Jumat, 15 Mei 2026

Sejarah Pasar Saham Bakal Terulang?

Penulis : Thresa Sandra Desfika
9 Apr 2025 | 06:35 WIB
BAGIKAN
Investor memantau pergerakan saham melalui aplikasi. (Investor Daily/David Gita Roza)
Investor memantau pergerakan saham melalui aplikasi. (Investor Daily/David Gita Roza)

JAKARTA, investor.id - Indeks harga saham gabungan (IHSG) ditutup longsor ke level 5996,142 (-7,902%) pada perdagangan Selasa (8/4/2025) kemarin, perdana setelah libur panjang.

Phintraco Sekuritas menyebut hampir seluruh indeks sektoral berada di zona merah, dengan sektor basic material (-10,54%) mencatatkan koreksi terdalam. Sektor teknologi (-10,23%) menyusul di posisi kedua, diikuti oleh sektor siklikal (-8,82%) di posisi ketiga.

Selain itu, tekanan juga datang dari pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS yang bergerak ke level Rp 16.860 (+1,84%) pada penutupan perdagangan sore kemarin.

ADVERTISEMENT

“Dengan mempertimbangkan kondisi sentimen yang ada, kami memperkirakan IHSG akan bergerak dalam rentang panjang 5.800-6.400 pada perdagangan Rabu (9/4/2025),” terang Phintraco Sekuritas dalam analisis hariannya dikutip 9 April.

Sementara itu, Stockbit Sekuritas melihat secara umum, perang dagang akan berdampak negatif terhadap ekspor Indonesia, baik secara langsung (meningkatkan harga jual dan mengurangi permintaan produk yang dikenakan tarif) maupun secara tidak langsung (pelemahan ekonomi global akibat perang dagang yang mengurangi ekspor Indonesia secara keseluruhan).

Meski terdapat kesempatan bagi Indonesia untuk meningkatkan/mengambil pangsa pasar dari negara-negara yang terkena tarif lebih tinggi – sehingga menyebabkan ekspor mereka menjadi kurang kompetitif relatif terhadap Indonesia – hal tersebut masih akan bergantung kepada negosiasi-negosiasi yang dilakukan antara berbagai negara (termasuk Indonesia) dengan AS nantinya.

Sejarah

Stockbit Sekuritas menyarankan investor untuk menghindari panic sell dan stay invested jika investor percaya bahwa saham yang diinvestasikan memiliki fundamental yang baik.

“Sejarah menunjukkan bahwa market dapat kembali pulih dari krisis, seperti pada 2008 dan 2020,” ungkap ulasan Stockbit Sekuritas.

Selain itu, memiliki portofolio yang terdiversifikasi di berbagai kelas aset dapat membantu meminimalkan dampak volatilitas pasar.

“Investor dapat mempertimbangkan obligasi pemerintah jangka pendek yang memiliki volatilitas lebih rendah – seperti PBS003 dan ST014–T2 – atau reksa dana pasar uang,” pungkas Stockbit.

Editor: Theresa Sandra Desfika

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkait


Berita Terkini


Market 15 menit yang lalu

DPR Soroti Kepercayaan Pasar di Tengah Tekanan Rupiah

Anggota Komisi XI DPR Marwan Cik Asan mendorong pemerintah dan BI menjaga kepercayaan pasar di tengah tekanan terhadap rupiah.
Market 19 menit yang lalu

Ujian Berat bagi Saham BUMI

Saham Bumi Resources (BUMI) menjadi salah satu yang banyak dilego oleh investor asing. Ini menandai tekanan terhadap saham BUMI berlanjut.
Business 1 jam yang lalu

Wamen Investasi Angkat Bicara Soal Keluhan dari Pelaku Usaha China

Wakil Menteri Investasi, Todotua Pasaribu angkat suara perihal keluhan dari pengusaha China terkait hambatan berinvestasi di Indonesia.
Market 1 jam yang lalu

Harga Emas Perhiasan Hari Ini, Jumat 15 Mei 2026, Cek Rinciannya

Harga emas perhiasan hari ini, Jumat (15/5/2026) di Raja Emas Indonesia, Hartadinata Abadi, dan Laku Emas dalam berbagai karat
Market 2 jam yang lalu

Duit Asing Tumpah ke Saham ADRO

Di tengah gencarnya aksi jual investor asing, ternyata diam-diam duit asing masuk ke saham Alamtri Resources Indonesia (ADRO).
Multimedia 2 jam yang lalu

Kandungan Santan Mirip ASI? Cek Faktanya! | Cuan Iki Podcast

Limbah kelapa, ternyata adalah "harta karun" yang diburu pasar Eropa dan Asia? Keresahan akan banyaknya sabut kelapa yang terbuang sia-sia di Indonesia
Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia