Jumat, 15 Mei 2026

Mengapa Trump, Pasar Saham, dan Bitcoin Sama-Sama Mengincar Cut Rate The Fed?

Penulis : Redaksi Investor Daily
21 Mei 2025 | 17:53 WIB
BAGIKAN
Pemangkasan suku bunga oleh The Fed bukan hanya menyebabkan biaya pinjaman yang berubah, tapi juga arah investasi global.
Pemangkasan suku bunga oleh The Fed bukan hanya menyebabkan biaya pinjaman yang berubah, tapi juga arah investasi global.

JAKARTA, investor.id - Pemangkasan suku bunga oleh Federal Reserve (The Fed) bukan hanya menyebabkan biaya pinjaman yang berubah, tapi juga arah investasi global. Saham Amerika jadi lebih menarik karena imbal hasil obligasi menurun. Emas melonjak saat dolar melemah, dan crypto seringkali menjadi alternatif utama untuk mendapatkan return investasi yang lebih tinggi. Inilah efek domino dari satu keputusan The Fed yang mampu menggeser selera risiko dunia finansial. Secara keseluruhan, pemangkasan suku bunga mendorong peralihan dari aset konservatif ke aset yang lebih berisiko dan berpotensi memberikan return lebih tinggi.

Indikator Ekonomi yang Menjadi Pertimbangan The Fed untuk Cut Rate

Indikator ekonomi yang biasanya digunakan The Fed sebagai pertimbangan untuk memotong suku bunga adalah indikator yang mencerminkan perlambatan ekonomi, rendahnya inflasi, dan kondisi pasar tenaga kerja.

1. Inflasi (CPI, PCE)

Consumer Price Index (CPI) dan Personal Consumption Expenditures (PCE) adalah indikator utama inflasi. Jika inflasi turun di bawah target 2% (target The Fed), maka pemangkasan suku bunga bisa dipertimbangkan untuk mendorong harga naik kembali.

2. Tingkat Pengangguran (Unemployment Rate)

Diambil dari data Non-Farm Payrolls (NFP) dan laporan pengangguran bulanan. Jika pengangguran naik signifikan, itu tanda ekonomi melambat yang dapat memicu The Fed cenderung memangkas suku bunga untuk mendorong pertumbuhan dan lapangan kerja.

3. GDP Growth (Pertumbuhan Ekonomi)

Jika Gross Domestic Product (GDP) menunjukkan pertumbuhan yang melemah atau kontraksi, hal itu merupakan sinyal bahwa ekonomi membutuhkan stimulus. The Fed dapat memangkas suku bunga untuk meningkatkan konsumsi dan investasi.

4. Retail Sales & Konsumsi

Apabila data penjualan ritel menurun, itu menandakan daya beli masyarakat melemah. Suku bunga dapat dipotong untuk mendorong konsumsi rumah tangga melalui pinjaman yang lebih murah.

5. Manufacturing & PMI (Purchasing Managers' Index)

PMI di bawah 50 merupakan indikasi kontraksi industri. Jika sektor manufaktur melemah, The Fed mungkin melihat perlunya kebijakan moneter yang lebih longgar.

Kapan The Fed Akan Melakukan Cut Rate?

Meskipun Federal Reserve memutuskan untuk tidak menurunkan suku bunga pada pertemuan tanggal 7 Mei, pasar berjangka kini menunjukkan sekitar 51.1% kemungkinan adanya pemangkasan suku bunga sebesar 25 basis poin pada bulan September 2025. Pemotongan tambahan kemungkinan akan terjadi di akhir tahun 2025 untuk mendukung perlambatan ekonomi.

Apa yang Terjadi Apabila The Fed Tidak Menurunkan Suku Bunga?

Jika The Federal Reserve (The Fed) tidak menurunkan suku bunga, maka akan ada dampak signifikan terhadap likuiditas (ketersediaan uang) di sistem keuangan serta aktivitas ekonomi secara keseluruhan.

1. Likuiditas Tetap Ketat

Suku bunga tinggi menyebabkan biaya pinjaman mahal, baik untuk konsumen maupun bisnis. Perbankan dan lembaga keuangan akan lebih berhati-hati dalam menyalurkan kredit. Masyarakat dan perusahaan cenderung menahan belanja dan investasi. Hasilnya, jumlah uang yang beredar dalam ekonomi melambat yang dapat memicu likuiditas menurun.

2. Penurunan Aktivitas Ekonomi

Kredit properti, modal usaha, dan konsumsi akan menurun karena bunga tinggi. Ini memperlambat pertumbuhan ekonomi, bisa berdampak pada: Peningkatan pengangguran, Penurunan laba perusahaan, Pelemahan pasar saham dan aset lainnya.

Dampak pada Pasar Keuangan

1. Pasar Saham Amerika

Kurangnya likuiditas dan tingginya cost of capital membuat investor enggan menaruh uang di saham yang memicu pasar saham bisa melemah.

