Hasil Pilpres AS dan Stimulus Tiongkok Pengaruhi Pergerakan IHSG November
JAKARTA, investor.id – Ekonom Keuangan dan Praktisi Pasar Modal Hans Kwee menilai selama November pasar akan cenderung wait and see. Hal ini karena menunggu hasil pemilihan presiden (Pilpres) Amerika Serikat yang dilaksanakan pada 5 November 2024.
Menurut Hans, setiap calon presiden Amerika Serikat berpeluang membawa dampak yang berbeda bagi pergerakan pasar saham Indonesia.
"Berdasarkan survei, posisi pemenangnya selalu bergeser. Tahun ini hampir tidak bisa ditebak. Ada peluang Trump menang. Kalau hal ini terjadi, kemungkinan pasar modal (Indonesia) akan koreksi. Makanya pelaku pasar itu wait and see dan berhati-hati sekali," ucap Hans kepada wartawan di Bursa Efek Indonesia, Kamis (31/10/2024).
Hans mengatakan, saat ini pelaku pasar tengah mencermati peluang pemotongan suku bunga acuan Amerika Serikat oleh Federal Reserve (The Fed). Pasar percaya diri bahwa The Fed akan menurunkan suku bunga pada FOMC Meeting bulan November mendatang, dengan besaran pemotongan yang tidak setinggi pemotongan pada bulan September lalu.
Pertanyaannya, apakah pemotongan bulan November akan dilanjutkan dengan pemotongan pada bulan Desember atau tidak. Hal ini dapat dipengaruhi oleh hasil Pilpres AS tanggal 5 November mendatang.
Dikatakan Hans, pelaku pasar global juga tengah mencermati sentimen pemberian stimulus oleh pemerintah Tiongkok kepada masyarakatnya. Sebelumnya pada awal bulan Oktober diberitakan bahwa pemerintah Tiongkok akan memberikan stimulus untuk mendorong daya beli sebagai upaya menggerakan perekonomian.
"Ketika ada berita Tiongkok mau ngasih stimulus, investor cenderung rebalancing portfolio. Ketika pasar Tiongkok jelek, orang cenderung membeli ke emerging market. Berita terakhir, ternyata stimulus Tiongkok kurang. Sehingga dananya keluar lagi. Tapi kita lihat, Tiongkok malah menambah stimulusnya,” imbuh Hans.
“Jadi perkiraan kalau stimulus dia 5% dari GDP, bisa jadi stimulusnya bakal efektif. Tapi sekarang belum sampai. Nah kalau Tiongkok membaik terlalu cepat, itu jadi masalah bagi kita. Karena duit itu akan kembali lagi balik ke Tiongkok. Itu yang jadi masalah," tambah Hans.
Baca Juga:
Pemungutan Suara Awal Pilpres AS DibukaSecara umum, Hans menilai pasar dapat bergerak di teritori negatif jika suku bunga acuan The Fed jadi diturunkan. Hans optimistis bahwa hal tersebut dapat kembali terjadi pada November 2024.
"Secara umum harusnya pasar itu bisa bergerak rebound. Di era penurunan tingkat suku bunga, biasanya pasar saham itu akan rally sampai 65% naiknya. Setiap kali penurunan suku bunga. Biasanya sektor yang beruntung yaitu sektor perbankan, kemudian kalau bunga memang turun, properti harusnya bergerak. Kalau properti bergerak, kita ada semen, penurunan-penurunan yang lain, itu bergerak semua," pungkas Hans.
Editor: Maswin
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read Now


