Jumat, 15 Mei 2026

Harga Minyak Naik 20% Sepanjang Juni, Pasar Global Siaga

Penulis : Indah Handayani
21 Jun 2025 | 06:20 WIB
BAGIKAN
Ilustrasi barel minyak hitam dengan panah merah menggambarkan kenaikan harga minyak. (Foto: ANTARA/Shutterstock/pri)
Ilustrasi barel minyak hitam dengan panah merah menggambarkan kenaikan harga minyak. (Foto: ANTARA/Shutterstock/pri)

LONDON, investor.id – Harga minyak dunia melonjak sekitar 20% sepanjang Juni 2025, menandai kenaikan bulanan terbesar sejak 2020. Lonjakan ini terjadi di tengah memanasnya ketegangan antara Israel dan Iran yang memicu kekhawatiran akan potensi gangguan pasokan energi global.

Dikutip dari Reuters, meskipun belum ada gangguan besar terhadap aliran minyak, lonjakan harga telah membangkitkan kembali kenangan lonjakan inflasi global saat Rusia menginvasi Ukraina tiga tahun lalu. Kenaikan harga minyak ini juga akan berdampak pada pasar dunia.

Harga minyak Brent saat ini diperdagangkan di sekitar US$ 77 per barel, jauh di bawah harga rekor tertingggi sepanjang masa (all time high/ATH) yang tercatat pada 2022 di level US$ 139, namun sudah mendekati level ‘nyeri’ bagi ekonomi global.

ADVERTISEMENT

“Jika harga minyak tembus ke kisaran US$ 80-100 dan bertahan di sana, itu bisa mengancam pertumbuhan ekonomi dunia,” kata CIO ABN AMRO Solutions Christophe Boucher.

Harga minyak Brent kontrak bulan pertama juga menunjukkan premium tertinggi dalam enam bulan, mencerminkan ekspektasi pasar akan potensi gangguan pasokan dari Timur Tengah.

Konflik Israel dan Iran ini juga berisiko mengguncangn pasokan minyak. Hal itu karena sekitar 20% konsumsi minyak dunia melewati Selat Hormuz, jalur sempit antara Oman dan Iran. Jika jalur ini terganggu, analis memperkirakan harga minyak bisa melonjak di atas US$ 100 per barel.

Produksi OPEC+ pada Mei naik 180 ribu barel per hari (bph) ke 41,23 juta bph, masih di bawah target peningkatan sebesar 411 ribu bph.

Menurut Nadia Martin Wiggen dari Svelland Capital, indikator seperti tarif pengiriman minyak mentah (freight rate) akan menjadi penentu. "Saat China mulai panik dan membeli besar-besaran, tarif pengiriman akan naik, dan harga energi global akan ikut melonjak," paparnya.

Kenaikan harga minyak bisa menyulut inflasi dan membebani konsumsi, terutama di negara-negara pengimpor minyak seperti Jepang, Eropa, India, Turki, dan Pakistan.

Pertumbuhan Ekonomi Terpangkas

Editor: Indah Handayani

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkait


Berita Terkini


Market 24 menit yang lalu

Harga Emas Terkoreksi Buntut Data Konsumen AS

Pasar emas terus mempertahankan dukungan kritis tetapi tidak menunjukkan reaksi besar terhadap data ekonomi terbaru AS.
Market 35 menit yang lalu

Harga Perak Antam (ANTM) Hari Ini, Jumat 15 Mei 2026: Longsor Dalam

Harga perak Antam (ANTM) hari ini pada Jumat (15/5/2026) terpantau longsor dalam. Harga perak Antam menurun ke level ini
Market 39 menit yang lalu

Harga Emas Antam (ANTM) Hari Ini, Jumat 15 Mei 2026: Merosot Lagi

Harga emas Antam (ANTM) terpantau pada Jumat (15/5/2026) kembali merosot. Cek juga harga beli kembali (buyback) emas Antam
Market 1 jam yang lalu

DPR Soroti Kepercayaan Pasar di Tengah Tekanan Rupiah

Anggota Komisi XI DPR Marwan Cik Asan mendorong pemerintah dan BI menjaga kepercayaan pasar di tengah tekanan terhadap rupiah.
Market 1 jam yang lalu

Ujian Berat bagi Saham BUMI

Saham Bumi Resources (BUMI) menjadi salah satu yang banyak dilego oleh investor asing. Ini menandai tekanan terhadap saham BUMI berlanjut.
Business 2 jam yang lalu

Wamen Investasi Angkat Bicara Soal Keluhan dari Pelaku Usaha China

Wakil Menteri Investasi, Todotua Pasaribu angkat suara perihal keluhan dari pengusaha China terkait hambatan berinvestasi di Indonesia.
Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia