Bukan Antam (ANTM), Pilihan Utama Jatuh ke Saham Ini
JAKARTA, investor.id – BRI Danareksa Sekuritas mempertahankan rating netral untuk sektor pertambangan logam. Pilihan utama ternyata bukan saham PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) atau Antam.
Analis BRI Danareksa Sekuritas, Timothy Wijaya dan Naura Reyhan Muchlis mengungkapkan bahwa harga bijih nikel premium akhirnya berbalik arah karena permintaan melemah. Bijih nikel premium sempat mengalami tren kenaikan sepanjang 2024 dan mencapai puncaknya pada Juni 2025 sebesar US$ 26,8/wmt, kemudian menurun pada Juli 2025.
Penurunan harga bijih nikel premium seiring pelemahan harga patokan mineral (HPM), yang mengikuti penurunan harga nikel di London Metal Exchange (LME).
Secara year to date (ytd), harga bijih telah naik 19%. Harga nickel pig iron (NPI) justru turun 2%. “Ketidaksesuaian tren ini menyebabkan tekanan margin pada smelter non-terintegrasi dan makin membuat mereka enggan menambah persediaan karena margin tipis, bahkan negatif,” tulis Timothy dan Naura dalam risetnya, yang dikutip pada Rabu (9/7/2025).
BRI Danareksa Sekuritas meyakini harga bijih nikel premium telah mencapai puncaknya dan pembalikan harga menjadi hal yang tak terhindarkan dalam jangka pendek. Setidaknya ada dua faktor yang memicu pembalikan harga.
Pertama, penurunan lebih lanjut harga NPI yang hampir menyentuh titik terendah pada Januari 2025, yaitu US$ 11.000/ton, akibat lemahnya permintaan restocking baja tahan karat (stainless steel).
Kedua, antisipasi tambahan kuota RKAB yang dirilis pada Juli-Agustus 2025, yang berpotensi menambah pasokan di paruh kedua 2025. Hal itu didukung oleh kondisi cuaca yang membaik dan kemungkinan penyesuaian kuota.
Baca Juga:
Harga Wajar Saham ADRO Ternyata SeginiMeski demikian, ada potensi risiko kenaikan pada harga premium, seiring puncak musim restocking tahunan di China pada September-Oktober 2025, yang dikenal sebagai ‘Golden September, Silver October’.
Selain itu, Kementerian ESDM tengah mempertimbangkan untuk mengubah penerbitan RKAB dari 3 tahunan menjadi tahunan, yang dapat menciptakan ketidakpastian terhadap pasokan domestik pada masa mendatang di pasar yang sudah ketat.
Saham Pilihan Utama dan Target Harga
BRI Danareksa Sekuritas lebih memilih urutan sebagai berikut: bijih > MHP > NPI > matte, karena profitabilitas bijih masih menarik, meskipun trennya menurun.
“Kami juga lebih memilih MHP (mixed hydroxide precipitate) dibandingkan NPI karena margin tunai per ton lebih kuat dan menempatkan matte di urutan terbawah karena harganya tertekan akibat pelemahan harga nikel LME saat ini,” ungkap Timothy.
Baca Juga:
ITMG Borong Saham Emiten Nikel NICEBRI Danareksa Sekuritas menetapkan PT Merdeka Battery Materials Tbk (MBMA) dan PT Vale Indonesia Tbk (INCO) sebagai pilihan utama. Urutan memilihnya: MBMA > INCO > BRMS > NCKL > ANTM > MDKA > TINS.
BRI Danareksa Sekuritas merekomendasikan buy saham MBMA dan INCO. Target harga saham MBMA sebesar Rp 490 dan INCO Rp 3.300.
Rekomendasi buy juga disematkan pada beberapa saham pertambangan logam lainnya, meski bukan pilihan teratas, seperti PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS), PT Trimegah Bangun Persada Tbk (NCKL), PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) atau Antam, PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA), dan PT Timah Tbk (TINS).
Target harga saham BRMS sebesar Rp 480, NCKL Rp 1.500, ANTM Rp 3.000, MDKA Rp 2.400, dan TINS Rp 1.300.
Editor: Jauhari Mahardhika
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read Now






