusahaan inspeksi independen, AmSpec Agri Malaysia memproyeksikan ekspor produk minyak sawit Malaysia pada 1-15 Januari akan turun 2,6% menjadi 604.474 ton dibandingkan bulan sebelumnya.

Editor: Indah Handayani

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkait


Berita Terkini


Market 15 menit yang lalu

DPR Soroti Kepercayaan Pasar di Tengah Tekanan Rupiah

Anggota Komisi XI DPR Marwan Cik Asan mendorong pemerintah dan BI menjaga kepercayaan pasar di tengah tekanan terhadap rupiah.
Market 19 menit yang lalu

Ujian Berat bagi Saham BUMI

Saham Bumi Resources (BUMI) menjadi salah satu yang banyak dilego oleh investor asing. Ini menandai tekanan terhadap saham BUMI berlanjut.
Business 1 jam yang lalu

Wamen Investasi Angkat Bicara Soal Keluhan dari Pelaku Usaha China

Wakil Menteri Investasi, Todotua Pasaribu angkat suara perihal keluhan dari pengusaha China terkait hambatan berinvestasi di Indonesia.
Market 1 jam yang lalu

Harga Emas Perhiasan Hari Ini, Jumat 15 Mei 2026, Cek Rinciannya

Harga emas perhiasan hari ini, Jumat (15/5/2026) di Raja Emas Indonesia, Hartadinata Abadi, dan Laku Emas dalam berbagai karat
Market 2 jam yang lalu

Duit Asing Tumpah ke Saham ADRO

Di tengah gencarnya aksi jual investor asing, ternyata diam-diam duit asing masuk ke saham Alamtri Resources Indonesia (ADRO).
Multimedia 2 jam yang lalu

Kandungan Santan Mirip ASI? Cek Faktanya! | Cuan Iki Podcast

Limbah kelapa, ternyata adalah "harta karun" yang diburu pasar Eropa dan Asia? Keresahan akan banyaknya sabut kelapa yang terbuang sia-sia di Indonesia
Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia