Jumat, 15 Mei 2026

Wall Street Lesu, Lonjakan Imbal Hasil Obligasi AS Tekan Pasar

Penulis : Indah Handayani
23 Mei 2025 | 04:25 WIB
BAGIKAN
Ilustrasi Wall Street
sumber: AP
Ilustrasi Wall Street sumber: AP

NEW YORK, investor.id – Indeks-indeks Wall Street mayoritas lesu pada perdagangan Kamis (22/5/2025). Di tengah kekhawatiran investor terhadap lonjakan imbal hasil obligasi (yield) dan potensi pelebaran defisit anggaran Amerika Serikat (AS).

Dikutip dari CNBC internasional, S&P 500 turun tipis 0,04% ke level 5.842,01. Sementara Dow Jones Industrial Average nyaris tak bergerak dengan penurunan 1,35 poin ke 41.859,09. Di sisi lain, Nasdaq Composite justru menguat 0,28% dan ditutup di level 18.925,73.

Kekhawatiran pasar mencuat setelah DPR AS menyetujui rancangan undang-undang (RUU) pajak yang berisi pemotongan pajak dan peningkatan belanja militer. RUU ini berpotensi menambah utang pemerintah hingga mendekati US$ 4 triliun, menurut Kantor Anggaran Kongres (CBO), dan berisiko memperlebar defisit anggaran negara.

ADVERTISEMENT

“Dalam jangka pendek, RUU pajak ini akan berdampak positif terhadap ekonomi karena meningkatkan konsumsi dan belanja pertahanan. Tapi dalam jangka panjang, beban defisit yang tinggi akan menekan pasar,” ujar manajer portofolio di Argent Capital Management Jed Ellerbroek.

Kekhawatiran jangka panjang tersebut terlihat dari lonjakan imbal hasil obligasi pemerintah AS bertenor 30 tahun, yang sempat menyentuh level tertinggi sejak Oktober 2023 di kisaran 5,161%, sebelum akhirnya turun menjelang akhir sesi. Yield obligasi 10 tahun juga mengalami kenaikan meski kemudian menurun.

Naiknya imbal hasil ini menandakan investor mulai kehilangan kepercayaan terhadap kelayakan obligasi AS, seiring tingginya defisit anggaran yang diprediksi berlangsung lama tanpa tanda-tanda perbaikan.

Sinyal Negatif

Peningkatan imbal hasil obligasi jangka panjang menjadi sinyal negatif karena dapat mendorong naiknya biaya pinjaman bagi konsumen dan pelaku usaha. Hal ini bisa menekan laju ekonomi AS yang sudah terdampak oleh tarif impor universal yang baru saja diberlakukan oleh Presiden Donald Trump.

Sebelumnya, pelelangan obligasi 20 tahun yang berlangsung buruk juga ikut memicu lonjakan yield dan aksi jual saham di pasar.

Jika RUU pajak tersebut lolos di Senat, investor memperkirakan tekanan terhadap pasar obligasi dan saham bisa semakin besar.

Editor: Indah Handayani

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkait


Berita Terkini


Business 10 menit yang lalu

Wamen Investasi Angkat Bicara Soal Keluhan dari Pelaku Usaha China

Wakil Menteri Investasi, Todotua Pasaribu angkat suara perihal keluhan dari pengusaha China terkait hambatan berinvestasi di Indonesia.
Market 20 menit yang lalu

Harga Emas Perhiasan Hari Ini, Jumat 15 Mei 2026, Cek Rinciannya

Harga emas perhiasan hari ini, Jumat (15/5/2026) di Raja Emas Indonesia, Hartadinata Abadi, dan Laku Emas dalam berbagai karat
Market 1 jam yang lalu

Duit Asing Tumpah ke Saham ADRO

Di tengah gencarnya aksi jual investor asing, ternyata diam-diam duit asing masuk ke saham Alamtri Resources Indonesia (ADRO).
Multimedia 1 jam yang lalu

Kandungan Santan Mirip ASI? Cek Faktanya! | Cuan Iki Podcast

Limbah kelapa, ternyata adalah "harta karun" yang diburu pasar Eropa dan Asia? Keresahan akan banyaknya sabut kelapa yang terbuang sia-sia di Indonesia
Market 2 jam yang lalu

BERITA POPULER: Harga Emas Perhiasan dan Emas Antam (ANTM) Bertahan

Berita populer 24 jam terakhir, mulai dari update harga emas perhiasan hingga harga emas Antam (ANTM) bertahan.
National 8 jam yang lalu

Menhut Antoni Ajak Pemimpin Dunia Perkuat Multilateralisme untuk Lindungi Hutan Dunia

Menhut RI Raja Juli Antoni ajak rimbawan dan pemimpin dunia perkuat multilteralisme dan soliditas untuk lestarikan dan lindungi hutan dunia.
Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia