Aksi Besar-besaran Telkom (TLKM), Nilai Super Jumbo
JAKARTA, investor.id – PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM) memiliki agenda besar seiring transformasi bisnis perseroan oleh manajemen baru. Mulai dari rencana pengurangan jumlah anak usaha dari 55 menjadi sekitar 22, keluar dari bisnis non-inti, hingga mempercepat monetisasi aset infrastruktur dengan potensi nilai Rp 100-150 triliun.
“Kami melihat pergeseran strategis Telkom (TLKM) yang paling menonjol adalah penyederhanaan struktur grup, dengan rencana mengurangi jumlah anak usaha dari 55 menjadi sekitar 22 untuk menghilangkan redundansi, keluar dari bisnis non-inti, dan meningkatkan efisiensi,” tulis analis BRI Danareksa Sekuritas, Kafi Ananta dan Erindra Krisnawan dalam risetnya, yang dikutip pada Kamis (7/8/2025).
Baca Juga:
PTRO Kandidat Kuat Masuk MSCISecara paralel, Telkom kembali fokus ke segmen inti dan membuka nilai (value unlocking) aset infrastruktur, dengan mempercepat agenda monetisasi aset yang ditaksir memiliki potensi nilai hingga Rp 100-150 triliun.
“Data center dan InfraCo menjadi katalis jangka pendek, dengan NeutraDC tengah menuju kemitraan strategis yang ditargetkan tercapai pada akhir 2025,” ungkap Kafi dan Erindra.
Baca Juga:
BBCA juga Punya Target Harga BaruEmiten berkode saham TLKM tersebut juga sedang memindahkan aset fiber optik ke dalam InfraCo, yang akan menjadi platform grup infrastruktur. “Monetisasi dapat dilakukan melalui IPO masing-masing anak usaha atau penggabungan beberapa aset dalam satu entitas,” sebut Kafi dan Erindra.
TLKM – dengan kepemimpinan baru – memang tengah menata ulang strategi bisnisnya. TLKM meluncurkan agenda transformasi untuk 3-5 tahun yang dibangun di atas empat pilar, yaitu keunggulan operasional, perampingan bisnis, pembukaan nilai aset, dan pergeseran menjadi strategic holding.
Fokus utama TLKM adalah alokasi modal yang disiplin, dengan capex tahunan Rp 6 triliun dan target pengurangan capex yang didorong oleh pendekatan investasi berbasis internal rate of return (IRR). Perseroan beralih ke inisiatif berdampak besar, sedangkan inisiatif warisan ‘Five Bold Moves’ tetap dilanjutkan dengan penekanan lebih kuat pada eksekusi.
“Tujuan akhir dari strategi ini adalah menyederhanakan portofolio agar fokus pada segmen B2C dan infrastruktur B2B dalam jangka pendek,” jelas Kafi dan Erindra.
Rekomendasi dan Target Harga Saham
Dengan fokus yang lebih tajam pada profitabilitas dan efisiensi, serta monetisasi aset yang sedang berjalan, TLKM memiliki kapasitas re-investasi yang memadai – tercermin dari rasio net debt to EBITDA kuartal I-2025 yang hanya 0,5 kali.
Posisi leverage yang rendah itu mendukung potensi ekspansi TLKM di segmen inti B2C, infrastruktur B2B, dan solusi TI.
Baca Juga:
Muncul Target Harga Baru Saham BBRISebab itu, BRI Danareksa Sekuritas mempertahankan rekomendasi buy saham TLKM dengan target harga Rp 3.500. Hal itu didukung oleh perbaikan harga di industri yang sedang berlangsung dan progres dalam penyederhanaan produk.
Sementara itu, analis Samuel Sekuritas, Jonathan Guyadi dan Jason Sebastian mengungkapkan, Telkom (TLKM) memiliki valuasi yang menarik dengan EV/EBITDA trailing 12 bulan (trailing twelve months/TTM) sebesar 4,1 kali atau diskon 11,5% dibandingkan para pesaingnya.
“TLKM juga berpotensi re-rating lebih lanjut karena menawarkan ROAE 2025 sebesar 15,6% dibandingkan para pesaingnya yang rata-rata sebesar 14,9%,” tulis Jonathan dan Jason dalam risetnya.
Samuel Sekuritas mempertahankan rekomendasi buy saham TLKM dengan target harga Rp 3.500. Target harga tersebut mencerminkan EV/EBITDA 2025 sebesar 5,2 kali.
Baca Juga:
Panik Jual CDIASelain valuasi yang terdiskon, imbal hasil dividen (dividend yield) TLKM terbilang menarik. Risiko utamanya jika terjadi persaingan yang makin intensif, jumlah pelanggan yang lebih rendah dari perkiraan, dan perang harga di segmen fixed broadband (FBB).
Editor: Jauhari Mahardhika
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read Now






