Minggu, 21 Juni 2026

Harga Emas Jatuh Parah, Pakar Sebut Ini Bukan Akhir Reli

Penulis : Indah Handayani
4 Mar 2026 | 06:02 WIB
BAGIKAN
ilustrasi emas. (Foto: AP/ Sakchai Lalit)
ilustrasi emas. (Foto: AP/ Sakchai Lalit)

JAKARTA, investor.idHarga emas jatuh parah pada Selasa (3/3/2026), namun pelaku pasar dan analis menilai reli logam mulia belum berakhir. Di tengah memanasnya konflik di Timur Tengah, daya tarik emas sebagai aset lindung nilai dinilai tetap kuat, meski sebagian investor memilih dolar AS sebagai safe haven utama.

Dikutip dari Reuters, indeks dolar AS naik 0,5% ke level tertinggi dalam lebih dari tiga bulan. Penguatan dolar terjadi seiring pelaku pasar meninjau ulang prospek pemangkasan suku bunga bank sentral global, khususnya di negara-negara pengimpor minyak yang kini menghadapi lonjakan harga energi.

Penguatan dolar membuat harga emas spot tertekan hingga menyentuh level terendah sejak 20 Februari, karena sempat terjun bebas ke kisaran US$ 4.996 per ons troi. Secara historis, emas memang kerap menjadi aset pelindung nilai saat ketidakpastian meningkat dan sebagai lindung nilai terhadap inflasi. Namun, ketika dolar menguat tajam, harga emas biasanya terkoreksi.

ADVERTISEMENT

Robert Gottlieb, mantan Kepala Logam Mulia di Koch Supply and Trading, menilai aksi profit taking menjadi pemicu utama penurunan kali ini.

“Ini salah satu hari ketika investor yang sudah mengantongi keuntungan memilih mengurangi risiko. Tapi apakah fundamental berubah? Jawabannya tidak. Ketidakpastian geopolitik dan ekonomi masih ada,” ujarnya.

Pelaku pasar juga masih berhati-hati setelah volatilitas ekstrem pada 29 Januari lalu, ketika emas sempat mencetak rekor tertingi sepanjang sejarah (all time high/ATH) US$ 5.594,82 sebelum anjlok tajam dalam dua sesi berikutnya.

Di tengah koreksi tersebut, BNP Paribas justru menaikkan proyeksi rata-rata harga emas 2026 sebesar 27% menjadi US$ 5.620 per ons. Bahkan, bank asal Prancis itu memperkirakan harga emas berpotensi menembus US$ 6.250 pada akhir 2026.

Seorang trader logam mulia mengatakan penurunan harga ke kisaran US$ 5.100 kemungkinan akan memicu kembali permintaan dari Asia. Menurutnya, aksi jual pekan ini lebih dalam karena besarnya pembelian yang terjadi pada Jumat lalu, menjelang dimulainya perang udara AS–Israel terhadap Iran pada Sabtu.

Harga emas sempat ditutup di US$ 5.260 pada Senin, level tertinggi sejak 30 Januari, sebelum investor melakukan aksi profit taking.

Tekanan dari Saham dan Obligasi

Editor: Indah Handayani

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkait


Berita Terkini


Business 2 menit yang lalu

Bahlil Pastikan Rencana Konversi LPG ke CNG Masih dalam Proses

Menteri ESDM Bahlil Lahadalia mengungkapkan bahwa rencana konversi penggunaan LPG ke CNG masih dalam tahap proses.
Market 33 menit yang lalu

Harga Emas Perhiasan Hari Ini, Minggu 21 Juni 2026, Cek Rinciannya

Harga emas perhiasan hari ini, Minggu (21/6/2026) di Raja Emas Indonesia, Hartadinata Abadi, dan Laku Emas dalam berbagai karat
Market 2 jam yang lalu

BBCA Dijagokan Lagi, Dana Besar Masuk

Saham BBCA (BCA) kembali dijagokan untuk perdagangan selanjutnya. Target harga saham BBCA tinggi. Dana besar masuk!
Business 2 jam yang lalu

KEK Industropolis Batang Jadi Magnet Investasi Global, Pimpin Transisi Industri Hijau

KEK Industropolis Batang jadi magnet investasi global, yang berada di jalur tepat untuk memimpin transisi industri hijau di Asia Tenggara.
Market 3 jam yang lalu

BERITA POPULER: Saham Murah BMRI Diserok hingga Rencana MSCI 23 Juni

Berita populer 24 jam terakhir, mulai dari saham murah BMRI diserok hingga rencana MSCI pada 23 Juni soal status pasar modal Indonesia.
International 8 jam yang lalu

Skandal Korupsi Spanyol: Istri PM Pedro Sanchez Diadili dan Paspornya Disita

Istri PM Spanyol Begoña Gómez resmi diadili atas kasus korupsi. Paspor disita dan kubu oposisi mendesak pemerintah untuk mundur.
Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia