Dampak Konflik Iran vs Israel bagi Pasar Saham RI, Harga Minyak, dan Emas
JAKARTA, investor.id – Naiknya tensi geopolitik di Timur Tengah menyusul konflik bersenjata antara Iran dan Israel diperkirakan bakal menekan pergerakan indeks harga saham gabungan (IHSG) pada pekan ini atau pasca libur panjang Lebaran 2024. IHSG diprediksi terkoreksi untuk menguji area support 7.099 dari posisi penutupan terakhir di 7.286.
“Pekan ini, kami melihat IHSG berpotensi mengalami tekanan karena adanya peningkatan dari tensi geopolitik. IHSG berpotensi mengalami pelemahan dengan rentang 7.220-7.300,” kata Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas, Maximilianus Nico Demus kepada Investor Daily, yang dikutip pada Selasa (16/4/2024).
Nico mengungkapkan, ketegangan antara Iran dan Israel membuat pelaku pasar dan investor khawatir. Pasalnya, yang mulai bertikai adalah Iran, dimana hal ini tentu saja mengonfirmasi bahwa eskalasi perang berpotensi bertambah besar.
“Seperti yang kita ketahui, Iran juga salah satu negara yang memproduksi minyak. Oleh sebab itu, kalau kita perhatikan harga minyak pun langsung naik,” ujar dia.
Tidak hanya dari peningkatan tensi geopolitik, lanjut Nico, data ketenagakerjaan di Amerika juga sangat baik, terutama ketika US change in nonfarm Payrolls naik. Hal ini yang membuat inflasi Amerika Serikat tampaknya semakin sulit untuk ditekan, yang dapat membuat the Fed akan menunda pemangkasan suku bunga acuan.
“Inflasi di Amerika pun naik, yang semakin memberikan rasa pesimis apakah the Fed akan memangkas suku bunga acuan pada bulan Juni mendatang. Karena prediksi pemangkasan tersebut sudah mundur hingga bulan September,” tutur dia.
Harga Minyak dan Emas
Sementara itu Direktur PT Laba Forexindo Berjangka Ibrahim As Syuaibi mengatakan, serangan Iran ke Israel pada Sabtu (13/4/2024) dipastikan meningkatkan tensi geopolitik di kawasan Timur Tengah, dan akan berdampak pada harga minyak dan emas.
“Emas kemungkinan besar pada perdagangan Selasa (16/4/24) akan meningkat. Diikuti, dengan nilai tukar yang akan menurun," jelas Ibarahim dalam keterangannya.
Ibrahim memperkirakan harga emas masih terus mengalami kenaikan dengan target saat ini pada level US$ 2.350 per troy ounce. Apabila target tersebut terpenuhi, bukan tidak mungkin harga emas bakal tembus hingga US$ 2.400-2.500.
"Harus diingat harga US$ 2.400 itu kemungkinan tidak tercapai di akhir tahun. Tapi, tensi politik yang tinggi di Timur Tengah akan membuat harga emas menanjak tinggi hingga US$ 2.500 per troy ounce," ujar dia.
Sedangkan terkait harga minyak mentah dunia, Ibrahim menyebutkan bahwa eskalasi tensi geopolitik akan meningkatkan harga minyak lebih tinggi. Ini tidak lepas dari potensi melestusnya perang yang melibatkan negara-negara produsen minyak, sehingga bisa dipastikan mengganggu produksi minyak.
"Ini yang membuat harga minyak mentah akan mendidih dan kemungkinan menyentuh level US$ 100 per barel pada 2024," jelas dia.
Editor: Jauhari Mahardhika
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read Now






