Induk Japfa Comfeed Indonesia (JPFA) Mau Go Private, Apa Dampaknya?
JAKARTA, investor.id – Pemilik dari Japfa Ltd, induk usaha PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk (JPFA), dikabarkan tengah mempertimbangkan rencana go private.
Terkait hal itu, pemilik Japfa Ltd juga dilaporkan telah memulai pembicaraan, termasuk dengan beberapa bank, untuk mencari pinjaman sebesar US$ 150 juta guna mendukung rencana tersebut, menurut Bloomberg dalam laporannya.
Sampai saat ini, pembahasan terkait potensi delisting Japfa Ltd di Bursa Efek Singapura (SGX) masih berlanjut dan belum ada keputusan final. Perwakilan Japfa sendiri menolak berkomentar mengenai kabar ini.
Sebagai informasi, Japfa Comfeed Indonesia berkontribusi sebesar 76% terhadap total pendapatan Japfa Ltd pada 2023 yang tercatat sebesar US$ 4,4 miliar.
“Rencana ini tidak berdampak langsung pada JPFA. Namun, sentimen positif dapat muncul apabila go private juga direncanakan untuk JPFA. Sebab pemegang saham pengendali berpotensi melakukan mandatory tender offer untuk membeli saham dari pemegang saham minoritas,” tulis Stockbit Sekuritas dalam ulasannya.
Dari sisi fundamental, Stockbit memiliki pandangan positif terhadap sektor poultry, termasuk JPFA, karena beberapa alasan. Pertama, harga broiler dan day old chicks (DOC) telah pulih dan bertahan di level yang tinggi.
Kedua, harga jagung mulai turun dan diperkirakan berlanjut. Ketiga, meredanya sentimen negatif membuka ruang terjadinya re-rating valuasi.
Sebelumnya, harga saham Japfa Comfeed Indonesia (JPFA) beserta Charoen Pokphand Indonesia (CPIN) sempat mengalami penurunan sekitar 20% sejak awal Oktober 2023 hingga awal Februari 2024.
Penurunan harga saham dua emiten di industri perunggasan (poultry) tersebut seiring pelemahan harga ayam broiler dan DOC, serta kenaikan harga jagung yang signifikan pada akhir 2023 hingga awal 2024.
Namun, harga broiler dan DOC telah pulih. “Sementara itu, harga jagung mulai menunjukkan penurunan, yang mana kami perkirakan akan berlanjut sehingga dapat menjadi katalis positif bagi CPIN dan JPFA,” tulis Investment Analyst Stockbit Sekuritas, Reynaldo Mulya dalam risetnya.
Setelah harga broiler dan DOC turun signifikan pada kuartal IV-2023 (broiler -13% qoq, DOC -46% qoq), harga keduanya telah rebound masing-masing ke level di atas Rp 20.402/kg dan Rp 5.216/ekor per Februari 2024 berkat menguatnya permintaan. Per 6 Maret 2024, harga broiler bahkan berada di level Rp 26.000/kg.
Selain itu, Stockbit Sekuritas juga mengekspektasikan program culling akan kembali dilaksanakan ketika permintaan ternormalisasi setelah musim lebaran. Dengan begitu, harga broiler dan DOC diprediksi bisa stabil masing-masing di level Rp 20.000/kg dan Rp 5.000/ekor.
Dari sisi bahan baku, setelah kenaikan signifikan dalam beberapa bulan terakhir, harga jagung mulai turun. Per 5 Maret 2024, harga rata-rata jagung terpangkas 23% ke level Rp 5.635/kg dari titik tertingginya di Rp 7.360/kg pada 30 Januari 2024. Normalisasi harga jagung diperkirakan berlanjut seiring musim panen pada Februari-Maret 2024, intervensi pemerintah melalui impor, dan berakhirnya El Nino.
Meski demikian, secara tahunan, harga rata-rata jagung pada 2024 diprediksi masih akan lebih tinggi dibandingkan 2023 karena tingginya harga pada awal tahun 2024 dari efek El Nino. “Hal ini akan berimbas pada penurunan tipis margin segmen usaha feed,” jelas Reynaldo.
Rekomendasi dan Target Harga Saham
Editor: Jauhari Mahardhika
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read Now






