Jumat, 15 Mei 2026

Dolar Ditinggal, USD Yield Melonjak, Emas Melejit, Pasar Bersiap Hadapi Resesi AS?

Penulis : Redaksi Investor Daily
20 Mei 2025 | 18:37 WIB
BAGIKAN
Suku bunga acuan dan USD yield telah naik signifikan ke kisaran 4,2%-5%, artinya biaya pinjaman meningkat lebih dari tiga kali lipat.
Suku bunga acuan dan USD yield telah naik signifikan ke kisaran 4,2%-5%, artinya biaya pinjaman meningkat lebih dari tiga kali lipat.

JAKARTA, investor.id - Amerika Serikat tengah menghadapi tekanan fiskal besar. Dalam empat tahun ke depan, pemerintah harus melakukan refinancing terhadap utang senilai $28 triliun, yang sebelumnya diterbitkan dengan bunga rendah. Kini, suku bunga acuan dan USD yield telah naik signifikan ke kisaran 4,2%-5%, artinya biaya pinjaman meningkat lebih dari tiga kali lipat. Hal itu berarti tagihan bunga bisa melonjak ke level yang menguras anggaran negara. Di saat yang sama, meskipun angka inflasi resmi turun ke 2,9%, realita di lapangan berkata lain: listrik, makanan, sewa, hingga asuransi terus naik. Penurunan harga mobil bekas sebesar 11% yang selama ini 'menyelamatkan' statistik inflasi sudah berakhir. Kini, tekanan harga kembali memanas.

Selanjutnya, yang lebih mengkhawatirkan adalah kondisi fiskal pemerintah. Defisit anggaran tahun lalu mencapai hampir $2 triliun, dan diperkirakan tahun ini akan serupa atau bahkan lebih besar walaupun Trump sudah melakukan efisiensi. Sementara itu, total utang nasional telah melewati $36 triliun, dan sekitar $28 triliun dari jumlah tersebut harus dibiayai ulang dengan bunga yang lebih tinggi dari sekitar 2% menjadi 5%. Tambahan beban bunga ini diperkirakan akan menambah sekitar $840 miliar per tahun, yang bisa membuat total pembayaran bunga tahunan melebihi $2 triliun dalam empat tahun ke depan.

Dolar Ditinggal, USD Yield Melonjak, Emas Melejit, Pasar Bersiap Hadapi Resesi AS?
Pembayaran Bunga Utang AS. | Sumber: US Treasury Fiscal Data

Dengan adanya kenaikan inflasi akan menghambat The Fed untuk menurunkan suku bunga, sedangkan di sisi lain Trump ingin Fed untuk menurunkan suku bunga dengan segera agar bisa melakukan refinancing utang AS dengan cost of borrowing yang lebih murah.

Situasi ini makin genting karena semakin banyak negara asing dan bank sentral-termasuk negara-negara BRICS dan bahkan beberapa sekutu AS di Eropa-yang mulai mengurangi kepemilikan dolar dan lebih memilih aset seperti emas, dimana hal ini dapat membuat kekuatan dari USD melemah, karena kursnya sudah tidak didukung oleh cadangan emas.

Untuk mengatasi pelemahan mata uang AS adalah melalui FDI (Foreign Direct Investment) ataupun peningkatan investasi dalam negaranya. Dengan latar belakang tersebut, Trump akhirnya memberlakukan tarif sehingga seluruh direct investment flow kembali masuk ke AS, walaupun dampak dari tarif tersebut akan di pass-through kepada rakyat AS sendiri, karena merekalah yang menanggung beban dari kenaikan harga barang di dalam negaranya. Saat ini, dengan adanya guncangan besar dalam negaranya maka dikhawatirkan apabila AS ingin melakukan melakukan refinancing debt dengan obligasinya, tapi obligasinya tidak laku.

Jika investor asing enggan membeli obligasi AS, maka satu-satunya pilihan tersisa adalah The Federal Reserve, yang kemungkinan besar akan mencetak uang untuk membeli obligasi pemerintah. Seperti yang terjadi selama pandemi, pencetakan uang dalam jumlah besar (sekitar $5 triliun) menyebabkan inflasi melonjak hingga 9%. Jika The Fed kembali harus mencetak uang untuk membiayai ulang $28 triliun utang, inflasi bisa meningkat jauh lebih tinggi dari target 2 persen.

