Sabtu, 4 April 2026

IHSG Anjlok, 5 Saham Justru Melesat hingga 28%

Penulis : Erta Darwati
24 Feb 2026 | 16:22 WIB
BAGIKAN
Pengunjung melintas di depan monitor saham Bursa Efek Indonesia, Jakarta. (B-Universe Photo/Uthan AR)
Pengunjung melintas di depan monitor saham Bursa Efek Indonesia, Jakarta. (B-Universe Photo/Uthan AR)

JAKARTA, investor.id - Indeks harga saham gabungan (IHSG) hari ini, Selasa (24/2/2026), ditutup melemah 115,25 poin (1,37%) ke level 8.280,8.

Sejumlah saham terpantau memberikan cuan besar mulai dari saham ASHA hingga PPRE dengan lonjakan harga 24% sampai 28%.

Adapun total nilai transaksi di bursa mencapai Rp 29,18 triliun. Sebanyak 163 saham menguat, sedangkan 596 saham turun dan 199 saham stagnan. Volume perdagangan sebanyak 57,84 miliar saham dengan frekuensi sebanyak 3,35 juta kali.

Advertisement

Terdapat satu sektor saham menguat pada penutupan pasar hari ini yakni sektor keuangan sebesar 1,02%.

Sebaliknya, pelemahan melanda sektor energi 3,5%, sektor barang konsumen primer 3,12%, sektor infrastruktur 2,29%, sektor properti 2,19%, sektor perindustrian 1,89%, sektor teknologi 1,77%, sektor barang konsumen non-primer 1,41%, sektor kesehatan 1,24%, sektor barang baku 1,23%, dan sektor transportasi 1%.

Pilarmas Investindo Sekuritas menjelaskan, dari sentimen eksternal, indeks saham Asia bergerak variatif di tengah meningkatnya ketidakpastian perdagangan Amerika Serikat (AS). Pasar merespons pernyataan Presiden AS Donald Trump yang mengancam kenaikan tarif global dari 10% menjadi 15% menyusul putusan Mahkamah Agung AS yang membatalkan kebijakan tarif daruratnya.

Sementara dari dalam negeri, Pilarmas mengatakan, pelaku pasar mencermati defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) per 31 Januari 2026 yang mencapai Rp 54,6 triliun atau sekitar 0,21% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB).

Dalam jangka pendek, defisit tersebut dipandang sebagai strategi pemerintah mempercepat belanja di awal tahun guna mendorong konsumsi dan investasi publik demi menopang pertumbuhan ekonomi kuartal I-2026. Dalam jangka panjang, pasar tetap mewaspadai risiko pelebaran defisit fiskal apabila tekanan terhadap APBN tidak dikelola secara hati-hati.

Cuan Besar

Editor: Erta Darwati

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkait


Berita Terkini


Market 2 menit yang lalu

WOM Finance (WOMF) Tebar Dividen 30% dari Laba, Ini Jadwalnya

PT Wahana Ottomitra Multiartha Tbk atau WOM Finance (WOMF) berencana menebar dividen tunai 30% dari laba tahun 2025.
Lifestyle 10 menit yang lalu

Cara Daikin Dongkrak Kepercayaan Konsumen 

Saat ini AC tidak hanya sekadar pemberi kesejukan, melainkan juga menjadi pendukung bagi produktivitas.
International 51 menit yang lalu

Pemda Rusia Wajibkan Perusahaan Setor Nama Karyawan untuk Maju Perang

Pemda Rusia rekrutmen militer terselubung. Perusahaan di Ryazan wajib setor nama karyawan untuk perang di Ukraina demi penuhi kuota tentara.
Market 1 jam yang lalu

Laba Bersih Indocement (INTP) Rp 2,25 Triliun

PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk (INTP) mencatat laba bersih Rp 2,25 triliun tahun 2025.
Business 2 jam yang lalu

Pengadaan Mobil Kopdes Perlu Berbasis Data 

Pemerintah perlu membuat peta jalan yang terukur dan berbasis data, dalam memenuhi kebutuhan mobil operasional Kopdes Merah Putih
InveStory 2 jam yang lalu

Ketika Asuransi Harus Berpikir Seperti Bisnis Ritel

Makin banyak masyarakat dan pelaku usaha kecil terlindungi, makin kuat pula fondasi ekonomi nasional.

Tag Terpopuler


Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia