Rencana IPO Bank Mega Syariah Mundur
JAKARTA, investor.id – PT Bank Mega Syariah (BMS) sebelumnya merencanakan akan melakukan aksi korporasi initial public offering (IPO) atau melantai di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada 2026. Namun, melihat kondisi ekonomi global dan domestik yang diliputi ketidakpastian, perseroan mempertimbangkan kembali waktu yang tepat untuk mengeksekusi rencana tersebut.
“Awal tahun ini kami mau lebih fokus lagi, kami tetap rencana tapi situasi belum cukup mendukung ke arah situ, kami tetap rencanakan tapi mundur. Mungkin kalau ada blessing yang mendorong untuk percepat IPO itu jauh lebih baik,” ujar Direktur Utama Bank Mega Syariah Yuwono Waluyo kepada Investor Daily, di kantornya.
Menurut dia, selain bisa mendorong kinerja finansial yang lebih kuat, IPO juga dapat meningkatkan branding perusahaan. Sebab, dengan go public, maka akan banyak investor yang mengenal Bank Mega Syariah dan juga bisa mengoleksi sahamnya nanti ketika sudah melantai di BEI.
“Arahnya memang ke situ, tapi kapan waktunya di saat yang tepat itu yang lagi kami lakukan evaluasi ke situ. Bahwa kalau kami yakin postur sekarang cukup kuat, kemudian situasi domestik dan internasional juga mendukung segera kami lakukan,” sambung Yoyoq, sapaan akrab Yuwono.
Yoyoq menjelaskan, perseroan juga membangun tim dengan menyamakan visi, bahwa untuk menjadi bank syariah lebih besar lagi salah satunya dengan cara IPO. Meskipun IPO juga bukan jalan satu-satunya, masih ada aksi korporasi lain lagi yang bisa dilakukan.
“Tapi, perusahaan listed itu branding-nya beda, dibanding corporate action dapat dari pemegang saham, branding jauh lebih mendukung IPO karena lebih luas dan agar lebih dikenal, objektifnya pasti ke situ,” tutur dia.
Adapun, hingga semester I-2024, perseroan mampu mencatatkan pertumbuhan kinerja yang positif. Aset per Juni 2024 meningkat 11,48% dari posisi Desember 2023 (year to date/ytd). Pertumbuhan aset ditopang oleh penyaluran pembiayaan yang juga naik 5,19% secara tahunan (year on year/yoy). Sementara itu, untuk korporasi masih tumbuh tinggi sekitar 30% (yoy), didukung dari sektor manufaktur, pertambangan dan dipastikan volumenya diikuti dengan menjaga kualitas yang harus berjalan beriringan.
Perseroan juga mengincar target laba hingga Rp 300 miliar tahun ini. “Sekitar Rp 200-300 miliar target bottom line, dalam perjalanannya kami cukup kena dampak situasi makro, global juga beri dampak segala macam, pertumbuhan bisnis ada impact. Yang paling penting fokus capai itu dengan lakukan perubahan strategi yang ada,” ujar Yoyoq.
Di samping itu, BMS juga mencatatkan kinerja positif dalam segmen tabungan haji. Per Juni 2024, volume tabungan haji Bank Mega Syariah mencapai lebih dari Rp 266 miliar, naik 12,47% (yoy). Sales & Distribution Division Head BMS Dila Karnela Peter menyatakan bahwa peningkatan ini tidak lepas dari upaya bank dalam menyediakan layanan yang komprehensif dan mudah diakses.
Editor: Nida Sahara
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read Now