Dengan adanya kondisi situasi global yang sedang terpuruk dan terguncang karena turunnya daya beli global yang disertai dengan inflasi (karena perhitungan inflasi exclude basket makanan dan energi). Masyarakat lebih senang untuk berinvestasi di aset safe haven seperti Emas yang sudah melambung tinggi, bahkan di proyeksi dapat mencapai US$3,500/ounce. Namun, disisi lain, sobat cuan juga harus mengetahui bahwa peningkatan harga emas ini bukan hanya di beli oleh investor retail tapi dibeli oleh bank-bank sentral dunia, salah satunya adalah China.

Secara historis, semakin panjang akumulasi kenaikan emas maka akan ada hal buruk didepan salah satunya adalah ancaman resesi global. Bahkan The Fed menyarankan agar perbankan di AS untuk menyiapkan permodalan bank untuk memperbesar loan-losses reserve yang artinya terdapat ancaman kredit gagal bayar. Hal ini diperlukan agar tidak terjadi banking crisis, karena krisis terbesar diawali dengan banking crisis. Sinyal lainnya yang wajib diwaspadai adalah yield curve dan market spread.

Sekarang ini, yield curve 10-Y USA berada di level 4.2%. Yield curve mengindikasikan hubungan antara imbal hasil (yield) dan tenor (jatuh tempo) dari obligasi pemerintah (biasanya obligasi negara seperti US Treasury atau obligasi negara lainnya). Saat yield curve tinggi, artinya investor meminta imbal hasil lebih besar untuk obligasi jangka panjang, karena mereka melihat risiko atau ketidakpastian ekonomi yang lebih besar di masa depan, seperti inflasi, kenaikan suku bunga, atau pertumbuhan ekonomi yang tidak stabil.

Dolar Ditinggal, USD Yield Melonjak, Emas Melejit, Pasar Bersiap Hadapi Resesi AS?
US Treasury Yield 10Y | Sumber: CNBC

Sedangkan untuk market spread (Yield obligasi korporasi Yield obligasi pemerintah (dengan tenor yang sama) yang sekarang ini juga cenderung meningkat. Peningkatan credit spread artinya selisih imbal hasil antara obligasi korporasi (non-pemerintah) dan obligasi pemerintah (yang dianggap bebas risiko) sedang melebar, dengan kata lain, investor menuntut imbal hasil lebih tinggi untuk memegang obligasi korporasi karena mereka melihat risiko yang meningkat.

Apabila credit spread naik atau melebar, artinya:

1. Risiko kredit meningkat - Investor khawatir perusahaan mungkin gagal bayar.

2. Sentimen pasar memburuk Dapat mengakibatkan ketidakpastian ekonomi, geopolitik, atau kekhawatiran resesi.

3. Investor mencari aset aman Mereka menjual obligasi korporasi dan pindah ke obligasi pemerintah permintaan turun yield korporat naik spread melebar.

Editor: Gesa Vitara

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkait


Berita Terkini


Market 24 menit yang lalu

Harga Emas Terkoreksi Buntut Data Konsumen AS

Pasar emas terus mempertahankan dukungan kritis tetapi tidak menunjukkan reaksi besar terhadap data ekonomi terbaru AS.
Market 35 menit yang lalu

Harga Perak Antam (ANTM) Hari Ini, Jumat 15 Mei 2026: Longsor Dalam

Harga perak Antam (ANTM) hari ini pada Jumat (15/5/2026) terpantau longsor dalam. Harga perak Antam menurun ke level ini
Market 39 menit yang lalu

Harga Emas Antam (ANTM) Hari Ini, Jumat 15 Mei 2026: Merosot Lagi

Harga emas Antam (ANTM) terpantau pada Jumat (15/5/2026) kembali merosot. Cek juga harga beli kembali (buyback) emas Antam
Market 1 jam yang lalu

DPR Soroti Kepercayaan Pasar di Tengah Tekanan Rupiah

Anggota Komisi XI DPR Marwan Cik Asan mendorong pemerintah dan BI menjaga kepercayaan pasar di tengah tekanan terhadap rupiah.
Market 1 jam yang lalu

Ujian Berat bagi Saham BUMI

Saham Bumi Resources (BUMI) menjadi salah satu yang banyak dilego oleh investor asing. Ini menandai tekanan terhadap saham BUMI berlanjut.
Business 2 jam yang lalu

Wamen Investasi Angkat Bicara Soal Keluhan dari Pelaku Usaha China

Wakil Menteri Investasi, Todotua Pasaribu angkat suara perihal keluhan dari pengusaha China terkait hambatan berinvestasi di Indonesia.
Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia