Outlook Harga Emas Rumit, Pasokan Sekunder Perak Melonjak
JAKARTA, investor.id – Ketidakjelasan data pasar tenaga kerja Amerika Serikat (AS) membuat proyeksi harga emas tahun ini semakin kompleks. Di saat yang sama, lonjakan harga perak justru memicu membanjirnya pasokan sekunder dari penjualan perhiasan dan koin lama masyarakat.
Dikutip dari Kitco News, analis logam mulia dari Heraeus menyebutkan bahwa permintaan bank sentral tetap menjadi penopang utama harga emas sepanjang 2025.
Bank sentral global tercatat membeli 19 ton emas pada Desember, sehingga total pembelian sepanjang 2025 mencapai 328 ton, sedikit lebih rendah dibandingkan 345 ton pada 2024 berdasarkan data World Gold Council.
Bank Sentral Polandia menjadi pembeli terbesar dengan tambahan 102 ton cadangan emas, diikuti Kazakhstan dan Brasil. Namun, tidak semua bank sentral menambah cadangan, karena Singapura, Ghana, dan Rusia tercatat sebagai penjual bersih tahun lalu.
Dari sisi makroekonomi, data ketenagakerjaan terbaru AS menimbulkan sinyal beragam bagi kebijakan suku bunga The Fed.
Data non-farm payrolls menunjukkan penambahan 130.000 pekerjaan pada Januari, lebih tinggi dari perkiraan pasar. Secara sekilas, kondisi ini mengurangi urgensi pemangkasan suku bunga.
Namun, revisi negatif untuk bulan-bulan sebelumnya serta penurunan estimasi penciptaan lapangan kerja 2025 lebih dari 1 juta dibanding proyeksi awal, menunjukkan kondisi pasar tenaga kerja sebenarnya lebih lemah dari angka utama.
Dengan imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor dua tahun berada di kisaran 3,5%, batas bawah target suku bunga The Fed, bank sentral diperkirakan belum akan mengubah kebijakan pada pertemuan terdekat.
Dinamika Pasar Perak
Editor: Indah Handayani
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read Now




