Minggu, 21 Juni 2026

Tren Bullish Harga Emas Makin Kuat, Siap-siap Tembus US$ 2.800

Penulis : Indah Handayani
30 Okt 2024 | 14:55 WIB
BAGIKAN
emas batangan
emas batangan

JAKARTA, investor.id – Tren bullish harga emas semakin menguat. Bahkan, harga emas diprediksi bersiap menembus US$ 2.800 pada Rabu (30/10/2024). Hal itu seiring dengan meningkatnya kemungkinan The Fed kembali memangkas suku bunga. 

Saat berita ini ditulis, harga emas terlihat terus melaju, naik 0,26% menjadi Rp US$ 2.781,9. Bahkan, di awal sesi perdagangan, sempat menyentuh rekor tertinggi sepanjang masa (all time high/ATH) di level US$ 2.788,6.

Analis Dupoin Indonesia Andy Nugraha mengatakan, kenaikan ini dipicu oleh data terbaru dari Survei Lowongan Kerja dan Perputaran Karyawan (JOLTS) AS yang menunjukkan bahwa pasar tenaga kerja di Amerika Serikat (AS) mulai menunjukkan tanda-tanda pelonggaran, yang mana lowongan pekerjaan mencapai angka 7,44 juta di bulan September, lebih rendah dari perkiraan yang mencapai 8 juta.

ADVERTISEMENT

Menurut Andy, penurunan angka lowongan pekerjaan ini menambah kekhawatiran akan melambatnya pertumbuhan ekonomi AS dan dapat meningkatkan kemungkinan The Fed untuk segera memangkas suku bunga. “Kebijakan suku bunga yang lebih rendah dianggap menguntungkan emas karena aset ini tidak memberikan bunga, sehingga lebih menarik saat imbal hasil aset lain melemah,” jelas Andy.

Berdasarkan indikator Moving Average yang saat ini terbentuk, Andy mengungkapkan, tren bullish harga emas semakin menguat, dan potensi kenaikan masih terbuka hingga ke level US$ 2.800. “Namun, jika terjadi pembalikan arah (reversal), kemungkinan harga emas akan mengalami koreksi hingga ke target terdekatnya di US$ 2.763,” papar Andy.

Selain data tenaga kerja, Andy menyebut, harga emas juga mendapat dukungan dari penurunan harga minyak mentah. Harga minyak global mengalami penurunan signifikan, dengan harga Brent jatuh sekitar 6% pada hari Senin. Penurunan harga minyak ini didorong oleh laporan bahwa Israel hanya menyerang target militer di Iran, sehingga instalasi minyak dan nuklir Iran tetap aman dari serangan.

“Harga minyak yang lebih rendah berpotensi mengurangi tekanan inflasi global, karena bahan bakar merupakan salah satu komponen utama dalam biaya produksi dan transportasi,” ucap Andy.

Tekanan Inflasi

Editor: Indah Handayani

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkait


Berita Terkini


Market 26 menit yang lalu

BERITA POPULER: Saham Murah BMRI Diserok hingga Rencana MSCI 23 Juni

Berita populer 24 jam terakhir, mulai dari saham murah BMRI diserok hingga rencana MSCI pada 23 Juni soal status pasar modal Indonesia.
International 6 jam yang lalu

Skandal Korupsi Spanyol: Istri PM Pedro Sanchez Diadili dan Paspornya Disita

Istri PM Spanyol Begoña Gómez resmi diadili atas kasus korupsi. Paspor disita dan kubu oposisi mendesak pemerintah untuk mundur.
National 6 jam yang lalu

Ilmuwan Peringatkan Konsekuensi Besar El Nino bagi Cuaca Global

Fenomena El Niño resmi tiba! Ilmuwan peringatkan potensi kekeringan parah dari Indonesia hingga Amazon serta ancaman rekor suhu terpanas.
Lifestyle 6 jam yang lalu

Devin/Faathir Raih Final Perdana BWF Super 300 di Macau Open 2026, Hasil Nyata Pembinaan Berkelanjutan

Capaian ini menandai perkembangan signifikan pasangan muda yang selama ini disiapkan sebagai bagian dari regenerasi bulu tangkis Nasional.
International 6 jam yang lalu

Proyek Ambisius AI Kuras Kas, Investor Pantau Pasar Obligasi

Pembangunan pusat data AI kuras kas perusahaan teknologi. Investor kini wajib pantau suku bunga The Fed dan pasar obligasi global.
Business 7 jam yang lalu

Red Hat Dukung Pengembangan Agentic AI

Red Hat, penyedia solusi open source , baru-baru ini mengumumkan langkah inovatif yang signifikan pada portofolio  Red Hat AI untuk membantu menjembatani kesenjangan antara eksperimen AI dan kendali operasional di tingkat produksi.
Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia