Jumat, 15 Mei 2026

Indeks Anjlok, Cermat Memilih Investasi  

Penulis : Harso Kurniawan
19 Mar 2025 | 21:50 WIB
BAGIKAN
Penggiat bursa memantau pergerakan saham. (B-Universe Photo/Joanito De Saojoao)
Penggiat bursa memantau pergerakan saham. (B-Universe Photo/Joanito De Saojoao)

JAKARTA, Investor.id – Mengakhiri kuartal I tahun ini, pasar keuangan Indonesia semakin tertekan. Gejolak global ditambah sejumlah ketidakpastian yang terjadi didalam negeri telah menekan pasar saham dan nilai tukar. Diperlukan kecermatan ekstra untuk memilih investasi yang aman dan tetap mampu menghasilkan cuan.  

Berbagai kebijakan tarif Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump diperkirakan memberi tekanan terhadap inflasi di negara itu, sehingga hal ini akan berpengaruh terhadap suku bunga di negara berkembang yang akan sulit dipangkas. Akibat perang dagang ini, Indonesia juga dapat dirugikan oleh dumping dari China yang mengalami kesulitan ekspor ke Amerika.  

Turunnya peringkat saham dan rating Indonesia yang dilakukan oleh beberapa perusahan investasi internasional semakin memperparah tekanan terhadap indeks dan rupiah. Hantaman PHK yang dilakukan sejumlah perusahaan di dalam negeri, ditambah deflasi menjadi ancaman terhadap tingkat konsumsi masyarakat kedepan yang pada akhirnya akan memperlambat laju perekonomian.

ADVERTISEMENT

 ''Keberadaan Danantara yang sarat dengan intervensi politik dan terungkapnya sejumlah kasus korupsi besar serta upaya revisi terhadap RUU TNI menambah kekhawatiran investor asing terhadap transparansi di Indonesia,'' ungkap Managing Director Research and Digital Production PT Samuel Sekuritas Indonesia Harry Su, Rabu (19/3/2025). 

Apalagi, dia menegaskan, sekarang sudah mendekati libur Lebaran. Berbagai faktor ini menyebabkan terjadinya aksi jual di pasar saham.  Sebelum penutupan perdagangan sesi pertama Selasa (18/3/2025), Bursa Efek Indonesia (BEI) telah melakukan pembekuan sementara perdagangan atau trading halt, yang dipicu oleh penurunan indeks mencapai 5%. Hal ini mengacu kepada ketentuan yang telah ditetapkan oleh BEI.  

Samuel Sekuritas memperkirakan indeks harga saham gabungan (IHSG) berada di level 7.300 dan nilai tukar Rp 16.600 per dolar AS pada akhir 2025.   Dengan berbagai tekanan yang terjadi, dia menyatakan, sejumlah saham yang masih layak untuk dikonsumsi di antaranya PT Indofood CBP Tbk (ICBP), PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk (AMRT), dan PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk (JPFA).

“Kami juga menganjurkan investor untuk mengoleksi saham yang memberikan dividen tinggi seperti PT Astra International Tbk (ASII), PT HM Sampoerna Tbk (HMSP), dan PT Unilever Indonesia Tbk (UNVR),” papar Harry.  Dia menegaskan, untuk sementara hindari saham-saham dari sektor teknologi, semen, infrastruktur dan energi terbarukan, dan jangan menempatkan investasi hanya dalam satu instrumen saja dalam kondisi pasar yang penuh volatilitas. Selain saham, obligasi dan emas juga layak untuk dikoleksi. 

Investasi Alternatif 

Editor: Harso Kurniawan

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkait


Berita Terkini


National 6 jam yang lalu

Menhut Antoni Ajak Pemimpin Dunia Perkuat Multilateralisme untuk Lindungi Hutan Dunia

Menhut RI Raja Juli Antoni ajak rimbawan dan pemimpin dunia perkuat multilteralisme dan soliditas untuk lestarikan dan lindungi hutan dunia.
National 6 jam yang lalu

KPK Dalami Aliran Uang Urus Pita Cukai Rokok dan Miras ke Pegawai DJBC Ahmad Dedi

KPK terus mendalami aliran uang kepada pegawai DJBC Ahmad Dedi (Dedi Congor) yang diduga terkait pengurusan pita cukai rokok dan miras.
Market 7 jam yang lalu

Saham-saham Penyangga Pasar

Terdapat 10 saham paling berpengaruh terhadap pergerakan IHSG. Ada saham SMMA, BRMS, INCO, dan lain-lain.
Market 7 jam yang lalu

Barisan Saham yang Bikin Investor Tekor Parah

Sebanyak 10 saham jadi penyebab investor tekor parah pada perdagangan pasar pekan ini. Harga sahamnya ambles dari 19% hingga 37%.
Market 8 jam yang lalu

Deretan Saham Pencetak Cuan Jumbo

Sejumlah saham mencetak cuan jumbo dan masuk daftar top gainers selama periode 11-13 Mei 2026.
Macroeconomy 8 jam yang lalu

Rupiah Rp 17.500, Warga Serbu Money Changer

Rupiah melemah lagi ke Rp 17.526 per dolar AS. Money changer di Jakarta ramai didatangi warga untuk jual-beli valuta asing.
Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia