Harga Minyak Kembali Menguat, Dipicu Potensi Meluasnya Wilayak Konflik di Gaza
JAKARTA, investor.id - Harga minyak terpantau bergerak dalam tren bullish pada Senin (18/3/2024). Hal itu dipicu potensi meluasnya wilayah konflik di Gaza. Meski demikian, isyarat peningkatan produksi dari Iran dan Amerika Serikat (AS) membatasi pergerakan harga lebih lanjut.
Tim Research and Development ICDX menjelaskan, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu pada hari Minggu mengumumkan bahwa ia akan melanjutkan rencana serangan ke wilayah Rafah yang berlokasi di selatan Jalur Gaza, dan sekaligus menjadi lokasi tempat pengungsian lebih dari 1 juta warga sipil Palestina. Di hari yang sama, Kanselir Jerman Olaf Scholz mengatakan langkah tersebut akan membuat negosiasi perdamaian regional yang sedang berlangsung menjadi ‘sangat sulit’.
“Berita tersebut mengindikasikan potensi semakin meluasnya tensi geopolitik di Timur Tengah,” tulis Tim Research and Development ICDX dalam risetnya, Senin (18/3/2024).
Tim Research and Development ICDX menjelaskan, fokus pasar juga tertuju pada hasil pertemuan The Fed selama dua hari yang akan dirilis pada hari Rabu mendatang, di mana bank sentral AS diperkirakan akan mempertahankan suku bunga stabil atau tidak berubah pada bulan ini dan kemungkinan penurunan suku bunga pada pertemuan bulan Juni. “Suku bunga AS yang lebih rendah menjadi katalis positif bagi harga minyak karena berpotensi mendorong kenaikan permintaan di AS,” papar Tim Research and Development ICDX.
Sementara itu, Iran dalam waktu dekat berencana meluncurkan serangkaian proyek untuk meningkatkan produksi minyak dari enam ladang minyak sebesar 350 ribu bph, pasca tercapainya kontrak senilai US$ 13 miliar pada hari Minggu, menurut laporan Kantor Berita Republik Islam yang dikelola pemerintah. Berita tersebut memicu kekhawatiran akan peningkatan produksi Iran yang tentunya akan berdampak pada pasokan aliansi OPEC+ secara total. Iran sendiri merupakan produsen terbesar ketiga OPEC setelah Arab Saudi dan Irak.
Tim Research and Development ICDX menambahkan, turut membebani pergerakan harga lebih lanjut, produsen minyak serpih AS menunjukkan isyarat untuk meningkatkan aktivitas pengeboran minyak ke level tertinggi sejak September 2023. Dalam laporan jumlah rig minyak yang dirilis pada akhir pekan lalu oleh Baker Hughes menunjukkan jumlah rig minyak AS naik sebesar 6 rig menjadi 510 rig, angka terbesar sejak 15 September. Laporan tersebut mengindikasikan potensi peningkatan pasokan minyak AS di masa mendatang.
“Melihat dari sudut pandang teknis, harga minyak berpotensi menemui posisi resistance terdekat di level US$ 82 per barel. Namun, apabila menemui katalis negatif maka harga berpotensi turun ke support terdekat di level US$ 78 per barel,” tutup Tim Research and Development ICDX.
Editor: Indah Handayani
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read Now






