Jumat, 15 Mei 2026

Induk Japfa Comfeed Indonesia (JPFA) Mau Go Private, Apa Dampaknya?

Penulis : Jauhari Mahardhika
13 Mar 2024 | 05:00 WIB
BAGIKAN
Pabrik milik Japfa Group. (Foto: Japfa)
Pabrik milik Japfa Group. (Foto: Japfa)

JAKARTA, investor.id – Pemilik dari Japfa Ltd, induk usaha PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk (JPFA), dikabarkan tengah mempertimbangkan rencana go private.

Terkait hal itu, pemilik Japfa Ltd juga dilaporkan telah memulai pembicaraan, termasuk dengan beberapa bank, untuk mencari pinjaman sebesar US$ 150 juta guna mendukung rencana tersebut, menurut Bloomberg dalam laporannya.

Sampai saat ini, pembahasan terkait potensi delisting Japfa Ltd di Bursa Efek Singapura (SGX) masih berlanjut dan belum ada keputusan final. Perwakilan Japfa sendiri menolak berkomentar mengenai kabar ini.

ADVERTISEMENT

Sebagai informasi, Japfa Comfeed Indonesia berkontribusi sebesar 76% terhadap total pendapatan Japfa Ltd pada 2023 yang tercatat sebesar US$ 4,4 miliar.

“Rencana ini tidak berdampak langsung pada JPFA. Namun, sentimen positif dapat muncul apabila go private juga direncanakan untuk JPFA. Sebab pemegang saham pengendali berpotensi melakukan mandatory tender offer untuk membeli saham dari pemegang saham minoritas,” tulis Stockbit Sekuritas dalam ulasannya.

Dari sisi fundamental, Stockbit memiliki pandangan positif terhadap sektor poultry, termasuk JPFA, karena beberapa alasan. Pertama, harga broiler dan day old chicks (DOC) telah pulih dan bertahan di level yang tinggi.

Kedua, harga jagung mulai turun dan diperkirakan berlanjut. Ketiga, meredanya sentimen negatif membuka ruang terjadinya re-rating valuasi.

Sebelumnya, harga saham Japfa Comfeed Indonesia (JPFA) beserta Charoen Pokphand Indonesia (CPIN) sempat mengalami penurunan sekitar 20% sejak awal Oktober 2023 hingga awal Februari 2024.

Penurunan harga saham dua emiten di industri perunggasan (poultry) tersebut seiring pelemahan harga ayam broiler dan DOC, serta kenaikan harga jagung yang signifikan pada akhir 2023 hingga awal 2024.

Namun, harga broiler dan DOC telah pulih. “Sementara itu, harga jagung mulai menunjukkan penurunan, yang mana kami perkirakan akan berlanjut sehingga dapat menjadi katalis positif bagi CPIN dan JPFA,” tulis Investment Analyst Stockbit Sekuritas, Reynaldo Mulya dalam risetnya.

Setelah harga broiler dan DOC turun signifikan pada kuartal IV-2023 (broiler -13% qoq, DOC -46% qoq), harga keduanya telah rebound masing-masing ke level di atas Rp 20.402/kg dan Rp 5.216/ekor per Februari 2024 berkat menguatnya permintaan. Per 6 Maret 2024, harga broiler bahkan berada di level Rp 26.000/kg.

Selain itu, Stockbit Sekuritas juga mengekspektasikan program culling akan kembali dilaksanakan ketika permintaan ternormalisasi setelah musim lebaran. Dengan begitu, harga broiler dan DOC diprediksi bisa stabil masing-masing di level Rp 20.000/kg dan Rp 5.000/ekor.

Dari sisi bahan baku, setelah kenaikan signifikan dalam beberapa bulan terakhir, harga jagung mulai turun. Per 5 Maret 2024, harga rata-rata jagung terpangkas 23% ke level Rp 5.635/kg dari titik tertingginya di Rp 7.360/kg pada 30 Januari 2024. Normalisasi harga jagung diperkirakan berlanjut seiring musim panen pada Februari-Maret 2024, intervensi pemerintah melalui impor, dan berakhirnya El Nino.

Meski demikian, secara tahunan, harga rata-rata jagung pada 2024 diprediksi masih akan lebih tinggi dibandingkan 2023 karena tingginya harga pada awal tahun 2024 dari efek El Nino. “Hal ini akan berimbas pada penurunan tipis margin segmen usaha feed,” jelas Reynaldo.

Rekomendasi dan Target Harga Saham 

Editor: Jauhari Mahardhika

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkait


Berita Terkini


Macroeconomy 16 menit yang lalu

Fundamental Ekonomi Kuat, Masyarakat Jangan Panik

Pemerintah secara konsisten melakukan sejumlah pembenahan untuk memperkuat sumber pertumbuhan ekonomi domestik.
Market 48 menit yang lalu

Harga Emas Terkoreksi Buntut Data Konsumen AS

Pasar emas terus mempertahankan dukungan kritis tetapi tidak menunjukkan reaksi besar terhadap data ekonomi terbaru AS.
Market 59 menit yang lalu

Harga Perak Antam (ANTM) Hari Ini, Jumat 15 Mei 2026: Longsor Dalam

Harga perak Antam (ANTM) hari ini pada Jumat (15/5/2026) terpantau longsor dalam. Harga perak Antam menurun ke level ini
Market 1 jam yang lalu

Harga Emas Antam (ANTM) Hari Ini, Jumat 15 Mei 2026: Merosot Lagi

Harga emas Antam (ANTM) terpantau pada Jumat (15/5/2026) kembali merosot. Cek juga harga beli kembali (buyback) emas Antam
Market 2 jam yang lalu

DPR Soroti Kepercayaan Pasar di Tengah Tekanan Rupiah

Anggota Komisi XI DPR Marwan Cik Asan mendorong pemerintah dan BI menjaga kepercayaan pasar di tengah tekanan terhadap rupiah.
Market 2 jam yang lalu

Ujian Berat bagi Saham BUMI

Saham Bumi Resources (BUMI) menjadi salah satu yang banyak dilego oleh investor asing. Ini menandai tekanan terhadap saham BUMI berlanjut.
Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia