Jumat, 15 Mei 2026

Rupiah Terpukul, Pemicunya Bukan Cuma Sentimen Konflik Iran vs Israel

Penulis : Jauhari Mahardhika
16 Apr 2024 | 11:25 WIB
BAGIKAN
Petugas menunjukkan mata uang rupiah dan dolar AS. (Foto: ANTARA FOTO/Yudhi Mahatma/ss/ama)
Petugas menunjukkan mata uang rupiah dan dolar AS. (Foto: ANTARA FOTO/Yudhi Mahatma/ss/ama)

JAKARTA, investor.id – Nilai tukar atau kurs rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) terpukul pada perdagangan Selasa pagi (16/4/2024). Rupiah terseret dampak konflik bersenjata antara Iran dan Israel. Tak hanya itu, sentimen penundaan pemangkasan suku bunga acuan AS oleh The Fed turut melemahkan rupiah.

Rupiah sempat turun 240 poin atau 1,51% ke level Rp 16.088 per dolar AS pada awal perdagangan Selasa pagi, dibandingkan penutupan perdagangan sebelumnya Rp 15.848 per dolar AS.

“Sentimen penundaan pemangkasan suku bunga acuan AS dan tensi konflik geopolitik yang meninggi telah mendorong penguatan dolar AS,” jelas pengamat pasar uang, Ariston Tjendra yang dikutip Antara, Selasa (16/4/2024).

ADVERTISEMENT

Dia memprediksi rupiah bakal melemah ke zona Rp 16.000 per dolar AS hingga penutupan perdagangan hari ini. Sedangkan indeks dolar AS kini bergerak di atas 106. Sebelumnya, selama libur Lebaran di kisaran 105 dan sebelum Lebaran di 104.

Adapun konflik di Timur Tengah terutama serangan balasan Iran ke Israel meningkatkan ketegangan di wilayah tersebut dan menimbulkan kekhawatiran di kalangan pelaku pasar terhadap munculnya perang baru.

Perang akan menyebabkan gangguan suplai, meningkatkan inflasi, dan memicu pelambatan ekonomi global, sehingga pelaku pasar keluar dari aset berisiko untuk sementara waktu. Pelaku pasar kemudian masuk ke aset yang dianggap aman. Hal itu memicu penguatan dolar AS dan harga emas.

Sementara itu, ekonomi China dilaporkan tumbuh 5,3% pada kuartal I-2024 dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Kenaikan kali ini melebihi ekspektasi, lebih cepat dari pertumbuhan 4,6% yang diperkirakan oleh para ekonom yang disurvei oleh Reuters.

Data yang dirilis pada Selasa oleh Biro Statistik Nasional China menunjukkan, PDB Negeri Tirai Bambu tersebut pada periode Januari hingga Maret 2024 lebih tinggi dibandingkan dengan 5,2% yang terlihat pada kuartal keempat IV-2023.

Secara kuartal ke kuartal (qoq), PDB China tumbuh 1,6% pada kuartal pertama tahun ini. Kenaikan ini dibandingkan dengan ekspektasi jajak pendapat Reuters sebesar 1,4% dan revisi ekspansi kuartal keempat sebesar 1,2%.

Adapun pemerintah China telah menetapkan target pertumbuhan 2024 di kisaran 5%. Pekan lalu, Morgan Stanley menaikkan perkiraan PDB riil China tahun ini menjadi 4,8%, juga di atas ekspektasi sebelumnya sebesar 4,2%.

Editor: Jauhari Mahardhika

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkait


Berita Terkini


Market 14 menit yang lalu

DPR Soroti Kepercayaan Pasar di Tengah Tekanan Rupiah

Anggota Komisi XI DPR Marwan Cik Asan mendorong pemerintah dan BI menjaga kepercayaan pasar di tengah tekanan terhadap rupiah.
Market 18 menit yang lalu

Ujian Berat bagi Saham BUMI

Saham Bumi Resources (BUMI) menjadi salah satu yang banyak dilego oleh investor asing. Ini menandai tekanan terhadap saham BUMI berlanjut.
Business 1 jam yang lalu

Wamen Investasi Angkat Bicara Soal Keluhan dari Pelaku Usaha China

Wakil Menteri Investasi, Todotua Pasaribu angkat suara perihal keluhan dari pengusaha China terkait hambatan berinvestasi di Indonesia.
Market 1 jam yang lalu

Harga Emas Perhiasan Hari Ini, Jumat 15 Mei 2026, Cek Rinciannya

Harga emas perhiasan hari ini, Jumat (15/5/2026) di Raja Emas Indonesia, Hartadinata Abadi, dan Laku Emas dalam berbagai karat
Market 2 jam yang lalu

Duit Asing Tumpah ke Saham ADRO

Di tengah gencarnya aksi jual investor asing, ternyata diam-diam duit asing masuk ke saham Alamtri Resources Indonesia (ADRO).
Multimedia 2 jam yang lalu

Kandungan Santan Mirip ASI? Cek Faktanya! | Cuan Iki Podcast

Limbah kelapa, ternyata adalah "harta karun" yang diburu pasar Eropa dan Asia? Keresahan akan banyaknya sabut kelapa yang terbuang sia-sia di Indonesia
Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia