Harga Batu Bara Melesat Lagi Berkat Data Impor China
JAKARTA, investor.id – Harga batu bara melesat lagi pada Senin (4/3/2024), melanjutkan tren bullish yang terjadi pada pekan lalu. Hal itu berkat data impor batu bara China yang meningkat di sepanjang dua bulan 2024.
Harga batu bara Newcastle untuk kontrak berjangka Maret 2024 naik US$ 4 menjadi US$ 136 per ton. Sedangkan kontrak berjangka April 2024 menguat US$ 4,1 menjadi US$ 140,1 per ton. Sementara itu, kontrak berjangka Mei 2024 terkerek US$ 3,7 menjadi US$ 139,2 per ton.
Sementara itu, harga batu bara Rotterdam untuk kontrak berjangka Maret 2024 meningkat US$ 4,15 menjadi US$ 111,1. Sementara itu, kontrak berjangka April 2024 bertambah US$ 4,35 menjadi US$ 110,6. Serta, kontrak berjangka Mei 2024 naik US$ 4,05 menjadi US$ 108,15.
Dikutip dari Reuters, di saat melemahnya indeks manufaktur utama China, impor komoditas utama oleh negara dengan ekonomi terbesar kedua di dunia ini semakin meningkat. Tercatat impor minyak mentah, gas alam cair (LNG), batu bara, dan bijih besi China semuanya menguat dalam dua bulan pertama tahun 2024 dibandingkan periode yang sama tahun lalu, menurut data dari analis komoditas Kpler dan LSEG Oil Research.
Namun, meskipun impor komoditas yang kuat tampaknya tidak selaras dengan data konstruksi dan manufaktur properti yang melemah. Hal itu dapat diselaraskan dengan mempertimbangkan dinamika pasar seperti penimbunan dan pergerakan harga.
Impor batu bara semua kualitas juga meningkat dalam dua bulan pertama tahun ini. Kpler memperkirakan kedatangan batu bara melalui laut sebesar 28,4 juta ton pada bulan Februari dan 34,0 juta ton pada bulan Januari, sehingga totalnya mencapai 62,4 juta ton.
Jumlah ini 28,1% lebih tinggi dibandingkan 48,7 juta ton kedatangan melalui laut pada dua bulan pertama tahun 2023.
PMI menyusut untuk lima bulan beruntun di Februari, mencapai 49,1 poin, turun dari 49,2 di bulan Januari, dan tetap di bawah level 50 yang memisahkan pertumbuhan dan kontraksi.
Meskipun beberapa pelemahan mungkin disebabkan oleh penutupan pabrik selama libur Tahun Baru Imlek selama seminggu, data PMI menunjukkan bahwa perekonomian China berada dalam kondisi membaik.
Sementara itu, Research and Development ICDX Girta Yoga mengatakan, dalam jangka pendek permintaan dari kedua negara importir utama, India dan China, masih akan cukup kuat. Hal itu, lanjutnya, disebabkan harga batu bara impor yang lebih bersaing, sehingga produsen batu bara lebih memilih untuk mengimpor dibanding memproduksi dalam negeri.
“Ditambah lagi, produksi di kedua negara importir utama tersebut belum sepenuhnya bisa memenuhi permintaan dalam negeri. Hal ini dapat dilihat dari ketergantungan India pada batu bara impor, hanya saja proporsinya yang disesuaikan dari waktu ke waktu,” ungkap Yoga kepada Investor Daily, baru-baru ini.
Editor: Indah Handayani
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read Now






