Harga Minyak Naik 20% Sepanjang Juni, Pasar Global Siaga
Kepala Ekonom Lombard Odier Samy Chaar menyatakan, harga minyak yang bertahan di atas US$ 100 dapat memangkas pertumbuhan ekonomi global sebesar 1% dan menambah inflasi sebesar 1%.
Di AS, jika harga minyak stabil di US$ 75, CPI bisa naik 0,5%, dari 3% menjadi 3,5% pada akhir tahun, menurut RBC.
Biasanya, ketika harga minyak naik, dolar AS menguat. Tapi kali ini berbeda. Dolar hanya naik 0,7% dalam sepekan terakhir, dan secara tahunan telah melemah sekitar 9% terhadap mata uang utama lainnya.Pelemahan dolar memberi sedikit kelegaan bagi negara pengimpor minyak karena harga minyak dihitung dalam dolar.
“Bagi negara pengimpor, dolar yang melemah membantu meredam dampak kenaikan harga minyak,” ujar analis UniCredit.
Tanpa guncangan pasokan nyata, pasar saham dunia tetap stabil di dekat rekor tertinggi. Investor cenderung mengabaikan ketegangan sampai ada sinyal konflik meluas.
Saham energi di AS dan Eropa, terutama perusahaan minyak dan gas, menguat. Saham pertahanan juga ikut naik. Di sisi lain, saham maskapai dan perusahaan konsumen energi menjadi yang paling terpukul. Menariknya, indeks saham Israel (TA125) justru melonjak 6% dalam sepekan, menjadi salah satu yang paling mencolok di kawasan.
Editor: Indah Handayani
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read Now






