Outlook Nikel dan Saham Vale (INCO), Target Harga Baru
Sementara itu, RHB melihat ada beberapa faktor terkait Vale Indonesia. Pertama, perubahan dewan direksi. Kedua, perkiraan dilusi dari rencana penerbitan HMETD. Ketiga, minimnya penundaan dari output smelter karena pemeliharaan tahun depan. Keempat, peningkatan porsi bagi hasil setelah perpanjangan izin.
Terlepas dari pengaruh harga, yaitu 1% perubahan pada harga jual rata-rata (average selling price/ASP) akan berdampak 5-6% pada laba per saham (EPS), Vale Indonesia diyakini bakal memiliki margin operasional yang stabil pada tahun ini. Emiten berkode saham INCO tersebut dianggap sebagai proksi terdekat dari pergerakan nikel LME, karena kandungan nikel kualitas tinggi membuatnya lebih mudah diakses oleh berbagai pasar, baik segmen kelas I maupun II.
Sebab itu, RHB tidak mengubah pandangannya soal profitabilitas INCO, meski dengan perkiraan margin yang lebih konservatif, seiring fluktuasi harga energi dan berbagai tingkat utilisasi dalam memproses bahan baku. Secara keseluruhan, arus kas INCO akan tetap sehat. Kebutuhan ekspansi INCO bakal tercukupi oleh neraca keuangan yang sehat ke depan.
RHB kemudian mempertahankan rekomendasi buy untuk saham INCO. Target harga baru saham INCO – dengan metode discounted cash flow (DCF) dan multiple EV/EBITDA – sebesar Rp 4.500 dari sebelumnya Rp 4.810.
“Target harga tersebut telah memasukkan 2% diskon ESG sesuai dengan nilai ESG INCO sebesar 2,9 yang berada di bawah median negara,” pungkas RHB.
Editor: Jauhari Mahardhika
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read Now