2. Pasar Crypto

Crypto adalah aset spekulatif. Kurangnya likuiditas dan investor institusi yang risk-off (menghindari risiko) bisa menekan harga crypto.

3. Emas

Emas bisa kurang menarik karena tidak memberikan imbal hasil (yield), sehingga kalah bersaing dengan instrumen pendapatan tetap (obligasi) saat suku bunga tinggi.

4. Nilai Tukar Dolar AS Menguat

Suku bunga tinggi menarik investasi asing ke aset dolar seperti obligasi AS akibat dolar AS menguat yang bisa menekan nilai tukar mata uang negara lain dan mempersulit negara berkembang.

Mengapa Trump Sangat Ingin The Fed Menurunkan Suku Bunga?

Donald Trump ingin The Federal Reserve (The Fed) menurunkan suku bunga karena hal itu sejalan dengan kepentingan politik dan strateginya dalam mendorong pertumbuhan ekonomi. Sebagai figur yang kembali mencalonkan diri dalam pemilu, Trump berkepentingan agar ekonomi terlihat kuat, dengan pertumbuhan tinggi, lapangan kerja meningkat, dan pasar saham mencetak rekor.

Suku bunga yang lebih rendah dapat mendorong konsumsi, investasi, dan harga aset seperti saham dan properti, sehingga menciptakan efek kekayaan (wealth effect) yang menguntungkan citra kepemimpinannya. Selain itu, Trump juga dikenal dengan kebijakan tarif dan proteksionisme, yang berisiko memicu inflasi dan memperlambat perdagangan. Dengan menurunkan suku bunga, The Fed dapat membantu mengimbangi tekanan ekonomi dari kebijakan dagang tersebut. Trump juga memiliki kepentingan fiskal: suku bunga rendah akan menurunkan beban bunga utang pemerintah, yang terus membengkak akibat belanja besar selama masa jabatannya. Lebih jauh lagi, suku bunga rendah bisa melemahkan dolar AS, membuat ekspor Amerika lebih kompetitif.

Apa Yang Harus Investor Lakukan Untuk Menghadapi Situasi Global?

1. Diversifikasi Portofolio

Ketidakpastian ekonomi dan pasar membuat diversifikasi sangat penting. Jangan hanya fokus di satu aset, terutama aset berisiko tinggi seperti crypto. Gabungkan saham defensif, aset safe haven (emas, obligasi), dan beberapa aset crypto yang punya fundamental kuat.

2. Pantau Kebijakan Moneter dan Inflasi

Suku bunga dan kebijakan The Fed sangat mempengaruhi pasar. Jika The Fed memangkas suku bunga, likuiditas bisa meningkat dan mendorong reli saham serta crypto. Sebaliknya, kenaikan suku bunga atau kebijakan ketat bisa menekan harga.

3. Perhatikan Volume dan Sentimen Pasar

Kenaikan volume perdagangan dan sentimen positif bisa jadi tanda awal reli. Namun, waspadai juga volatilitas tinggi yang umum terjadi saat pasar bereaksi terhadap berita ekonomi.

4. Siapkan Strategi Keluar dan Masuk (Entry & Exit)

Gunakan analisis teknikal dan fundamental untuk menentukan waktu yang tepat masuk dan keluar pasar. Jangan terburu-buru ikut FOMO (fear of missing out).

Editor: Gesa Vitara

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkait


Berita Terkini


Market 24 menit yang lalu

BERITA POPULER: Harga Emas Perhiasan dan Emas Antam (ANTM) Bertahan

Berita populer 24 jam terakhir, mulai dari update harga emas perhiasan hingga harga emas Antam (ANTM) bertahan.
National 6 jam yang lalu

Menhut Antoni Ajak Pemimpin Dunia Perkuat Multilateralisme untuk Lindungi Hutan Dunia

Menhut RI Raja Juli Antoni ajak rimbawan dan pemimpin dunia perkuat multilteralisme dan soliditas untuk lestarikan dan lindungi hutan dunia.
National 7 jam yang lalu

KPK Dalami Aliran Uang Urus Pita Cukai Rokok dan Miras ke Pegawai DJBC Ahmad Dedi

KPK terus mendalami aliran uang kepada pegawai DJBC Ahmad Dedi (Dedi Congor) yang diduga terkait pengurusan pita cukai rokok dan miras.
Market 7 jam yang lalu

Saham-saham Penyangga Pasar

Terdapat 10 saham paling berpengaruh terhadap pergerakan IHSG. Ada saham SMMA, BRMS, INCO, dan lain-lain.
Market 7 jam yang lalu

Barisan Saham yang Bikin Investor Tekor Parah

Sebanyak 10 saham jadi penyebab investor tekor parah pada perdagangan pasar pekan ini. Harga sahamnya ambles dari 19% hingga 37%.
Market 8 jam yang lalu

Deretan Saham Pencetak Cuan Jumbo

Sejumlah saham mencetak cuan jumbo dan masuk daftar top gainers selama periode 11-13 Mei 2026.
Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia