Jumat, 15 Mei 2026

Harga Emas Tergelincir Dipicu Ekspektasi Suku Bunga The Fed 2025

Penulis : Indah Handayani
18 Des 2024 | 04:00 WIB
BAGIKAN
Ilustrasi emas
Ilustrasi emas

NEW YORK, investor.id – Harga emas tergelincir pada Selasa (17/12/2024), seiring penguatan dolar dan kenaikan imbal hasil obligasi Amerika Serikat (AS). Kini, investor tengah fokus pada pertemuan kebijakan terakhir The Fed tahun ini, dengan ekspektasi pemangkasan suku bunga yang lebih lambat di 2025.

Dikutip dari CNBC internasional, harga emas spot turun 0,2% ke level US$ 2.646,58 per ons. Sementara itu, kontrak berjangka AS terpangkas 0,3% menjadi US$ 2.663,30 per ons.

Penguatan dolar AS sebesar 0,1% membuat emas menjadi lebih mahal bagi pemegang mata uang lainnya. Di sisi lain, imbal hasil obligasi AS tenor 10 tahun mendekati level tertinggi dalam empat minggu menjelang keputusan The Fed yang diperkirakan akan memangkas suku bunga sebesar 25 basis poin pada Rabu (18/12/2024).

ADVERTISEMENT

Fokus pasar saat ini tertuju pada proyeksi ekonomi terbaru dari The Fed dan "dot plot" yang akan memberikan gambaran lebih jelas terkait kebijakan suku bunga di 2025 dan 2026.

"Pertanyaannya adalah, apakah The Fed akan lebih hawkish atau dovish dibandingkan ekspektasi pasar saat ini. Mengingat agenda Trump, banyak yang memperkirakan The Fed akan lebih berhati-hati dalam memberikan sinyal pemangkasan suku bunga lanjutan pada tahap ini," ujar analis pasar dari Forex.com Fawad Razaqzada.

Berdasarkan CME’s FedWatch Tool, peluang pemangkasan suku bunga sebesar 25 basis poin pada minggu ini mencapai 95%. Namun, kemungkinan pemangkasan suku bunga di Januari hanya sekitar 18%.

"Menjelang pertemuan The Fed, risiko bagi emas cenderung mengarah ke penurunan harga," kata analis pasar dari MarketPulse by OANDA Zain Vawda.

Data Ekonomi AS

Emas, sebagai aset tanpa bunga, biasanya lebih diminati dalam lingkungan suku bunga rendah. Namun, data ekonomi AS yang solid, seperti penjualan ritel yang naik lebih tinggi dari perkiraan pada November, menambah kekhawatiran bahwa The Fed mungkin menunda pemangkasan suku bunga di Januari.

Traders juga tengah mencermati data PDB dan inflasi AS yang akan dirilis akhir pekan ini sebagai petunjuk lebih lanjut mengenai kebijakan moneter ke depan.

Selain emas, harga logam lainnya juga turut mengalami pelemahan. Harga perak spot turun 0,4% ke level US$ 30,39 per ons. Sementara itu, platinum turun 0,5% menjadi US$ 931,17 per ons, dan palladium anjlok 1,2% ke level US$ 935,19 per ons.

Editor: Indah Handayani

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkait


Berita Terkini


Business 46 menit yang lalu

Wamen Investasi Angkat Bicara Soal Keluhan dari Pelaku Usaha China

Wakil Menteri Investasi, Todotua Pasaribu angkat suara perihal keluhan dari pengusaha China terkait hambatan berinvestasi di Indonesia.
Market 56 menit yang lalu

Harga Emas Perhiasan Hari Ini, Jumat 15 Mei 2026, Cek Rinciannya

Harga emas perhiasan hari ini, Jumat (15/5/2026) di Raja Emas Indonesia, Hartadinata Abadi, dan Laku Emas dalam berbagai karat
Market 2 jam yang lalu

Duit Asing Tumpah ke Saham ADRO

Di tengah gencarnya aksi jual investor asing, ternyata diam-diam duit asing masuk ke saham Alamtri Resources Indonesia (ADRO).
Multimedia 2 jam yang lalu

Kandungan Santan Mirip ASI? Cek Faktanya! | Cuan Iki Podcast

Limbah kelapa, ternyata adalah "harta karun" yang diburu pasar Eropa dan Asia? Keresahan akan banyaknya sabut kelapa yang terbuang sia-sia di Indonesia
Market 3 jam yang lalu

BERITA POPULER: Harga Emas Perhiasan dan Emas Antam (ANTM) Bertahan

Berita populer 24 jam terakhir, mulai dari update harga emas perhiasan hingga harga emas Antam (ANTM) bertahan.
National 9 jam yang lalu

Menhut Antoni Ajak Pemimpin Dunia Perkuat Multilateralisme untuk Lindungi Hutan Dunia

Menhut RI Raja Juli Antoni ajak rimbawan dan pemimpin dunia perkuat multilteralisme dan soliditas untuk lestarikan dan lindungi hutan dunia.
Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia