Sejarah Pasar Saham Bakal Terulang?
JAKARTA, investor.id - Indeks harga saham gabungan (IHSG) ditutup longsor ke level 5996,142 (-7,902%) pada perdagangan Selasa (8/4/2025) kemarin, perdana setelah libur panjang.
Phintraco Sekuritas menyebut hampir seluruh indeks sektoral berada di zona merah, dengan sektor basic material (-10,54%) mencatatkan koreksi terdalam. Sektor teknologi (-10,23%) menyusul di posisi kedua, diikuti oleh sektor siklikal (-8,82%) di posisi ketiga.
Selain itu, tekanan juga datang dari pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS yang bergerak ke level Rp 16.860 (+1,84%) pada penutupan perdagangan sore kemarin.
“Dengan mempertimbangkan kondisi sentimen yang ada, kami memperkirakan IHSG akan bergerak dalam rentang panjang 5.800-6.400 pada perdagangan Rabu (9/4/2025),” terang Phintraco Sekuritas dalam analisis hariannya dikutip 9 April.
Sementara itu, Stockbit Sekuritas melihat secara umum, perang dagang akan berdampak negatif terhadap ekspor Indonesia, baik secara langsung (meningkatkan harga jual dan mengurangi permintaan produk yang dikenakan tarif) maupun secara tidak langsung (pelemahan ekonomi global akibat perang dagang yang mengurangi ekspor Indonesia secara keseluruhan).
Meski terdapat kesempatan bagi Indonesia untuk meningkatkan/mengambil pangsa pasar dari negara-negara yang terkena tarif lebih tinggi – sehingga menyebabkan ekspor mereka menjadi kurang kompetitif relatif terhadap Indonesia – hal tersebut masih akan bergantung kepada negosiasi-negosiasi yang dilakukan antara berbagai negara (termasuk Indonesia) dengan AS nantinya.
Sejarah
Stockbit Sekuritas menyarankan investor untuk menghindari panic sell dan stay invested jika investor percaya bahwa saham yang diinvestasikan memiliki fundamental yang baik.
“Sejarah menunjukkan bahwa market dapat kembali pulih dari krisis, seperti pada 2008 dan 2020,” ungkap ulasan Stockbit Sekuritas.
Selain itu, memiliki portofolio yang terdiversifikasi di berbagai kelas aset dapat membantu meminimalkan dampak volatilitas pasar.
“Investor dapat mempertimbangkan obligasi pemerintah jangka pendek yang memiliki volatilitas lebih rendah – seperti PBS003 dan ST014–T2 – atau reksa dana pasar uang,” pungkas Stockbit.
Editor: Theresa Sandra Desfika
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read Now






