ANZ Ramal Harga Emas Tembus US$ 5.800, Reli Belum Usai
ANZ juga menyoroti perubahan struktural dalam sistem keuangan global. Obligasi pemerintah AS yang selama ini dianggap sebagai aset bebas risiko mulai kehilangan daya tarik akibat lonjakan utang, kekhawatiran terhadap independensi bank sentral, serta meningkatnya risiko geopolitik.
“Emas berfungsi sebagai aset transisi yang memberikan stabilitas dan diversifikasi ketika aset tradisional berada di bawah tekanan. Dalam konteks ini, peran emas sebagai penyimpan nilai dan lindung nilai menjadi semakin penting,” tulis ANZ.
Dari sisi permintaan, ANZ memperkirakan minat investasi akan menjadi pendorong utama harga emas tahun ini, terutama melalui exchange-traded funds (ETF) berbasis emas. Total kepemilikan ETF emas diperkirakan dapat melampaui 4.800 ton pada 2026.
Permintaan diperkirakan tidak hanya datang dari pasar Barat, tetapi juga meningkat signifikan dari negara berkembang seperti China dan India, yang memiliki potensi memperbesar porsi kepemilikan ETF emas global.
ANZ menambahkan, pergeseran investasi dari saham dan obligasi ke emas dapat memberikan dampak signifikan terhadap harga. Saat ini, aset ETF emas masih mencakup kurang dari 3% dari total portofolio saham dan obligasi global, sehingga sedikit perubahan alokasi saja dapat mendorong kenaikan harga secara tajam.
Selain emas, ANZ juga tetap optimistis terhadap prospek perak. Namun, volatilitas yang lebih tinggi dan melemahnya permintaan industri diperkirakan akan membuat perak sulit mengungguli kinerja emas dalam waktu dekat.
Editor: Indah Handayani
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read Now




