Harga Minyak Naik 2%, Sentuh Level Tertinggi Berkat Sanksi Baru Rusia dan Iran
IEA juga memprediksi surplus minyak untuk tahun depan, dengan negara-negara non-OPEC+ diperkirakan akan meningkatkan pasokan sekitar 1,5 juta bpd, didorong oleh Argentina, Brasil, Kanada, Guyana, dan AS.
OPEC+, yang mencakup Organisasi Negara Pengekspor Minyak (OPEC) dan sekutunya seperti Rusia, terus mengupayakan disiplin ketat dalam produksi. Uni Emirat Arab, anggota OPEC, berencana mengurangi pengiriman minyak pada awal tahun depan.
Sementara itu, harga minyak yang dijual Iran ke China mencapai level tertinggi dalam beberapa tahun terakhir akibat sanksi AS yang memperketat kapasitas pengiriman dan meningkatkan biaya logistik.
Pemerintahan Presiden AS terpilih Donald Trump diperkirakan akan meningkatkan tekanan terhadap Iran, yang dapat memengaruhi dinamika pasar minyak global.
Investor bertaruh bahwa The Fed akan memangkas suku bunga AS pekan depan, dengan pemangkasan lebih lanjut tahun depan, setelah data menunjukkan klaim mingguan untuk asuransi pengangguran naik secara tak terduga. Angka impor AS nyaris tidak naik pada November karena kenaikan biaya makanan dan bahan bakar diimbangi oleh penurunan di sektor lain, berkat kekuatan dolar AS.
Empat pembuat kebijakan Bank Sentral Eropa mendukung pemangkasan suku bunga lebih lanjut jika inflasi tetap sesuai dengan target 2% bank tersebut. Suku bunga yang lebih rendah dapat mendorong pertumbuhan ekonomi dan meningkatkan permintaan minyak.
Editor: Indah Handayani
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read Now






