Asuransi Bintang (ASBI) Bidik Laba Tumbuh Dua Kali Lipat
JAKARTA, investor.id – Perusahaan asuransi umum, PT Asuransi Bintang Tbk (ASBI) menyasar pertumbuhan laba bersih sampai dengan dua kali lipat untuk tahun buku 2025. Profitabilitas akan didorong melalui bisnis-bisnis dengan margin tebal dan operasional yang lebih efisien.
“Dari stochastic monte-carlo business plan simulation kita, laba bersih (2025) ada di Rp 21,12 miliar,” ungkap Presiden Direktur Asuransi Bintang, Hastanto Sri Margi Widodo saat dihubungi investor.id baru-baru ini.
Dengan sasaran Rp 21,12 miliar untuk tahun buku 2025 itu, praktis laba bersih diproyeksikan dapat meningkat dua kali lipat dibandingkan dengan realisasi 2024 yang sebesar Rp 9,89 miliar. Secara persentase, pertumbuhan laba bersih ASBI adalah sebesar 113,28% year on year (yoy).
Widodo mengungkapkan, perusahaan akan fokus memupuk profitabilitas terhadap produk-produk yang punya margin besar. Dengan keberhasilan implementasi model akuntansi termutakhir yaitu PSAK 117, perusahaan dapat lebih jitu memetakan lini-lini yang benar-benar menghasilkan keuntungan.
”Kita drive dari long term dan produk-produk yang marginnya masih agak tebal. Biaya juga sekarang manage-nya lebih mudah, karena sudah tidak terjebak top line (pendapatan premi tinggi) doang,” ungkap Widodo, yang merujuk pada kinerja bisnis dalam PSAK 117.
Untuk diketahui, penerapan PSAK 117 akan membuat laporan keuangan perusahaan asuransi menjadi “berdaya banding” (sebanding) dengan industri lain seperti perbankan dan jasa keuangan lainnya. Selain itu, perhitungan akuntansi ini mensyaratkan pemisahan yang jelas antara pendapatan yang dihasilkan dari bisnis asuransi dan pendapatan dari aktivitas investasi.
Baca Juga:
Asuransi Bintang Rilis Laporan KeuanganMelalui penyajian PSAK 117, pemegang polis maupun investor mendapatkan informasi yang lebih transparan atas laporan keuangan perusahaan. Salah satunya, perusahaan asuransi seperti Asuransi Bintang harus mengakui potensi kerugian (klaim) selama masa berlaku polis di awal kontrak, sehingga menghasilkan liabilitas yang lebih terukur.
Selain itu, margin atau imbal hasil jasa asuransi yang dihasilkan tidak lagi diakui di depan, melainkan dicatatkan per bulan. Ini yang dianggap laporan keuangan perusahaan menjadi lebih transparan, selaras dengan modal yang diadopsi perbankan maupun lembaga jasa keuangan lainnya. Asuransi Bintang sendiri menjadi salah satu dari sedikit emiten asuransi yang berhasil menyajikan laporan keuangan kuartal I-2025 lewat PSAK 117.
Kinerja Q1-2025
Pada kuartal I-2025, Asuransi Bintang atau ASBI membukukan laba bersih yang dapat diatribusikan kepada entitas induk sebesar Rp 1,54 miliar. Angka itu susut 20,44% yoy dibandingkan perolehan laba Rp 1,94 miliar pada periode sama tahun sebelumnya.
Widodo mengakui, bisnis di lini usaha asuransi kendaraan bermotor jadi yang memberatkan (onerous) terhadap kinerja kuartal I-2025. Ini tak lepas dari perkembangan di industri otomotif dan menyusutnya margin yang diterima industri multifinance, sehingga ikut memukul sektor asuransi.
Namun demikian, lini bisnis lainnya masih membukukan hasil positif, seperti asuransi kebakaran, asuransi pengangkutan, asuransi rangka kapal (marine hull), asuransi rekayasa, dan asuransi aneka. Hal itu tercermin dari hasil jasa asuransi bersih (net insurance revenue/NIR) yang berlabuh surplus Rp 19,89 miliar, meskipun turun 12,73% yoy.
Baca Juga:
Tarif Trump Pukul Industri Otomotif“Iya (menurun), tapi rasio pendapatan usaha bersih terhadap pendapatan jasa asuransi naik dari 24% pada kuartal I-2024 menjadi 26% setelah full transisi ke PSAK 117. Ini karena kita berhasil cut polis-polis merugi,” jelas Widodo.
Perbaikan yang dimaksud itu juga tak terlepas dari dukungan hasil investasi bersih ASBI yang sebesar Rp 1,77 miliar, dari sebelumnya hasil investasi merugi Rp 27,40 juta. Terlihat pula perbaikan perbaikan kinerja dari laba usaha sebesar Rp 2,24 miliar dari rugi usaha Rp 4,42 miliar.
Ke depan, kata Widodo, pihaknya yakin dapat memperbaiki struktur profitabilitas lebih jauh. Ini terbukti dari transisi ke PSAK 117 yang sudah rampung dan hanya menggerus ekuitas sebesar Rp 5,9 miliar. Apalagi, saat ini portofolio yang diganggam jauh lebih sehat dan menguntungkan.
“Udah selesai, ini sudah dimulai sejak 2023. Kalau gak cleansing (polis-polis merugi) ekuitas kenanya lebih dari Rp 70 miliar,” tandas Widodo.
Editor: Prisma Ardianto
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read Now



