Giliran Bos BBCA dan BBRI Beri Komentar
JAKARTA, investor.id - Sejumlah emiten sektor perbankan mengalami penurunan harga saham pada Kamis (6/2/2025). Hal tersebut turut memengaruhi kondisi Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang memanas.
IHSG ditutup ambles 2,12% atau turun 148,69 poin ke level 6.875. Total volume saham yang diperdagangkan sebanyak 20,27 miliar saham dengan nilai transaksi sebesar Rp 13,74 triliun dari 1,43 juta kali transaksi.
Baca Juga:
Meneropong Arah Saham BBCAPresiden Direktur PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) atau BBCA, Jahja Setiaatmadja mengungkapkan bahwa sektor perbankan mengalami tekanan di Bursa Efek Indonesia (BEI).
“Market memang drop termasuk sektor perbankan. Secara industri, terakhir BBCA turun 1,92%,” jelas Jahja kepada Investor Daily.
Adapun, pada penutupan bursa hari ini, BBCA turun 1,92% ke level 8.950, sedikit menguat setelah sempat turun ke level 8.850 menjelang penutupan.
Menurut Jahja, sulit melawan industri, karena emiten tidak bisa mengkondisikan pasar. “Kalau secara industri jangan dilawan, saham naik turun biasa, yang penting fundamental tetap baik,” sambung dia.
Dari sisi kinerja keuangan, laba bersih BCA dan entitas anak tumbuh tinggi 12,7% secara tahunan (year on year/yoy) mencapai Rp 54,84 triliun. Laba tersebut didorong dari pendapatan bunga bersih (net interest income/NII) BCA yang tumbuh 9,5% (yoy) menjadi Rp 82,3 triliun pada 2024. Pendapatan selain bunga naik 10,2% (yoy) menjadi Rp 25,2 triliun, sehingga total pendapatan operasional sebesar Rp 107,4 triliun atau naik 9,7% (yoy).
Dari sisi intermediasi, total kredit meningkat 13,8% (yoy) menjadi Rp 922 triliun. Pertumbuhan kredit BCA diikuti terjaganya kualitas pembiayaan perseroan. Rasio loan at risk (LAR) BCA membaik mencapai 5,3% pada tahun 2024, dibandingkan 6,9% pada 2023. Sementara itu, biaya provisi BCA tercatat sebesar Rp 2 triliun, dengan rasio kredit bermasalah (NPL) terjaga di angka 1,8% pada 2024.
Baca Juga:
Bank Besar Royal Bagi Dividen“Kami melihat perekonomian domestik mampu bertumbuh, di tengah berbagai tantangan serta perubahan lanskap geopolitik global. BCA berkomitmen mendukung perekonomian nasional, dan hal ini kami wujudkan dalam penyelenggaraan berbagai acara strategis,” kata Jahja.
Saham BBRI
Dihubungi secara terpisah, Direktur Utama PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) atau BRI, Sunarso mengungkapkan bahwa bukan hanya BRI, sejumlah bank lain juga mengalami penurunan saham. "Bank yang lain juga turun," ujar Sunarso kepada Investor Daily.
Benar saja, berdasarkan data RTI Business, saham-saham perbankan big caps mengalami penurunan pada perdagangan hari ini. Seperti BMRI yang ambles 7,69% atau 425 poin ke level Rp 5.100 per lembar. Saham BMRI paling banyak diperdagangkan senilai Rp 3,3 triliun dari 99.834 transaksi dan total volume 642,1 juta saham.
Berikutnya, ada saham BBNI yang turun 4,67% atau 210 poin ke level Rp 4.290 per lembar. Saham BBNI yang ditransaksikan senilai Rp 314,6 miliar dari 20.429 transaksi dengan volume 12 juta saham.
Kemudian, saham BBRI juga turun 4,11% ke level Rp 3.970 per saham dengan nilai transaksi sebesar Rp 1,5 triliun dari 97.137 transaksi dengan volume 378,5 juta saham.
Terakhir, ada BBCA yang mengalami penurunan saham 1,92% menjadi Rp 8.950. Saham BBCA juga banyak diperdagangkan senilai Rp 1,5 triliun dari 81.623 transaksi.
Kendati demikian, ketika pasar tengah memanas, cukup sulit bagi satu emiten mengendalikannya. Sebab, terdapat beberapa faktor lain yang turut memengaruhinya.
"Minggu lalu yang lain ikut strategi BBRI, untuk kali ini saya ikut saja," imbuh Sunarso.
Fundamental Kuat
Meski dihadapkan berbagai tantangan ekonomi, BRI mampu mempertahankan profitabilitas sekaligus berperan aktif dalam mendorong pertumbuhan ekonomi nasional.
Sunarso sebelumnya menuturkan bahwa capaian positif tersebut mencerminkan daya tahan bank bersandi saham BBRI ini yang kuat dalam menghadapi tantangan eksternal maupun internal serta mampu membuktikan bahwa perusahaan mampu tumbuh secara berkelanjutan.
"Jadi saya ingin tegaskan bahwa fundamental BRI itu masih sangat baik dan sangat solid. Faktanya adalah dalam situasi yang tidak mudah, kita itu masih berusaha untuk mempertahankan bahwa profitabilitas kita, laba kita sama dengan tahun lalu,” jelas Sunarso.
Sunarso pun menyoroti aspek terpenting dalam menjaga keberlanjutan operasional bank adalah kecukupan modal atau Capital Adequacy Ratio (CAR). Hal ini lantaran, CAR alias rasio Kewajiban Penyediaan Modal Minimum (KPMM) BRI yang tinggi kian menunjukkan fondasi yang kuat untuk ekspansi bisnis dan mitigasi risiko.
Adapun, CAR BRI tercatat lebih dari 26%, jauh di atas threshold Basel III. Padahal, kata Sunarso, untuk menutupi segala risiko sesuai ketentuan, sebenarnya BRI hanya membutuhkan CAR sebesar 17,5%.
"Dengan CAR 26%, itu berarti kami memiliki ruang lebih dari 7% untuk penggunaan modal. Ini menunjukkan bahwa selama lima tahun ke depan, berapa pun laba yang dihasilkan, BRI tidak perlu menahan laba untuk memperkuat modal dan berapapun laba BRI memang harus dibagi,” beber Sunarso.
Editor: Nida Sahara
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read Now






