Sabtu, 4 April 2026

Harga Emas Terkoreksi, Gagal Bertahan di Atas US$ 5.200

Penulis : Indah Handayani
24 Feb 2026 | 10:32 WIB
BAGIKAN
ilustrasi harga emas 
Sumber; AP
ilustrasi harga emas Sumber; AP

JAKARTA, investor.id – Harga emas dunia berbalik melemah pada perdagangan hari ini setelah sebelumnya mencatat reli empat hari beruntun. Logam mulia gagal mempertahankan posisi di atas level psikologis US$ 5.200 per ons troi, seiring munculnya aksi profit taking dan penguatan terbatas dolar Amerika Serikat (AS).

Harga emas hari ini terkoreksi 0,83% ke level US$ 5.184,62 per ons troi saat berita ini ditulis, setelah sempat mencapai level US$ 5.200 per ons troi di awal perdagangan.

Analis Dupoin Futures Andy Nugraha menjelaskan, secara teknikal emas masih berada dalam tren bullish, namun momentum kenaikan mulai melambat setelah harga sempat menyentuh kisaran US$ 5.230 pada sesi Asia.

Andy mengatakan, pelemahan ini terjadi di tengah dinamika kebijakan perdagangan AS. Ketidakpastian mencuat setelah Mahkamah Agung AS membatalkan tarif impor besar yang sebelumnya diberlakukan pemerintahan Presiden Donald Trump.

“Meski pemerintah kemudian mengumumkan tarif baru sebesar 15%, pasar masih mencerna dampaknya terhadap stabilitas perdagangan global,” tegas Andy.

Di sisi lain, lanjut Andy, pelaku pasar juga mencermati perkembangan negosiasi nuklir antara AS dan Iran. Setiap sinyal positif dari jalur diplomatik berpotensi meredam permintaan aset safe haven seperti emas, sehingga menahan laju kenaikan harga dalam jangka pendek.

Makroekonomi AS

Dari faktor makroekonomi, Andy menyebut, indeks dolar AS yang sempat turun ke kisaran 97,64 kini bergerak stabil, sementara imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun berada di sekitar 4,0%.

Secara historis, Andy menambahkan, emas memiliki korelasi terbalik dengan dolar AS dan yield obligasi. Ketika keduanya stabil atau menguat, daya tarik emas cenderung berkurang karena biaya peluang memegang aset tanpa imbal hasil meningkat.

Andy menegaskan, pasar juga menanti rilis data inflasi produsen (PPI) AS yang diperkirakan naik moderat 0,3%. Data ini menjadi indikator penting arah kebijakan suku bunga The Fed. Pernyataan Gubernur The Fed Christopher Waller yang membuka peluang mempertahankan suku bunga turut menjadi perhatian investor.

Secara teknikal, Andy memaparkan, meskipun struktur tren jangka pendek masih positif, potensi koreksi tetap terbuka. Jika tekanan jual berlanjut, emas berisiko turun menuju area support terdekat di kisaran US$ 5.127 per ons troi.

“Sebaliknya, bila mampu kembali menembus dan bertahan di atas US$ 5.200, peluang pengujian resistance US$ 5.250 masih terbuka,” tutup Andy.

Editor: Indah Handayani

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkait


Berita Terkini


Market 2 menit yang lalu

WOM Finance (WOMF) Tebar Dividen 30% dari Laba, Ini Jadwalnya

PT Wahana Ottomitra Multiartha Tbk atau WOM Finance (WOMF) berencana menebar dividen tunai 30% dari laba tahun 2025.
Lifestyle 10 menit yang lalu

Cara Daikin Dongkrak Kepercayaan Konsumen 

Saat ini AC tidak hanya sekadar pemberi kesejukan, melainkan juga menjadi pendukung bagi produktivitas.
International 51 menit yang lalu

Pemda Rusia Wajibkan Perusahaan Setor Nama Karyawan untuk Maju Perang

Pemda Rusia rekrutmen militer terselubung. Perusahaan di Ryazan wajib setor nama karyawan untuk perang di Ukraina demi penuhi kuota tentara.
Market 1 jam yang lalu

Laba Bersih Indocement (INTP) Rp 2,25 Triliun

PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk (INTP) mencatat laba bersih Rp 2,25 triliun tahun 2025.
Business 2 jam yang lalu

Pengadaan Mobil Kopdes Perlu Berbasis Data 

Pemerintah perlu membuat peta jalan yang terukur dan berbasis data, dalam memenuhi kebutuhan mobil operasional Kopdes Merah Putih
InveStory 2 jam yang lalu

Ketika Asuransi Harus Berpikir Seperti Bisnis Ritel

Makin banyak masyarakat dan pelaku usaha kecil terlindungi, makin kuat pula fondasi ekonomi nasional.
Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia