Pilih Saham atau Emas?
JAKARTA, investor.id - Indeks harga saham gabungan (IHSG) terjun bebas pada perdagangan Selasa (8/4/2025), seiring meningkatnya kekhawatiran investor terhadap eskalasi kebijakan proteksionis Amerika Serikat.
IHSG ditutup anjlok 514,48 poin atau minus 7,90% ke level 5.996,14. Ini menjadi penurunan harian terdalam dalam beberapa tahun terakhir, sekaligus menempatkan indeks di bawah level psikologis 6.000.
Pendiri Stocknow.id Hendra Wardana mengatakan koreksi tajam IHSG kemariin sebagai salah satu yang terdalam dalam beberapa tahun terakhir.
“Sentimen utama datang dari kebijakan mengejutkan Presiden Trump yang menaikkan tarif hingga 32% ke negara berkembang, termasuk Indonesia,” kata Hendra, Selasa (8/4/2025).
Meski ekspor Indonesia ke AS hanya sekitar 9,9% dari total, ia menilai pasar merespons secara berlebihan karena kekhawatiran terhadap dampak luas ketegangan dagang global.
Namun, Hendra menilai bahwa koreksi ini tidak mencerminkan kerusakan fundamental.
“Pertumbuhan ekonomi kita masih stabil di kisaran 5%, neraca dagang surplus, dan emiten besar tetap mencatatkan kinerja solid. Bahkan, penurunan harga minyak hingga 21% justru bisa jadi berkah bagi kita sebagai importir,” ujarnya.
Secara teknikal, Hendra memetakan support IHSG berada di kisaran 5.945–6.045, dengan level krusial selanjutnya di 5.500–5.636. “Technical rebound masih terbuka, apalagi jika ada sinyal kuat dari pemerintah untuk memilih diplomasi ketimbang retaliasi,” katanya.
Ia menilai pendekatan Presiden Prabowo untuk membuka jalur negosiasi justru akan dipandang positif oleh investor global.
Saham Vs Emas
Terkait perbandingan dengan emas, Hendra mengakui bahwa logam mulia ini mencetak return impresif dalam lima tahun terakhir, sekitar 84%.
Namun, saham unggulan juga mencatatkan imbal hasil yang kompetitif—tergantung titik masuk.
“Emas cocok untuk lindung nilai, tapi saham tetap unggul untuk akumulasi kekayaan jangka panjang—asal selektif dan konsisten,” katanya, Selasa (9/4/2025)
Adapun menurut Felix, dalam kondisi ini, investasi pada instrumen seperti emas bisa dipertimbagkan lantaran emas menunjukkan kinerja stabil dengan imbal hasil tahunan di kisaran 13–28%.
Baca Juga:
Takdir Harga Emas Diramal Seperti IniNamun, bagi investor yang mencari potensi keuntungan lebih tinggi, saham tetap menjadi pilihan dengan prospek jangka panjang, meskipun volatilitasnya lebih tinggi.
Senada, Audi juga mencermati kinerja emas yang secara akumulatif mencatatkan return sekitar 88% dalam beberapa tahun terakhir.
“Kondisi global seperti pandemi Covid-19 dan perang dagang telah mendorong investor mengalihkan portofolio ke aset lindung nilai (safe haven) seperti emas, dibandingkan saham yang berisiko tinggi,” ujarnya.
Namun demikian, pasar saham tetap memberikan peluang bagi investor jangka panjang, terutama jika fokus pada strategi yang disiplin dan selektif terhadap emiten berkualitas.
Editor: Theresa Sandra Desfika
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read Now






