Derap Langkah Raja Panas Bumi PGEO, plus Arah Saham
JAKARTA, investor.id – PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGEO) mengoperasikan 1.933 MW atau 72,1% kapasitas nasional, menjadikannya sebagai pemimpin pasar di bisnis panas bumi Indonesia. Lantas, bagaimana prospek saham PGEO?
Didukung oleh 13 Wilayah Kerja Panas Bumi (WKP), Pertamina Geothermal (PGEO) menargetkan kapasitas 1,5 GW pada 2030. Itu selaras dengan target RUPTL PLN dengan tambahan sebesar 5,2 GW energi terbarukan pada 2034.
“Indonesia kini berada di peringkat 2 global dengan kapasitas terpasang 2,3 GW dan potensi belum tergarap sekitar 23,7 GW,” tulis analis MNC Sekuritas, Christian Sitorus dalam risetnya, yang dikutip pada Minggu (7/9/2025).
Indonesia memiliki cadangan panas bumi sekitar 27,79 GW atau 40% dari global, namun baru sekitar 10% yang dimanfaatkan. Pemerintah menargetkan 19% energi terbarukan pada 2025 melalui RUPTL, insentif fiskal, dan tarif yang mendukung.
Tarif tersebut yakni sebesar US$ 7,65-9,76 sen/kWh untuk listrik, US$ 4,48-6,6 sen/kWh untuk uap, dengan tarif lebih tinggi bagi proyek kecil atau terpencil.
Adapun produksi listrik Pertamina Geothermal diperkirakan tumbuh 7,9% dan 5,2% pada 2025 dan 2026 menjadi 5.211 GWh dan 5.480 GWh.
Pendapatan emiten berkode saham PGEO tersebut diproyeksikan naik 8,1% dan 10,8% menjadi US$ 440 juta dan US$ 487 juta, dengan laba bersih meningkat 3,8% dan 4,6% menjadi US$ 165 juta dan US$ 173 juta.
Rekomendasi dan Target Harga Saham
Tahun ini, PGEO mengalokasikan belanja modal (capex) sebesar US$ 319 juta, yang terdiri atas capex untuk keperluan organik US$ 289 juta dan anorganik US$ 30 juta.
Proyek utama PGEO mencakup Hululais (2x55 MW), Ulubelu (30 MW), dan Lahendong (15 MW). “Di luar pembangkit listrik, PGEO juga mengembangkan co-generation, turunan panas bumi, serta proyek percontohan hidrogen hijau di Lampung,” sebut Christian.
Baca Juga:
Demi Cuan, Fokus pada Saham-Saham IniDengan berbagai faktor tersebut, MNC Sekuritas merekomendasikan buy saham PGEO dengan target harga Rp 1.705. Target harga tersebut mencerminkan estimasi P/E 2025 dan 2026 sebesar 19,3 kali dan 18,5 kali, serta EV/EBITDA sebesar 8,5 kali dan 7,7 kali.
Valuasi itu sesuai dengan posisi PGEO di sektornya. Risiko utama mencakup faktor ketersediaan yang lebih rendah, perubahan regulasi atau kebijakan, jika terjadi keterlambatan proyek, serta masalah teknis maupun operasional.
Editor: Jauhari Mahardhika
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read Now






