Jumat, 15 Mei 2026

Ada Tarif Trump, Jangan Buru-buru Cut Loss Saham

Penulis : Thresa Sandra Desfika
7 Apr 2025 | 18:56 WIB
BAGIKAN
Pengunjung berada di mainhall BEI, Jakarta. (Investor Daily/David Gita Roza)
Pengunjung berada di mainhall BEI, Jakarta. (Investor Daily/David Gita Roza)

JAKARTA, investor.id - Pidato Presiden Amerika Serikat Donald Trump pada 2 April 2025 mengenai kenaikan tarif impor secara resiprokal terhadap sejumlah negara mitra dagang telah memicu gejolak di pasar keuangan global.

Merespons sentimen ini, sejumlah indeks saham bursa-bursa utama dunia mengalami koreksi tajam, terutama di bursa-bursa negara maju seperti Amerika Serikat, Jerman, dan Jepang.

Sementara itu dampak sentimen tersebut belum terlihat di indeks harga saham gabungan (IHSG) karena BEI baru akan kembali membuka perdagangan saham pasca libur Idulfitri yaitu pada Selasa, 8 April 2025.

Ekonom dan Praktisi Pasar Modal, Hans Kwee mengungkapkan bahwa kebijakan tarif impor yang diumumkan tersebut lebih condong memberikan sentimen terbatas yang akan memengaruhi pasar modal Indonesia.

ADVERTISEMENT

“Kita kena dampaknya relatif lebih terbatas karena emiten kita yang ekspornya ke Amerika tidak banyak atau dengan kata lain kita kurang mengandalkan ekspor-impor,” ujar Hans pada Senin (7/4/2025).

Terlebih, Hans menyebutkan bahwa Indonesia lebih mengandalkan ekonomi atau konsumsi dalam negeri sehingga seharusnya dampaknya lebih relatif. Adapun, yang perlu diwaspadai adalah putaran kedua, di mana adanya kemungkinan pembalasan tarif dari negara-negara lain yang berujung pada perang tarif.

“Pembalasan tarif kemudian akan dibalas Amerika dengan tarif sehingga ini akan berdampak pada perlambatan pertumbuhan ekonomi dunia yang sentimennya kurang baik bagi pasar saham kita,” tambahnya.

Adapun, sejumlah indeks saham negara-negara di Asia Pasifik mengalami penurunan signifikan sejak pengumuman kebijakan tarif oleh Donald Trump.

Per 7 April 2025, indeks Hong Kong turun hingga lebih dari 10%, indeks Shanghai turun hingga 7%, dan indeks Korea Selatan turun hingga 5%.

Hans melihat pergerakan IHSG pada hari pertama perdagangan setelah libur panjang Idulfitri kemungkinan akan bergerak terbatas akibat efek kejut sehingga berpotensi turun terlebih dahulu.

“Kemungkinan pasar saham kita akan bergerak relatif terbatas kemudian dalam beberapa pekan ke depan rebalancing portofolio asing telah berakhir di Maret sehingga tekanan jual berkurang di pasar kita,” jelas Hans.

Tak Perlu Segera Cut Loss

Editor: Theresa Sandra Desfika

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkait


Berita Terkini


Market 8 menit yang lalu

Harga Emas Terkoreksi Buntut Data Konsumen AS

Pasar emas terus mempertahankan dukungan kritis tetapi tidak menunjukkan reaksi besar terhadap data ekonomi terbaru AS.
Market 19 menit yang lalu

Harga Perak Antam (ANTM) Hari Ini, Jumat 15 Mei 2026: Longsor Dalam

Harga perak Antam (ANTM) hari ini pada Jumat (15/5/2026) terpantau longsor dalam. Harga perak Antam menurun ke level ini
Market 23 menit yang lalu

Harga Emas Antam (ANTM) Hari Ini, Jumat 15 Mei 2026: Merosot Lagi

Harga emas Antam (ANTM) terpantau pada Jumat (15/5/2026) kembali merosot. Cek juga harga beli kembali (buyback) emas Antam
Market 1 jam yang lalu

DPR Soroti Kepercayaan Pasar di Tengah Tekanan Rupiah

Anggota Komisi XI DPR Marwan Cik Asan mendorong pemerintah dan BI menjaga kepercayaan pasar di tengah tekanan terhadap rupiah.
Market 1 jam yang lalu

Ujian Berat bagi Saham BUMI

Saham Bumi Resources (BUMI) menjadi salah satu yang banyak dilego oleh investor asing. Ini menandai tekanan terhadap saham BUMI berlanjut.
Business 2 jam yang lalu

Wamen Investasi Angkat Bicara Soal Keluhan dari Pelaku Usaha China

Wakil Menteri Investasi, Todotua Pasaribu angkat suara perihal keluhan dari pengusaha China terkait hambatan berinvestasi di Indonesia.
Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia