Ada Emiten Mendadak Masuk LQ45, Jumlah Investornya Membeludak, Sahamnya Melejit
JAKARTA, investor.id - Saham PT Mitra Pack Tbk (PTMP) melesat 13,82% pada perdagangan 16 Februari 2024 pekan lalu ke Rp 280. Sebanyak 271,28 juta saham ditransaksikan, frekuensi 38.820 kali, dan nilai transaksi Rp 71,01 miliar. Dalam satu pekan terakhir, saham ini melejit 22,81%.
Sementara itu, jumlah pemegang saham PT Mitra Pack Tbk (PTMP) tiba-tiba membeludak saat saham perseroan dimasukkan dalam perhitungan indeks LQ45 oleh Bursa Efek Indonesia (BEI).
Per 31 Januari 2024, pemegang saham PTMP jadi berjumlah 3.453 pihak. Jumlahnya meningkat 1.923 dari posisi per akhir Desember 2023 yang sebesar 1.530 pemegang saham.
Berdasarkan laporan registrasi pemegang saham PTMP per akhir Januari 2024, PT Kencana Usaha selaku pengendali tetap menguasai 72,51% saham PTMP, sedangkan masyarakat 25,24%. Penerima manfaat akhir dari kepemilikan saham PTMP adalah Ardi Kusuma yang juga merupakan direktur utama perseroan.
Sebelumnya, Bursa Efek Indonesia (BEI) melakukan evaluasi atas sejumlah indeks pada Januari 2024. Salah satunya adalah evaluasi mayor pada indeks LQ45.
Terdapat empat saham yang baru masuk dalam indeks LQ45, yakni saham PT Merdeka Battery Materials Tbk (MBMA), saham PT Dayamitra Telekomunikasi Tbk (MTEL), saham PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGEO), dan saham PT Mitra Pack Tbk (PTMP).
Selain itu, ada empat saham juga yang dikeluarkan dari perhitungan indeks LQ45, di antaranya INDY, SCMA, dan TBIG.
Periode efektif konstituen berlaku mulai 1 Februari sampai 31 Juli 2024. Sedangkan periode efektif jumlah saham perhitungan indeks pada 1 Februari sampai 30 April 2024.
Heboh
Jagat pasar modal sempat heboh saat saham PTMP dimasukkan dalam perhitungan indeks LQ45.
Berdasarkan fact sheet indeks LQ45 di situs web BEI dijelaskan bahwa indeks LQ45 adalah indeks yang mengukur kinerja harga saham dari 45 saham dengan kapitalisasi pasar relatif besar, likuiditas tinggi, dan fundamental yang baik.
Meski tidak ada ketentuan yang dilanggar, namun perubahan tersebut cukup membuat pasar skeptis terhadap indeks saham yang diluncurkan oleh BEI pada Februari 1977 tersebut. BEI pun telah menjelaskan soal kehebohan ini.
Direktur Pengembangan BEI Jeffrey Hendrik menegaskan bahwa dalam penetapan konstituen suatu indeks digunakan parameter kuantitatif dan kualitatif termasuk value, volume, frekuensi, rasio fundamental, dan parameter lain.
Adapun saham-saham yang masuk IDX30, LQ45, IDX80 dan indeks lainnya yang diumumkan oleh BEI, menurut dia, sudah sesuai prosedur yang ada.
Menanggapi hal tersebut, CEO PT Surya Timur Alam Raya (STAR) Asset Management, Hanif Mantiq mengaku kaget dengan hasil rebalancing LQ45. STAR Asset Management merupakan salah satu manajer investasi di industri reksa dana.
“Memang agak mengagetkan. Biasanya para pelaku pasar melihat kapitalisasi dan likuiditas. Para pendatang baru sepertinya market cap-nya tidak begitu besar," kata Hanif di Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Selasa (6/2/2024).
Editor: Theresa Sandra Desfika
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read Now



