Jumat, 15 Mei 2026

Harga Minyak Jatuh 2% Lebih, Pasar Deg-degan Soal Tarif AS

Penulis : Indah Handayani
27 Aug 2025 | 05:20 WIB
BAGIKAN
ilustrasi harga minyak. Sumber: Antara
ilustrasi harga minyak. Sumber: Antara

NEW YORK, investor.id – Harga minyak dunia jatuh 2% lebih pada perdagangan Selasa (26/8/2025), menghapus penguatan sehari sebelumnya. Tekanan datang dari kekhawatiran investor atas perkembangan tarif Amerika Serikat (AS). Ditambah lagi, konflik Rusia dan Ukraina, serta potensi gangguan pasokan energi Rusia.

Dikutip dari Reuters, harga minyak Brent jatuh US$ 1,58 (2,3%) menjadi US$ 67,22 per barel, setelah sehari sebelumnya menyentuh level tertinggi sejak awal Agustus. Sementara harga minyak West Texas Intermediate (WTI) melemah US$ 1,55 (2,4%) ke US$ 63,25 per barel.

“Dengan ketidakpastian besar di pasar minyak akibat perang Ukraina dan isu tarif, investor enggan mengambil posisi jangka panjang,” ujar analis PVM Oil Associates Tamas Varga sembari menambahkan, harga Brent berpotensi terjebak dalam kisaran perdagangan US$ 65–74 dalam waktu dekat.

ADVERTISEMENT

Kenaikan harga pada awal pekan lalu dipicu oleh risiko pasokan, setelah serangan Ukraina terhadap infrastruktur energi Rusia memicu kemungkinan sanksi baru dari AS. Serangan tersebut mengganggu operasi kilang dan ekspor Rusia, sekaligus memicu kelangkaan bensin di sejumlah wilayah.

Tiga sumber Reuters menyebutkan, Rusia justru merevisi naik rencana ekspor minyak mentah dari pelabuhan barat sebesar 200 ribu barel per hari pada Agustus. Hal ini terjadi setelah serangan drone Ukraina membuat kapasitas kilang berkurang, sehingga lebih banyak minyak mentah bisa dialihkan ke ekspor.

Di sisi lain, Presiden AS Donald Trump kembali mengancam akan menjatuhkan sanksi tambahan pada Rusia jika dalam dua pekan tidak ada kemajuan menuju kesepakatan damai. Namun, sumber lain menyebutkan bahwa pejabat AS dan Rusia juga membicarakan beberapa kesepakatan energi di sela-sela perundingan perdamaian bulan ini.

Pasar juga menyoroti potensi kenaikan tarif AS terhadap India hingga 50%, salah satu yang tertinggi pernah diterapkan Washington.

“Kemungkinan kenaikan tarif AS terhadap India bisa terjadi secepatnya besok. Hal ini akan semakin membatasi arus ekspor Rusia yang sudah terganggu akibat serangan Ukraina,” tulis analis Ritterbusch and Associates.

Editor: Indah Handayani

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkait


Berita Terkini


Market 9 menit yang lalu

Harga Emas Terkoreksi Buntut Data Konsumen AS

Pasar emas terus mempertahankan dukungan kritis tetapi tidak menunjukkan reaksi besar terhadap data ekonomi terbaru AS.
Market 20 menit yang lalu

Harga Perak Antam (ANTM) Hari Ini, Jumat 15 Mei 2026: Longsor Dalam

Harga perak Antam (ANTM) hari ini pada Jumat (15/5/2026) terpantau longsor dalam. Harga perak Antam menurun ke level ini
Market 24 menit yang lalu

Harga Emas Antam (ANTM) Hari Ini, Jumat 15 Mei 2026: Merosot Lagi

Harga emas Antam (ANTM) terpantau pada Jumat (15/5/2026) kembali merosot. Cek juga harga beli kembali (buyback) emas Antam
Market 1 jam yang lalu

DPR Soroti Kepercayaan Pasar di Tengah Tekanan Rupiah

Anggota Komisi XI DPR Marwan Cik Asan mendorong pemerintah dan BI menjaga kepercayaan pasar di tengah tekanan terhadap rupiah.
Market 1 jam yang lalu

Ujian Berat bagi Saham BUMI

Saham Bumi Resources (BUMI) menjadi salah satu yang banyak dilego oleh investor asing. Ini menandai tekanan terhadap saham BUMI berlanjut.
Business 2 jam yang lalu

Wamen Investasi Angkat Bicara Soal Keluhan dari Pelaku Usaha China

Wakil Menteri Investasi, Todotua Pasaribu angkat suara perihal keluhan dari pengusaha China terkait hambatan berinvestasi di Indonesia.
Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia