Jumat, 15 Mei 2026

Ekonom Optimistis Rupiah Kembali ke Level Rp 15 Ribu

Penulis : Alfida Rizky Febrianna
28 Apr 2024 | 15:35 WIB
BAGIKAN
Kepala Ekonom PT Bank Central Asia Tbk David E. Sumual, di Kabupaten Samosir, Sumatera Utara, Minggu (28/4/2024). (B-Universe Photo/Alfida Rizky Febrianna)
Kepala Ekonom PT Bank Central Asia Tbk David E. Sumual, di Kabupaten Samosir, Sumatera Utara, Minggu (28/4/2024). (B-Universe Photo/Alfida Rizky Febrianna)

SAMOSIR, investor.id – Ekonom meyakini nilai tukar Rupiah bakal kembali ke level di bawah Rp 16.000 per dolar Amerika Serikat (AS). Ada sejumlah faktor yang berpengaruh terhadap posisi rupiah saat ini, diantaranya kondisi geopolitik, indeks dolar, hingga harga minyak.

“Mungkin saja, karena perkembangannya sangat dinamis. Kalau saya perhatikan, sekarang mereda ketegangannya (kondisi geopolitik di Timur Tengah), indeks dolar juga sedikit menurun, dan harga minyaknya menurun ya. Bukan tidak mungkin kembali,” ujar Kepala Ekonom PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) David E Sumual, di Kabupaten Samosir, Sumatera Utara, Minggu (28/4/2024).

Akan tetapi, kata David, ada nilai fundamental seperti ekspor dan impor serta inflasi yang juga harus diperhitungkan dalam memprediksi pergerakan rupiah ke depannya. “Kita tahu kan inflasi pangan kita naik cukup tinggi beberapa bulan terakhir. Nah, ini tentu mempengaruhi inflasi ekspor-impor kita itu mempengaruhi juga fundamental rupiah,” jelasnya.

ADVERTISEMENT

Menurut David, sejauh ini posisi Rupiah relatif masih lebih kuat dibandingkan nilai tukar mata uang terhadap dolar AS di sejumlah negara. “Sejauh ini saya pikir sih posisi sekarang masih relatif kompetitif lah ya, kalau kita bandingkan dengan negara-negara lain,” tuturnya.

“Kita juga tidak ingin produk-produk manufaktur kita tidak bersaing ya. Walaupun memang ekspor utama kita komoditas, tapi kita ingin juga produk-produk kita itu bersaing,” tambah David.

David pun membandingkan dengan pelemahan nilai tukar mata uang Yen Jepang dan Won Korea terhadap dolar AS yang dibiarkan melemah sekitar 10%, demi mempertahankan daya saing produk ekspornya dengan kompetitor.

“Kita tidak ingin seperti itu, kita ingin juga tetap bersaing, karena ada fenomena Dutch Disease kalau banyak penguatan terjadi dengan satu mata uang, itu bisa mengganggu juga ekspornya dalam jangka panjang, jadi perlu diperhatikan juga supaya juga untuk di luar komoditas juga kita tetap bersaing,” pungkasnya.

Editor: Prisma Ardianto

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkait


Berita Terkini


Macroeconomy 12 menit yang lalu

Fundamental Ekonomi Kuat, Masyarakat Jangan Panik

Pemerintah secara konsisten melakukan sejumlah pembenahan untuk memperkuat sumber pertumbuhan ekonomi domestik.
Market 44 menit yang lalu

Harga Emas Terkoreksi Buntut Data Konsumen AS

Pasar emas terus mempertahankan dukungan kritis tetapi tidak menunjukkan reaksi besar terhadap data ekonomi terbaru AS.
Market 55 menit yang lalu

Harga Perak Antam (ANTM) Hari Ini, Jumat 15 Mei 2026: Longsor Dalam

Harga perak Antam (ANTM) hari ini pada Jumat (15/5/2026) terpantau longsor dalam. Harga perak Antam menurun ke level ini
Market 59 menit yang lalu

Harga Emas Antam (ANTM) Hari Ini, Jumat 15 Mei 2026: Merosot Lagi

Harga emas Antam (ANTM) terpantau pada Jumat (15/5/2026) kembali merosot. Cek juga harga beli kembali (buyback) emas Antam
Market 2 jam yang lalu

DPR Soroti Kepercayaan Pasar di Tengah Tekanan Rupiah

Anggota Komisi XI DPR Marwan Cik Asan mendorong pemerintah dan BI menjaga kepercayaan pasar di tengah tekanan terhadap rupiah.
Market 2 jam yang lalu

Ujian Berat bagi Saham BUMI

Saham Bumi Resources (BUMI) menjadi salah satu yang banyak dilego oleh investor asing. Ini menandai tekanan terhadap saham BUMI berlanjut.
Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia