JP Morgan Jagokan 3 Sektor Saham di RI
JAKARTA, investor.id – JP Morgan Indonesia memproyeksikan beberapa sektor saham akan menjadi incaran investor hingga tahun 2026. Menurut perusahaan investasi global ini, sektor yang berkaitan dengan program pemerintah dan sensitif terhadap suku bunga akan diuntungkan.
Adapun tiga sektor utama yang diunggulkan adalah konsumer, pertambangan, dan properti.
Head of Research and Strategy JP Morgan Indonesia, Henry Wibowo menilai sektor konsumer punya prospek menjanjikan. Hal ini didorong oleh ekspektasi peningkatan belanja pemerintah pada 12 bulan ke depan atau setidaknya sampai semester I-2026.
Di sisa tahun ini, pemerintah pusat telah menyatakan akan mempercepat belanja usai hanya merealisasikan 37,1% dari pagu atau sebesar Rp 1.003,6 triliun pada semester I-2025. JP Morgan pun memperkirakan pemerintah akan mengeluarkan lebih banyak belanja fiskal pada semester II-2025.
Sementara pada tahun 2026, belanja negara ditargetkan naik 7,3% menjadi Rp 3.786,5 triliun, dengan fokus pada program-program prioritas seperti Makan Bergizi Gratis (MBG) dan ketahanan pangan. Peningkatan belanja ini diharapkan dapat mendongkrak konsumsi domestik dan pertumbuhan ekonomi.
Baca Juga:
Demi Cuan, Fokus pada Saham-Saham Ini“Ketika belanja pemerintah ini naik di semester kedua 2025 dan juga 2026, kita berharap konsumsi domestik akan naik. Dan ini akan mendorong pertumbuhan ekonomi secara keseluruhan,” ujar Henry dalam Media Briefing JP Morgan Indonesia di Jakarta, dikutip Minggu (7/9/2025).
Sementara itu, sektor yang sensitif terhadap suku bunga, seperti properti dan otomotif, juga menarik perhatian. Ekspektasi penurunan suku bunga global dapat menjadi katalis positif, menstimulasi ekspansi dan pertumbuhan sektor-sektor tersebut.
Baca Juga:
JP Morgan Blak-Blakan soal Demo di RIJP Morgan sendiri memprediksi Bank Indonesia (BI) masih akan melanjutkan pemangkasan suku bunga acuan (BI Rate) sebanyak tiga kali yang masing-masing sebesar 25 basis poin (bps), setelah BI Rate berada di posisi 5%. Dengan demikian, BI Rate akan berada di level 4,25% di akhir tahun 2025.
Ini jadi langkah BI yang lebih akomodatif (dovish), di tengah inflasi yang berada dalam sasaran dan terjaga rendah. Di sisi lain, nilai tukar rupiah diproyeksi tetap terjaga seiring dukungan aliran modal asing yang tetap mengalir deras ke Indonesia.
Saham-saham Tambang
Lebih lanjut, JP Morgan mengaku turut menyukai saham pertambangan, khususnya emas dan nikel. Harga emas diprediksi terus menanjak di atas US$ 3.000 per ons troi, didorong ketidakpastian geopolitik dan tren penurunan suku bunga global.
CEO & Senior Country Officer J.P. Morgan Indonesia, Gioshia Ralie menambahkan bahwa sektor nikel akan mendapatkan nilai tambah dari inisiatif pengembangan baterai untuk kendaraan listrik.
Di sisi lain, sektor konsumer juga masih cukup stabil dan bisa dimanfaatkan untuk saham sektor defensif. Saham-saham yang berhubungan dengan program pemerintah bisa dicermati, misalnya terkait properti atau mengenai program makan bergizi.
“Kita mengharapkan suku bunga turun, sehingga itu akan menstimulasi sektor-sektor saham di Indonesia untuk berekspansi lagi. Dan ini akan membawa stabilitas yang dapat membuat perusahaan bertumbuh,” ujar Gioshia.
JP Morgan Indonesia memproyeksi pasar saham domestik akan stabil hingga akhir 2025. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diperkirakan bergerak di kisaran 7.500–8.000 sampai akhir tahun.
Editor: Prisma Ardianto
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read Now






