Tren bullish Harga Emas Kian Kuat, Dekati Rekor Tertinggi
JAKARTA, investor.id - Tren bullish masih mendominasi harga emas. Terlihat dari terus menguatkanya harga emas pada Kamis (13/3/2025), dan diprediksi mampu mendekati level rekor tertinggi sepanjang masa (all time high/ATH).
Harga emas terlihat naik 0,38% menjadi US$ 2.944,6 saat berita ini ditulis.
Baca Juga:
Nasib Harga Emas Kenapa Seperti Ini?Analisis Dupoin Indonesia Andy Nugraha mengatakan, harga emas terus melaju dan mendekati rekor tertingginya yang tercatat di level US$ 2.956 yang tercatat pada 24 Februari lalu. Meskipun imbal hasil obligasi pemerintah AS yang tinggi serta penguatan Dolar AS memberikan tekanan.
“Tren bullish masih mendominasi harga emas, didukung oleh pola candlestick dan indikator Moving Average yang terbentuk saat ini. Prediksi hari ini menunjukkan bahwa harga emas berpotensi melanjutkan kenaikan hingga mencapai level $2.956,” ungkapnya, Kamis (13/3/2025).
Namun, lanjut Andy, jika harga mengalami kegagalan dalam mempertahankan momentum bullish dan terjadi reversal, maka harga emas dapat turun hingga US$ 2.910 sebagai target penurunan terdekat. “Faktor utama yang mendukung pergerakan ini adalah ekspektasi pemangkasan suku bunga oleh The Fed setelah data inflasi AS yang lebih rendah dari proyeksi,” tambahnya.
Biro Statistik Tenaga Kerja AS (BLS) melaporkan bahwa inflasi konsumen di AS mengalami sedikit penurunan pada bulan Februari. Namun, para investor tetap berhati-hati terhadap perkembangan ini karena kebijakan tarif agresif pada impor AS dapat memicu gelombang inflasi baru. “Meskipun demikian, peluang pemangkasan suku bunga The Fed hingga tiga kali pada 2025 semakin terbuka, memberikan dorongan positif bagi harga emas,” tambah Andy.
Di sisi lain, Indeks Dolar AS (DXY) mencatat kenaikan 0,14% menjadi 103,55, sementara imbal hasil obligasi AS bertenor 10 tahun naik tiga basis poin menjadi 4,314%. Kenaikan ini membatasi potensi lonjakan harga emas lebih lanjut. Selain itu, tarif impor sebesar 25% terhadap baja dan aluminium yang mulai berlaku pada hari Rabu juga menjadi faktor yang dapat meningkatkan ketidakpastian ekonomi global.
Permintaan Emas
Dari sisi permintaan, Andy menyebut, World Gold Council (WGC) melaporkan bahwa bank sentral global terus melakukan pembelian emas dalam jumlah besar. Bank Rakyat China (PBoC) dan Bank Nasional Polandia (NBP) masing-masing menambah 10 dan 29 ton emas dalam dua bulan pertama 2025.
“Faktor ini turut memperkuat prospek bullish bagi harga emas dalam jangka menengah hingga panjang. Dengan latar belakang ini, emas berpotensi menguji level psikologis US$ 2.950 dalam waktu dekat,” tambah Andy.
Menurut Andy, para pelaku pasar kini akan mencermati rilis data ekonomi lebih lanjut, termasuk Indeks Harga Produsen (IHP) AS, Klaim Tunjangan Pengangguran Awal, serta Sentimen Konsumen Universitas Michigan (UoM) yang dapat memberikan gambaran lebih jelas mengenai prospek kebijakan moneter The Fed.
“Jika data-data ini mengindikasikan pelemahan lebih lanjut dalam ekonomi AS, maka peluang emas untuk terus menguat semakin terbuka.
Dengan berbagai faktor pendukung, Andy menegaskan, prospek harga emas hari ini tetap cenderung bullish. Namun, investor perlu waspada terhadap potensi koreksi jika terjadi tekanan dari kenaikan imbal hasil obligasi dan penguatan Dolar AS yang lebih lanjut. “Sebagai aset safe-haven, emas masih menjadi pilihan utama di tengah ketidakpastian ekonomi global,” tutupnya.
Editor: Indah Handayani
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read Now






