Saham Indosat (ISAT) Punya Potensi Cuan 90%, meski Target Harga Dipangkas
JAKARTA, investor.id – PT Indosat Tbk (ISAT) membukukan laba bersih 2024 sebesar Rp 4,9 triliun, naik 38,1% yoy, namun hanya memenuhi 92,6% dan 94,6% dari estimasi BRI Danareksa Sekuritas dan konsensus. Itu artinya, laba bersih Indosat meleset alias berada di bawah ekspektasi.
Adapun laba bersih Indosat pada kuartal IV-2024 terbilang lemah sebesar Rp 1,1 triliun, turun 3,4% qoq atau terpangkas 19,2% yoy. “Laba tertekan oleh penurunan margin EBITDA sebesar 230 bps qoq menjadi 45,3%, jauh di bawah panduan perusahaan,” tulis analis BRI Danareksa Sekuritas, Niko Margaronis dan Kafi Ananta dalam risetnya.
Sementara itu, pendapatan Indosat pada 2024 mencapai Rp 55,9 triliun atau sesuai perkiraan. Sedangkan EBITDA emiten berkode saham ISAT tersebut sebesar Rp 26,4 triliun, yang secara garis besar sejalan yaitu 97,3% dan 98,2% dari estimasi.
Namun, pendapatan ISAT pada kuartal IV-2024 hanya naik tipis 1,7% qoq atau 2,2% yoy menjadi Rp 14,1 triliun. Manajemen ISAT menyebut persaingan ketat di tingkat kartu perdana sebagai penyebab utama. Harga turun dari Rp 25.000 menjadi Rp 10.000 secara nasional. Ditambah, lemahnya permintaan konsumen.
Baca Juga:
BBCA Punya Target Harga Baru, TurunKarena itu, ISAT mempertahankan basis pelanggan produktifnya yang sebanyak 94,7 juta, sambil mengurangi 4 juta pelanggan yang tidak produktif dan meningkatkan rata-rata pendapatan per pengguna (average revenue per user/ARPU) menjadi Rp 38,8 ribu (+4,6% qoq).
“Bersamaan dengan itu, ISAT terus fokus pada proyek B2B (business to business) dan grosir, yang mendorong peningkatan biaya operasional (opex) terkait instalasi, kemitraan, dan pemeliharaan,” ungkap Niko.
Tahun ini, Indosat (ISAT) optimistis bisa kembali melampaui rata-rata pertumbuhan pendapatan di sektor telekomunikasi. Ekspektasi itu bakal didukung oleh ekspansi seluler di pedesaan, peningkatan ARPU dan pengguna aktif bulanan (MAU), serta penjualan silang layanan fixed broadband (BB) dan fixed wireless access (FWA).
Selain itu, ISAT akan mulai membukukan pendapatan dari kontrak AI senilai US$ 30 juta per tahun mulai kuartal II-2025. “Dengan fokus yang lebih kuat pada bisnis non-seluler, ISAT memperkirakan EBITDA 2025 tumbuh lebih dari 10% yoy,” sebut Niko.
Rekomendasi Saham dan Potensi Cuan
Editor: Jauhari Mahardhika
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read Now






