Jumat, 15 Mei 2026

Potensi Dividen per Saham Telkom (TLKM)

Penulis : Thresa Sandra Desfika
21 Apr 2025 | 08:43 WIB
BAGIKAN
Kantor PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (Telkom). (Telkom/Istimewa)
Kantor PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (Telkom). (Telkom/Istimewa)

JAKARTA, investor.id - PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM) mencatatkan laba bersih sebesar Rp 5,9 triliun pada 4Q24 (+18% yoy, +1% qoq). Hasil ini membuat laba bersih selama FY24 menjadi Rp 23,6 triliun (-4% yoy), sejalan dengan ekspektasi karena setara 99% dari estimasi FY24F konsensus, jelas Stockbit Sekuritas.

Dengan asumsi dividend payout ratio sekitar 70-80% – mengacu kepada proyeksi dari perseroan yang beredar – TLKM berpotensi membagikan dividen sekitar Rp167–191/saham.

“Itu setara dengan dividend yield sekitar 6,6–7,5% berdasarkan harga saham per Kamis (17/4/2025) di level Rp2.550/lembar,” jelas Stockbit Sekuritas dalam ulasannya, Senin (21/4/2025).

ADVERTISEMENT

TLKM sendiri berencana menggelar RUPS pada 27 Mei 2025 untuk menetapkan pembagian dividen tahun buku FY24.

Laba Usaha

Sementara itu, terang Stockbit, secara operasional TLKM mencatatkan jumlah pelanggan mobile sebesar 159,4 juta pada 4Q24 (+0% yoy, +1% qoq), dengan average revenue per user (ARPU) sebesar Rp 44 ribu (-5% yoy, +2% qoq).

“Meski masih turun secara tahunan, realisasi ini menandai pertumbuhan ARPU secara kuartalan yang pertama sejak mengalami tren penurunan dari titik tertingginya pada 2Q23 di level Rp 49,7 ribu. Kenaikan ARPU secara kuartalan ini menjadi sinyal positif bagi industri operator telekomunikasi di tengah derasnya isu perang harga antar operator selama FY24,” sebut Stockbit.

Di sisi lain, jumlah pelanggan broadband meningkat pada 4Q24 (+8% yoy, +1% qoq), meski ARPU turun ke level Rp 233 ribu (-6% yoy, -1% qoq). Penurunan ARPU segmen broadband ini kemungkinan besar disebabkan oleh strategi fixed mobile convergence (FMC) dan/atau ketatnya persaingan harga di segmen fixed broadband.

Meski metrik operasional membaik secara kuartalan, laba usaha TLKM pada 4Q24 turun ke level Rp 10 triliun (+1% yoy, -6% qoq), utamanya akibat peningkatan biaya marketing menjadi Rp 1,3 triliun (+38% yoy, +36% qoq) guna mendukung kampanye promosi musiman.

“Hasil ini membuat laba usaha TLKM selama FY24 turun ke level Rp 42,4 triliun (-6% yoy), sedikit di bawah ekspektasi (97% dari estimasi FY24F konsensus). Rasio biaya marketing terhadap total pendapatan berada di level 2,6% selama FY24, masih sejalan dengan rata–rata historis di kisaran 2–3%,” ungkap Stockbit Sekuritas.

TLKM juga membukukan keuntungan dari perubahan nilai wajar investasi sebesar Rp 664 miliar pada 4Q24 (vs. 3Q24: untung Rp 381 miliar; 4Q23: rugi Rp 566 miliar), sehingga total keuntungan selama FY24 dari pos ini menjadi Rp 188 miliar (vs. FY23: rugi Rp 748 miliar).

Editor: Theresa Sandra Desfika

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkait


Berita Terkini


Macroeconomy 19 menit yang lalu

Fundamental Ekonomi Kuat, Masyarakat Jangan Panik

Pemerintah secara konsisten melakukan sejumlah pembenahan untuk memperkuat sumber pertumbuhan ekonomi domestik.
Market 51 menit yang lalu

Harga Emas Terkoreksi Buntut Data Konsumen AS

Pasar emas terus mempertahankan dukungan kritis tetapi tidak menunjukkan reaksi besar terhadap data ekonomi terbaru AS.
Market 1 jam yang lalu

Harga Perak Antam (ANTM) Hari Ini, Jumat 15 Mei 2026: Longsor Dalam

Harga perak Antam (ANTM) hari ini pada Jumat (15/5/2026) terpantau longsor dalam. Harga perak Antam menurun ke level ini
Market 1 jam yang lalu

Harga Emas Antam (ANTM) Hari Ini, Jumat 15 Mei 2026: Merosot Lagi

Harga emas Antam (ANTM) terpantau pada Jumat (15/5/2026) kembali merosot. Cek juga harga beli kembali (buyback) emas Antam
Market 2 jam yang lalu

DPR Soroti Kepercayaan Pasar di Tengah Tekanan Rupiah

Anggota Komisi XI DPR Marwan Cik Asan mendorong pemerintah dan BI menjaga kepercayaan pasar di tengah tekanan terhadap rupiah.
Market 2 jam yang lalu

Ujian Berat bagi Saham BUMI

Saham Bumi Resources (BUMI) menjadi salah satu yang banyak dilego oleh investor asing. Ini menandai tekanan terhadap saham BUMI berlanjut.
Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia