Jumat, 15 Mei 2026

Emas dan Batu Bara Diramal Dongkrak Saham hingga 74%

Penulis : Harso Kurniawan
6 Mei 2025 | 16:49 WIB
BAGIKAN
Pengunjung berada di mainhall BEI, Jakarta. (Investor Daily/David Gita Roza)
Pengunjung berada di mainhall BEI, Jakarta. (Investor Daily/David Gita Roza)

JAKARTA, investor.id – PT Indika Energy Tbk (INDY) bersiap menuai imbas positif dari perubahan skema royalti batu bara dan ledakan bisnis emas. Ini akan menjadi katalis kuat saham INDY menuju target harga yang dipatok tinggi dengan rekomendasi positif.

Berdasarkan riset Verdhana Sekuritas Indonesia, Indika memang mencetak penurunan laba bersih 85% menjadi US$ 3 juta kuartal I tahun ini, 9% dari estimasi setahun penuh Verdhana. Namun, margin menunjukkan perbaikan, seiring lebih rendahnya rasio nisbah kupas (striping ratio).

Pada kuartal I-2025, Indika meraup pendapatan US$ 490 juta, turun 14% secara tahunan, seiring turunnya harga jual rata-rata Kideco, anak usaha di sektor batu bara. Namun, produksi batu bara Kideco naik 7% menjadi 7,4 juta ton, sedangkan penjualan 1% menjadi 7,3 juta ton.

ADVERTISEMENT

“Stripping ratio mencapai 5 kali, lebih rendah dari tahun lalu 5,7 kali, sedangkan ASP Indika turun 19% menjadi US$ 54,8 per ton,” tulis Verdhana, dikutip Selasa (6/5/2025). 

Verdhana mencatat, kinerja operasional emiten berkode saham INDY tersebut sesuai dengan proyeksi, sedangkan laba usaha mencapai 21-22% dari proyeksi setahun penuh.

Seiring dengan itu, Verdhana mengerek proyeksi laba bersih INDY tahun 2025 sebesar 113%, lantaran perseroan akan diuntungkan oleh perubahan skema royalti tarif batu bara selaku pemegang izin usaha pertambangan khusus (IUPK).  Perubahan ini akan terasa pada kinerja kuartal II.

“Kami menurunkan proyeksi ASP batu bara, tetapi menaikkan estimasi kontribusi bisnis emas,” tulis broker itu.

Produksi dan Target Harga Saham 

Tahun ini, Verdhana memprediksi Kideco memproduksi batu bara sebanyak 31 juta ton, dengan SR 5,4 kali. Selain itu, proyeksi produksi tambang emas Awakmas direvisi bersama dengan biaya akibat kenaikan royalti.

“Pada saat produksi puncak, kami prediksi Awakmas menghasilkan EBITDA US$ 200 juta, setara dengan bisnis batu bara INDY,” tulis Verdhana.

Verdhana mempertahankan rekomendasi buy saham Indika (INDY) dengan target harga Rp 2.450, mencerminkan PER 2025 sebesar 11 kali, berdasarkan metode sum of the parts (SOTP) dan mencerminkan potensi kenaikan 74%. Proyek tambang emas menyumbangkan SOTP 45%.

Adapun risiko saham INDY adalah volatilitas harga batu bara, eksekusi proyek emas, dan perubahan kebijakan pertambangan. 

Sebelumnya, Sucor Sekuritas mempertahankan rekomendasi buy saham PT Adaro Andalan Indonesia Tbk (AADI) dan INDY dengan target harga fantastis, masing-masing Rp 30.100 dan Rp 3.100. Kedua emiten ini akan diuntungkan perubahan royalti. Intinya, setiap penurunan royalty 1%, laba bersih naik 16% untuk INDY dan 3% untuk AADI. 

Editor: Harso Kurniawan

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkait


Berita Terkini


Market 7 menit yang lalu

DPR Soroti Kepercayaan Pasar di Tengah Tekanan Rupiah

Anggota Komisi XI DPR Marwan Cik Asan mendorong pemerintah dan BI menjaga kepercayaan pasar di tengah tekanan terhadap rupiah.
Market 11 menit yang lalu

Ujian Berat bagi Saham BUMI

Saham Bumi Resources (BUMI) menjadi salah satu yang banyak dilego oleh investor asing. Ini menandai tekanan terhadap saham BUMI berlanjut.
Business 1 jam yang lalu

Wamen Investasi Angkat Bicara Soal Keluhan dari Pelaku Usaha China

Wakil Menteri Investasi, Todotua Pasaribu angkat suara perihal keluhan dari pengusaha China terkait hambatan berinvestasi di Indonesia.
Market 1 jam yang lalu

Harga Emas Perhiasan Hari Ini, Jumat 15 Mei 2026, Cek Rinciannya

Harga emas perhiasan hari ini, Jumat (15/5/2026) di Raja Emas Indonesia, Hartadinata Abadi, dan Laku Emas dalam berbagai karat
Market 2 jam yang lalu

Duit Asing Tumpah ke Saham ADRO

Di tengah gencarnya aksi jual investor asing, ternyata diam-diam duit asing masuk ke saham Alamtri Resources Indonesia (ADRO).
Multimedia 2 jam yang lalu

Kandungan Santan Mirip ASI? Cek Faktanya! | Cuan Iki Podcast

Limbah kelapa, ternyata adalah "harta karun" yang diburu pasar Eropa dan Asia? Keresahan akan banyaknya sabut kelapa yang terbuang sia-sia di Indonesia
Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia