Prospek Pasar Surat Utang di Tengah Penurunan Suku Bunga
JAKARTA, investor.id – Prospek Surat utang negara (SUN) diperkirakan menghadapi tekanan sepekan ke depan, di tengah potensi arus keluar dana asing dan ekspektasi penguatan pasar saham sebagai dampak penurunan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI).
Fixed Income Analyst PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo) Ahmad Nasrudin mengatakan, minimnya rilis data ekonomi domestik dalam sepekan ke depan membuat pelaku pasar bakal lebih banyak merespons dinamika global serta pernyataan para pejabat The Federal Reserve (The Fed), termasuk pidato Ketua The Fed Jerome Powell pada Selasa mendatang.
Baca Juga:
Bank Ramai-ramai Terbitkan Surat Utang“Sentimen risk-on di pasar saham selepas pemangkasan suku bunga akan meningkatkan minat investor terhadap instrumen saham untuk mengejar return, sehingga bisa menjadi substitusi bagi pasar surat utang,” jelas Ahmad kepada Investor Daily dikutip Senin (21/7/2025).
Dia menambahkan, menipisnya selisih suku bunga antara BI dan bank sentral utama dunia, terutama The Fed, juga menjadi perhatian utama investor asing. “Kondisi ini dapat memicu potensi capital outflow, terutama karena yield SUN tenor 10 tahun sudah cukup turun dalam beberapa pekan terakhir,” ujarnya.
Dalam sepekan terakhir, yield atau imbal hasil SUN tenor 10 tahun turun ke level 6,538% dari sebelumnya 6,577%. Namun, Ahmad memproyeksikan yield akan kembali naik ke kisaran 6,5%-6,7% dalam waktu dekat.
“Saya lebih condong yield bergerak naik mendekati 6,6% karena spread suku bunga dengan AS yang semakin tipis dan potensi investor asing melakukan profit taking,” ungkapnya.
Menurut Ahmad, harga obligasi saat ini sudah cukup mahal, sehingga tekanan jual dari investor khususnya asing mungkin akan terjadi.
Sementara itu, pemerintah dijadwalkan menggelar lelang SUN pada pekan depan dengan target indikatif sebesar Rp 9 triliun yang terbagi dalam tujuh seri.
Ahmad memperkirakan, minat investor domestik akan cukup tinggi, terutama karena tren penurunan suku bunga membuat obligasi dengan kupon tinggi semakin langka.
"Investor mulai memburu potensi capital gain, dan dari tujuh seri yang dilelang, PBS003 dan PBS034 dinilai paling menarik karena kuponnya yang tinggi dan potensi gain ke depan,” ujarnya.
Dia memproyeksikan total penawaran dalam lelang mendatang berada pada kisaran Rp 13,5 triliun hingga Rp 27 triliun, atau dengan bid-to-cover ratio antara 1,5 hingga 3,0 kali. Hal ini mencerminkan antusiasme pasar yang masih cukup tinggi, meski tak sebesar lonjakan sebelumnya.
"Pemerintah kemungkinan tetap menyerap minimal Rp 9 triliun, dan bisa saja meningkatkan penyerapan karena kebutuhan pembiayaan defisit yang lebih besar dari bulan-bulan sebelumnya,” pungkas Ahmad.
Editor: Muawwan Daelami
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read Now






