Harga Minyak Melemah, Tertekan Berkurangnya Harapan Pemangkasan Suku Bunga AS
NEW YORK, investor.id - Harga minyak melemah pada Kamis (11/4/2024). Hal itu karena tertekan harapan pemangkasan suku bunga Amerika Serikat (AS) dalam waktu dekat mulai berkurang akibat tingginya inflasi. Namun, kekhawatiran akan kemungkinan serangan Iran terhadap Israel membuat harga minyak mentah mendekati level tertinggi dalam enam bulan.
Dikutip dari Reuters, harga minyak mentah berjangka Brent turun 74 sen (0,8%) menjadi US$ 89,74 per barel. Sedangkan minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI) AS turun US$ 1,19 (1,4%) menjadi US$ 85,02.
Ahli strategi energi global Vikas Dwivedi dari Macquarie mengatakan, akan sulit untuk mempertahankan Brent diatas US$ 90 per barel pada paruh kedua tahun ini tanpa gangguan pasokan aktual yang terkait dengan peristiwa geopolitik.
“Sebagai akibatnya, kami memperkirakan minyak akan berubah menjadi bearish seiring berjalannya tahun ini karena pertumbuhan pasokan non-OPEC, sejumlah besar kapasitas cadangan OPEC+ yang masuk kembali ke pasar, dan potensi inflasi yang berkelanjutan akan melemahkan permintaan,” papar Dwivedi.
Risalah pertemuan The Fed menunjukkan para pejabat khawatir bahwa kemajuan inflasi mungkin terhenti dan mengindikasikan perlunya kebijakan moneter ketat dalam jangka waktu yang lebih lama.
Investor yang sebelumnya memperkirakan pemangkasan suku bunga pada Juni sekarang melihat September sebagai waktu yang lebih tepat, mengingat pembacaan inflasi konsumen tiga kali berturut-turut yang melebihi perkiraan.
Di Eropa, pejabat bank sentral mempertahankan biaya pinjaman pada rekor tertinggi seperti yang diharapkan, namun mengisyaratkan ECB akan segera memangkas suku bunga.
Pemangkasan suku bunga yang lebih lambat dapat menghambat permintaan minyak, namun OPEC optimistis pertumbuhan permintaan global yang relatif kuat pada 2024.
Badan Energi Internasional akan mengumumkan ekspektasinya dalam laporan bulanannya pada Jumat (12/4/2024).
Harga minyak juga tertekan oleh pemadaman listrik pada hari Rabu yang menutup beberapa unit produksi bahan bakar di fasilitas besar Motiva Enterprise yang berkapasitas 626.600 barel per hari di Port Arthur, Texas.
Motiva mulai mengoperasikan kembali fluidic catalytic cracker (FCC) penghasil bensin pada Kamis pagi, kata orang-orang yang mengetahui operasional pabrik.
Sementara itu, traders khawatir bahwa Iran mungkin akan membalas serangan udara Israel terhadap kedutaan besarnya di Suriah pada 1 April lalu. Menteri Luar Negeri AS Antony Blinken telah berjanji bahwa AS akan mendukung Israel terhadap segala ancaman dari Iran.
Pekan ini, Israel dan Hamas memulai putaran baru perundingan dalam perang Gaza yang sudah berlangsung lebih dari enam bulan, namun perundingan tersebut tidak menghasilkan kesepakatan.
Editor: Indah Handayani
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read Now






