Jumat, 15 Mei 2026

Hasil Pilpres AS dan Stimulus Tiongkok Pengaruhi Pergerakan IHSG November

Penulis : Rama Sukarta
31 Okt 2024 | 19:02 WIB
BAGIKAN
Dr Hans Kwee, Institute for Financial and Economic Studies (IFES) dan Praktisi Pasar Modal.
Dr Hans Kwee, Institute for Financial and Economic Studies (IFES) dan Praktisi Pasar Modal.

JAKARTA, investor.id – Ekonom Keuangan dan Praktisi Pasar Modal Hans Kwee menilai selama  November pasar akan cenderung wait and see. Hal ini karena menunggu hasil pemilihan presiden (Pilpres) Amerika Serikat yang dilaksanakan pada 5 November 2024.

Menurut Hans, setiap calon presiden Amerika Serikat berpeluang membawa dampak yang berbeda bagi pergerakan pasar saham Indonesia. 

"Berdasarkan survei, posisi pemenangnya selalu bergeser. Tahun ini hampir tidak bisa ditebak. Ada peluang Trump menang. Kalau hal ini terjadi, kemungkinan pasar modal (Indonesia) akan koreksi. Makanya pelaku pasar itu wait and see dan berhati-hati sekali," ucap Hans kepada wartawan di Bursa Efek Indonesia, Kamis (31/10/2024).

ADVERTISEMENT

Hans mengatakan, saat ini pelaku pasar tengah mencermati peluang pemotongan suku bunga acuan Amerika Serikat oleh Federal Reserve (The Fed). Pasar percaya diri bahwa The Fed akan menurunkan suku bunga pada FOMC Meeting bulan November mendatang, dengan besaran pemotongan yang tidak setinggi pemotongan pada bulan September lalu.

Pertanyaannya, apakah pemotongan bulan November akan dilanjutkan dengan pemotongan pada bulan Desember atau tidak. Hal ini dapat dipengaruhi oleh hasil Pilpres AS tanggal 5 November mendatang.

Dikatakan Hans, pelaku pasar global juga tengah mencermati sentimen pemberian stimulus oleh pemerintah Tiongkok kepada masyarakatnya. Sebelumnya pada awal bulan Oktober diberitakan bahwa pemerintah Tiongkok akan memberikan stimulus untuk mendorong daya beli sebagai upaya menggerakan perekonomian.

"Ketika ada berita Tiongkok mau ngasih stimulus, investor cenderung rebalancing portfolio. Ketika pasar Tiongkok jelek, orang cenderung membeli ke emerging market. Berita terakhir, ternyata stimulus Tiongkok kurang. Sehingga dananya keluar lagi.  Tapi kita lihat, Tiongkok malah menambah stimulusnya,” imbuh Hans.  

“Jadi perkiraan kalau stimulus dia 5% dari GDP, bisa jadi stimulusnya bakal efektif. Tapi sekarang belum sampai. Nah kalau Tiongkok membaik terlalu cepat, itu jadi masalah bagi kita. Karena duit itu akan kembali lagi balik ke Tiongkok.  Itu yang jadi masalah," tambah Hans.

Secara umum, Hans menilai pasar dapat bergerak di teritori negatif jika suku bunga acuan The Fed jadi diturunkan. Hans optimistis bahwa hal tersebut dapat kembali terjadi pada November 2024.

"Secara umum harusnya pasar itu bisa bergerak rebound. Di era penurunan tingkat suku bunga, biasanya pasar saham itu akan rally sampai 65% naiknya. Setiap kali penurunan suku bunga. Biasanya sektor yang beruntung yaitu sektor perbankan, kemudian kalau bunga memang turun, properti harusnya bergerak. Kalau properti bergerak, kita ada semen, penurunan-penurunan yang lain, itu bergerak semua," pungkas Hans.

Editor: Maswin

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkait


Berita Terkini


Market 14 menit yang lalu

Harga Emas Terkoreksi Buntut Data Konsumen AS

Pasar emas terus mempertahankan dukungan kritis tetapi tidak menunjukkan reaksi besar terhadap data ekonomi terbaru AS.
Market 25 menit yang lalu

Harga Perak Antam (ANTM) Hari Ini, Jumat 15 Mei 2026: Longsor Dalam

Harga perak Antam (ANTM) hari ini pada Jumat (15/5/2026) terpantau longsor dalam. Harga perak Antam menurun ke level ini
Market 29 menit yang lalu

Harga Emas Antam (ANTM) Hari Ini, Jumat 15 Mei 2026: Merosot Lagi

Harga emas Antam (ANTM) terpantau pada Jumat (15/5/2026) kembali merosot. Cek juga harga beli kembali (buyback) emas Antam
Market 1 jam yang lalu

DPR Soroti Kepercayaan Pasar di Tengah Tekanan Rupiah

Anggota Komisi XI DPR Marwan Cik Asan mendorong pemerintah dan BI menjaga kepercayaan pasar di tengah tekanan terhadap rupiah.
Market 1 jam yang lalu

Ujian Berat bagi Saham BUMI

Saham Bumi Resources (BUMI) menjadi salah satu yang banyak dilego oleh investor asing. Ini menandai tekanan terhadap saham BUMI berlanjut.
Business 2 jam yang lalu

Wamen Investasi Angkat Bicara Soal Keluhan dari Pelaku Usaha China

Wakil Menteri Investasi, Todotua Pasaribu angkat suara perihal keluhan dari pengusaha China terkait hambatan berinvestasi di Indonesia.
Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia