Jumat, 15 Mei 2026

Harga Emas Naik, Ketegangan Israel dan Iran Kian Membara

Penulis : Indah Handayani
24 Jun 2025 | 04:28 WIB
BAGIKAN
ilustrasi harga emas 
Sumber; AP
ilustrasi harga emas Sumber; AP

NEW YORK, investor.id — Harga emas naik pada Senin (23/6/2025). Kenaikan itu seiring meningkatnya ketegangan geopolitik antara Israel dan Iran yang memicu lonjakan permintaan terhadap aset safe haven. Sementara pasar terus mencermati perkembangan situasi di kawasan Timur Tengah.

Harga spot emas naik 0,09% menjadi US$ 3.368,4 per ons troi. Sementara kontrak berjangka emas AS naik 0,4% ke level US$ 3.400,70 per ons troi.

“Penguatan harga emas sebagian besar didorong oleh ketidakpastian politik usai serangan udara AS ke Iran,” ujar Managing Partner CPM Group Jeffrey Christian dikutip dari CNBC internasional.

ADVERTISEMENT

Selama akhir pekan, Amerika Serikat (AS) melancarkan sejumlah serangan rudal ke wilayah Iran yang dikabarkan menargetkan fasilitas nuklir. Presiden AS Donald Trump bahkan secara terbuka menyebut kemungkinan menggulingkan pemerintahan Iran.

Situasi makin memanas setelah Axios mengutip pejabat Israel yang menyebut Iran meluncurkan enam rudal ke arah pangkalan militer AS di Qatar.

Di sisi lain, militer Israel membombardir Penjara Evin di Teheran utara, yang dikenal sebagai simbol kuat kekuasaan Iran. Israel menyebut serangan itu sebagai yang paling intens terhadap ibu kota Iran sejauh ini.

Ketegangan yang meningkat ini kembali menegaskan posisi emas sebagai aset lindung nilai yang banyak diburu investor dalam masa-masa penuh ketidakpastian.

Prediksi Harga Emas

Christian memprediksi, harga emas dan perak masih akan tetap kuat, bahkan berpotensi naik lebih tinggi selama ketegangan politik dan ekonomi terus berlangsung. “Target kami, harga emas bisa menyentuh US$ 3.500 per ons dalam beberapa bulan ke depan,” tambah Christian.

Sebagai catatan, harga emas sempat menyentuh rekor tertinggi sepanjang masa pada 22 April 2025 di level US$ 3.500,05 per ons troi.

Dari sisi makroekonomi, pelaku pasar juga menantikan rilis data Personal Consumption Expenditures (PCE) dari AS yang dijadwalkan keluar akhir pekan ini. Data ini menjadi acuan utama inflasi bagi The Fed.

Pekan lalu, The Fed mempertahankan suku bunga acuan di kisaran 4,25%-4,50%, namun memberi sinyal kemungkinan penurunan suku bunga pada paruh kedua tahun ini. Lingkungan suku bunga rendah biasanya menjadi katalis positif bagi emas, yang tidak memberikan imbal hasil.

Selain emas, harga logam mulia lainnya juga turut menguat. Harga perak naik 0,7% ke US$ 36,22 per ons, platinum melonjak 1,5% ke US$ 1.284,08 per ons, dan palladium melesat 2,5% ke US$ 1.070,47 per ons yang merupakan level tertingginya sejak 11 Juni lalu

Editor: Indah Handayani

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkait


Berita Terkini


Market 24 menit yang lalu

Harga Emas Terkoreksi Buntut Data Konsumen AS

Pasar emas terus mempertahankan dukungan kritis tetapi tidak menunjukkan reaksi besar terhadap data ekonomi terbaru AS.
Market 35 menit yang lalu

Harga Perak Antam (ANTM) Hari Ini, Jumat 15 Mei 2026: Longsor Dalam

Harga perak Antam (ANTM) hari ini pada Jumat (15/5/2026) terpantau longsor dalam. Harga perak Antam menurun ke level ini
Market 39 menit yang lalu

Harga Emas Antam (ANTM) Hari Ini, Jumat 15 Mei 2026: Merosot Lagi

Harga emas Antam (ANTM) terpantau pada Jumat (15/5/2026) kembali merosot. Cek juga harga beli kembali (buyback) emas Antam
Market 1 jam yang lalu

DPR Soroti Kepercayaan Pasar di Tengah Tekanan Rupiah

Anggota Komisi XI DPR Marwan Cik Asan mendorong pemerintah dan BI menjaga kepercayaan pasar di tengah tekanan terhadap rupiah.
Market 1 jam yang lalu

Ujian Berat bagi Saham BUMI

Saham Bumi Resources (BUMI) menjadi salah satu yang banyak dilego oleh investor asing. Ini menandai tekanan terhadap saham BUMI berlanjut.
Business 2 jam yang lalu

Wamen Investasi Angkat Bicara Soal Keluhan dari Pelaku Usaha China

Wakil Menteri Investasi, Todotua Pasaribu angkat suara perihal keluhan dari pengusaha China terkait hambatan berinvestasi di Indonesia.
Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia