Jumat, 15 Mei 2026

BBCA BMRI Katanya Bisa Segini

Penulis : Ghafur Fadillah
9 Apr 2025 | 07:01 WIB
BAGIKAN
Pialang di sebuah sekuritas. (Investor Daily/David Gita Roza)
Pialang di sebuah sekuritas. (Investor Daily/David Gita Roza)

JAKARTA, investor.id - VP, Head of Marketing, Strategy & Planning Kiwoom Sekuritas Indonesia Oktavianus Audi Kasmarandana menilai sejumlah faktor fundamental makroekonomi mendukung potensi pemulihan indeks harga saham gabungan (IHSG).

“Kami meyakini pasar modal Indonesia memiliki peluang pertumbuhan yang menjanjikan, seiring dengan rendahnya risiko resesi domestik, peringkat utang yang tetap investment grade, serta potensi bonus demografi hingga 2045,” ujar Oktavianus kepada Investor.id, Selasa (8/4/2025).

Ia menjelaskan, berdasarkan data Bloomberg, peluang terjadinya resesi di Indonesia hanya sekitar 5%, sejalan dengan rasio utang terhadap PDB (debt-to-GDP) yang masih terkendali di kisaran 38–41%.

Selain itu, Indonesia mempertahankan peringkat utang investment grade dengan prospek stabil dari lembaga pemeringkat internasional seperti Fitch dan S&P. “Kondisi ini menjadi fondasi kuat bagi pasar keuangan domestik,” tambahnya.

ADVERTISEMENT

Oktavianus menilai bahwa siklus ekonomi saat ini bisa menjadi peluang bagi pasar modal apabila dibarengi kebijakan strategis dari pemerintah, khususnya dalam menjaga stabilitas pertumbuhan ekonomi, penguatan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS, serta pengendalian inflasi.

Adapun dalam jangka pendek, pihaknya memperkirakan volatilitas pasar akan meningkat, sehingga rentang pergerakan IHSG menjadi lebih lebar pada kuartal II-2025. Target IHSG dikelompokkan dalam tiga skenario, pertama yakni skenario optimistis di mana indeks bisa bangkit pada rentang 6.750 - 6.800, lalu skenario moderat dengan proyeksi pergerakan indeks di level 6.560 - 6.600 dan juga skenario pesimistis dimana indeks kembali melanjutkan koreksi hingga level 5.750.

“Kami berpandangan tekanan pasar akan berlangsung dalam jangka pendek hingga menengah, tetapi akan mulai mereda jika terjadi penguatan rupiah, implementasi kebijakan pro-pasar, relaksasi suku bunga global, serta rilis kinerja emiten - khususnya blue chip - yang tetap resilien,” ujarnya.

Ia merujuk pada data CME FedWatch per 8 April 2025 yang memperkirakan probabilitas pemangkasan suku bunga acuan AS hingga Desember 2025 ke level 3,5 - 3,75% berada di atas 50%.

BBCA BMRI Cs

Editor: Theresa Sandra Desfika

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkait


Berita Terkini


Market 16 menit yang lalu

DPR Soroti Kepercayaan Pasar di Tengah Tekanan Rupiah

Anggota Komisi XI DPR Marwan Cik Asan mendorong pemerintah dan BI menjaga kepercayaan pasar di tengah tekanan terhadap rupiah.
Market 20 menit yang lalu

Ujian Berat bagi Saham BUMI

Saham Bumi Resources (BUMI) menjadi salah satu yang banyak dilego oleh investor asing. Ini menandai tekanan terhadap saham BUMI berlanjut.
Business 1 jam yang lalu

Wamen Investasi Angkat Bicara Soal Keluhan dari Pelaku Usaha China

Wakil Menteri Investasi, Todotua Pasaribu angkat suara perihal keluhan dari pengusaha China terkait hambatan berinvestasi di Indonesia.
Market 1 jam yang lalu

Harga Emas Perhiasan Hari Ini, Jumat 15 Mei 2026, Cek Rinciannya

Harga emas perhiasan hari ini, Jumat (15/5/2026) di Raja Emas Indonesia, Hartadinata Abadi, dan Laku Emas dalam berbagai karat
Market 2 jam yang lalu

Duit Asing Tumpah ke Saham ADRO

Di tengah gencarnya aksi jual investor asing, ternyata diam-diam duit asing masuk ke saham Alamtri Resources Indonesia (ADRO).
Multimedia 2 jam yang lalu

Kandungan Santan Mirip ASI? Cek Faktanya! | Cuan Iki Podcast

Limbah kelapa, ternyata adalah "harta karun" yang diburu pasar Eropa dan Asia? Keresahan akan banyaknya sabut kelapa yang terbuang sia-sia di Indonesia
Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia