Investor Bersiap, Saham Apa yang Diuntungkan di Tengah Defisit AS Era Trump?
JAKARTA, investor.id - Pasar saham Amerika dan ekonomi Amerika kembali bergejolak. Setelah selamat dari badai Covid-19, kini Amerika Serikat menghadapi ujian baru. Suku bunga melonjak ke 5.5% (Juli 2023) memicu risiko hard landing, sementara kebijakan pemangkasan pajak ala Trump diprediksi membuat defisit fiskal melebar hingga -6% pada 2025. Lebih parah lagi, utang AS sudah menembus $36.1 triliun melewati debt ceiling $ 34.1 triliun yang memaksa Treasury menguras 'senjata terakhir' Extraordinary Measures yang kini tinggal tersisa $ 133 miliar. Semua ini menegaskan bahwa kekuatan ekonomi AS tak sekuat dugaan investor, dan menyiapkan panggung bagi risiko jangka panjang termasuk defisit fiskal yang makin dalam.
Miskonsepsi yang sering terjadi adalah pemikiran bahwa pelebaran fiskal defisit adalah hal yang diperlukan sebagai salah satu stimulus ekonomi. Padahal, ketika defisit terlalu lebar dan tidak terkendali, ada hidden impact yang dapat mempengaruhi kepercayaan investor terhadap pasar keuangan, baik saham maupun obligasi.
Mengapa Defisit Fiskal AS Terus Membengkak?
Defisit fiskal secara sederhana merupakan selisih antara penerimaan dan pengeluaran pemerintah. As a matter of fact, AS telah berada dalam kondisi defisit fiskal sejak tahun 2001 sebesar US$ 0.13Tn dan kemudian terus membesar hingga mencapai $1.83Tn pada 2024.
Bahkan AS pernah mengalami defisit fiskal terbesar pada 2020 yakni $3.13Tn yang disebabkan oleh beberapa hal, yaitu:
- Paket stimulus Covid-19 yang agresif
- Melonjaknya pendanaan militer dan pertahanan
- Bertambahnya biaya untuk social security, medicare dan medicald
- Berkurangnya pendapatan karena penurunan tarif pajak
Walaupun defisit fiskal 2024 telah turun signifikan dibandingkan 2022, namun sebenarnya risiko terhadap ekonomi AS belum sepenuhnya hilang. Melansir dari The Congressional Budget Office (CBO), terdapat beberapa proyeksi terhadap ekonomi AS yang wajib diantisipasi investor:
Salah satu yang menjadi sorotan adalah potensi Debt to GDP ratio mencapai 130% pada 2025 yang disebabkan berkurang pendapatan pajak dan naiknya beban untuk menanggung masyarakat AS. CBO memproyeksikan defisit fiskal 2025 mencapai $1.9Tn atau setara 6.2% PDB sehingga kumulatif defisit sepanjang 2026-2035 diperkirakan mencapai $21Tn (rerata 5.8% PDB).
Kondisi defisit ini akan terus berlanjut hingga waktu tak terbatas selama revenue (pendapatan) terus berada di bawah outlays (pengeluaran). Bahkan, jika kebijakan Trump untuk memangkas pajak badan dan perorangan diterapkan, maka hal ini bisa menambah defisit hingga $4Tn dalam 10 tahun mendatang jika tak ada offset (misal dari kenaikan tarif, dll..)
Hal inilah yang dapat mempengaruhi pertumbuhan ekonomi AS dan diperkirakan menjadi 1.9% pada 2025.
Risiko dan Dampak pada Pasar Saham Amerika
Selain volatilitas pasar saham yang meningkat, salah satu risiko lain yakni turunnya proyeksi earnings dari para pebisnis. Ketika suku bunga pinjaman relatif masih tinggi, maka hal ini sangat berdampak bagi para pebisnis (khususnya perusahaan dengan porsi utang cukup tinggi) yang berujung pada tertekannya marjin laba.
Sebagai efeknya, ketika earnings yield diestimasikan turun sementara aset obligasi menawarkan yield yang masih menarik, maka ada potensi bagi investor untuk lebih memilih aset obligasi dibandingkan saham.
Sektor Saham yang Diuntungkan dan Tertekan oleh Defisit Fiskal
Walaupun kondisi defisit fiskal membuat prospek pertumbuhan ekonomi relatif terbatas, sebenarnya ada beberapa sektoral yang cenderung tetap solid dan menarik untuk dilirik investor:
- Sektor Pertahanan dan Infrastruktur
Biasanya pengeluaran Pemerintah akan difokuskan untuk kebutuhan pertahanan dan infrastruktur yang tujuannya melindungi ekonomi.
- Sektor Kesehatan dan Farmasi
Mempertimbangkan kebijakan Trump yang masih tetap memprioritaskan Social Aid, maka sektor ini relatif tetap diuntungkan.
Di tengah suku bunga yang relatif masih tinggi dan potensi terjadinya reflasi, maka komoditas menjadi pilihan yang tak boleh dilewatkan oleh investor.
Sebaliknya, ada beberapa sektor yang cenderung tertekan, antara lain:
Sektor ini cenderung sensitif terhadap kenaikan suku bunga dan biaya pinjaman yang tinggi.
- Sektor Consumer Discretionary
Kondisi inflasi membuat biaya hidup cenderung naik dan dan menggerus buying power dari konsumen.
Strategi Investasi di Tengah Defisit Fiskal
Menyikapi kondisi ini, ada beberapa strategi investasi yang dapat diterapkan oleh investor, yaitu:
- Memperbesar porsi dividend stocks.
- Melakukan diversifikasi ke obligasi atau aset alternatif lain misalnya emas ataupun aset crypto.
- Fokus pada perusahaan yang 'berkualitas' dan tercermin dari ketahanan kondisi keuangan ataupun alokasi capex yang tetap dijaga guna melakukan ekspansi.
Editor: Gesa Vitara
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read NowBerita Terkait
Berita Terkini
BERITA POPULER: Harga Emas Perhiasan dan Emas Antam (ANTM) Bertahan
Berita populer 24 jam terakhir, mulai dari update harga emas perhiasan hingga harga emas Antam (ANTM) bertahan.Menhut Antoni Ajak Pemimpin Dunia Perkuat Multilateralisme untuk Lindungi Hutan Dunia
Menhut RI Raja Juli Antoni ajak rimbawan dan pemimpin dunia perkuat multilteralisme dan soliditas untuk lestarikan dan lindungi hutan dunia.KPK Dalami Aliran Uang Urus Pita Cukai Rokok dan Miras ke Pegawai DJBC Ahmad Dedi
KPK terus mendalami aliran uang kepada pegawai DJBC Ahmad Dedi (Dedi Congor) yang diduga terkait pengurusan pita cukai rokok dan miras.Saham-saham Penyangga Pasar
Terdapat 10 saham paling berpengaruh terhadap pergerakan IHSG. Ada saham SMMA, BRMS, INCO, dan lain-lain.Barisan Saham yang Bikin Investor Tekor Parah
Sebanyak 10 saham jadi penyebab investor tekor parah pada perdagangan pasar pekan ini. Harga sahamnya ambles dari 19% hingga 37%.Deretan Saham Pencetak Cuan Jumbo
Sejumlah saham mencetak cuan jumbo dan masuk daftar top gainers selama periode 11-13 Mei 2026.Tag Terpopuler
Terpopuler






