Rekap Fokus WSKT, WIKA, ADHI, dan PTPP di 2025
Selanjutnya, PT Wijaya Karya Tbk (WIKA). Direktur Utama WIKA Agung Budi Waskito menyampaikan, WIKA telah menyiapkan tiga langkah utama untuk menghadapi tahun buku 2025, terutama di tengah sentimen efisiensi anggaran infrastruktur dan penghentian proyek multiyears.
1. Divestasi Aset
Sama seperti Waskita, tahun ini emiten bersandi saham WIKA tersebut juga fokus menjual aset baik berupa aset jalan tol maupun non tol. Beberapa aset yang bakal dilepas meliputi Tol Soreang-Pasir Koja (Soroja), Manado-Bitung (Mabit), Bali Mandara, sampai Tol Serang-Panimbang (Serpan). Termasuk, perseroan akan memproses divestasi untuk aset SPAM Jatiluhur.
Menurut Agung, divestasi tersebut akan mengurangi beban investasi WIKA sekaligus memberikan dana tunai untuk memperkuat modal dan penyelesaian kewajiban.
2. Tata ulang portofolio
Wika akan menata ulang portofolio WIKA Group dengan cara menghapus cucu usaha yang tidak sesuai dengan bisnis inti perusahaan. Sebab, menurut Agung, jumlah cucu usaha WIKA terlalu banyak, sehingga dengan penghapusan tersebut diharapkan dapat membuat WIKA lebih fokus kepada bisnis inti.
3. Efisiensi operasi
Agung juga menyebut, WIKA fokus melakukan efisiensi operasi bisnis pada tahun ini. mulai dari efisiensi remunerasi, pemasaran, sponsorship, sampai konsultan dan sebagainya. Namun, WIKA menegaskan tidak melakukan pemutusan hubungan kerja alias PHK karyawan.
4. Turunkan utang
WIKA menargetkan kewajiban keuangan perseroan terus menurun pada tahun ini. Budi mengekspektasikan, utang berbunga WIKA turun menjadi Rp 25 triliun dibanding sebelumnya Rp 27,4 triliun. Begitupun dengan utang mitra diharapkan berkurang menjadi Rp 1,3 triliun dari sebelumnya Rp 2,2 triliun.
Adhi Karya
ADHI mengantisipasi perubahan kebijakan pemerintah memotong anggaran infrastruktur dengan mengalihkan perhatiannya kepada pasar hilirisasi seperti ketahanan pangan dan energi. Direktur Utama Adhi Karya Entus Asnawi Mukshon menyampaikan, ADHI telah mengantisipasi perubahan tersebut melalui program-program yang akan dilaksanakan ke depan.
1. Minta PMN
Permohonan PMN tersebut diajukan sebagai tambahan setoran modal untuk BUJT Tol Jogja-Solo dan Tol Jogja-Bawen, seiring dengan adanya perubahan kepemilikan di proyek jalan beban hambatan tersebut. PMN tersebut juga bertujuan untuk meningkatkan proporsi recurring income untuk menciptakan stabilitas pendapatan dan mengurangi eksposur risiko ketergantungan terhadap kontrak pemerintah.
2. Tagih Piutang
ADHI menagih piutang proyek LRT Jabodebek sebesar Rp 2,1 triliun kepada pemerintah dalam hal ini Kementerian Perhubungan (Kemenhub) yang sudah beroperasi dari Cibubur ke Cawang Dukuh Atas dan Bekasi Timur. Entus mengungkapkan, proses penagihan tersebut sudah berjalan dan kini tinggal dibayarkan. Sebab, ADHI dan Kemenhub sudah bertemu dengan Kementerian Keuangan (Kemenkeu).
3. Penjaminan Pemerintah atas Obligasi
Dengan tantangan yang dihadapi dalam proses refinancing utang jatuh tempo, penjaminan pemerintah dalam penerbitan surat utang akan membantu meningkatkan kepercayaan investor terhadap instrumen utang yang diterbitkan ADHI.
PTPP
BUMN Karya terakhir yang akan fokus melakukan refocusing pada tahun-tahun ke depan. Direktur Utama PT PP Tbk, Novel Arsyad, menyebut bahwa refocusing tersebut bukan hanya pada Grup PTPP, tetapi anak usaha PTPP, PT PP Presisi Tbk (PPRE), yang akan fokus mengerjakan infrastruktur tambang
1. Kembali ke bisnis inti
Novel menjelaskan, saat ini PTPP sudah kembali pada bisnis konstruksi sebagai bisnis inti (core business) perseroan. Bisnis konstruksi yang menjadi area utama PTPP meliputi konstruksi gedung, infrastruktur jalan dan jembatan, serta Engineering Procurement & Construction (EPC).
2. Perkuat teknologi
PTPP memperkuat teknologi diimbangi dengan perbaikan teknologi. Novel meyakini, dengan melakukan improvisasi teknologi, PTPP akan memiliki diferensiasi dan bakal mampu menyelesaikan pekerjaan lebih cepat sehingga menjadi lebih kompetitif dibanding kontraktor lain.
3. Ekspansi bisnis Tambang
PTPP selaku induk sudah dan akan terus mengarahkan PP Presisi dan PT Lancarjaya Mandiri Abadi (LMA) untuk menggarap pekerjaan infrastruktur tambang seperti hauling road yang kini sudah bermunculan teknologinya. Tujuannya, agar PP Presisi dan LMA tidak menggarap pekerjaan seperti jalan dan jembatan yang merupakan domain PTPP.
Editor: Muawwan Daelami
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read Now






