Intervensi 400 Juta Barel IEA Gagal Redam Harga Minyak
JAKARTA, investor.id - Badan Energi Internasional (the International Energy Agency/IEA) melalui ke-32 negara anggotanya menyepakati pada Rabu (11/3/2026), untuk mengguyur 400 juta barel minyak dari cadangan darurat mereka ke pasar. Langkah ini dilakukan untuk mengatasi gangguan di pasar minyak yang disebabkan oleh perang di kawasan Timur Tengah.
Harga minyak mentah justru tetap melonjak ke level US$ 100 per barel, menyusul pernyataan keras Pemimpin Tertinggi Iran yang menegaskan penutupan Selat Hormuz akan terus berlanjut.
Dikutip dari keterangan resmi IEA, keputusan untuk mengambil tindakan kolektif darurat dibuat setelah pertemuan luar biasa pemerintah negara anggota IEA, yang diselenggarakan oleh Direktur Eksekutif IEA untuk menilai kondisi pasar di tengah konflik di Timur Tengah dan mempertimbangkan opsi untuk mengatasi gangguan pasokan.
“Tantangan pasar minyak yang kita hadapi saat ini belum pernah terjadi sebelumnya dalam skala besar, oleh karena itu saya sangat senang bahwa negara-negara anggota IEA telah merespons dengan tindakan kolektif darurat dalam skala yang belum pernah terjadi sebelumnya,” kata Direktur Eksekutif IEA Fatih Birol, seperti dikutip dari keterangan resminya pada Kamis (12/3/2026).
Persediaan darurat akan tersedia di pasar dalam jangka waktu yang sesuai dengan keadaan nasional masing-masing negara anggota dan akan dilengkapi dengan langkah-langkah darurat tambahan oleh beberapa negara.
Negara-negara anggota IEA memiliki cadangan darurat lebih dari 1,2 miliar barel, dengan tambahan 600 juta barel cadangan industri yang dipegang berdasarkan kewajiban pemerintah. Pelepasan cadangan terkoordinasi ini adalah yang keenam dalam sejarah IEA, yang didirikan pada tahun 1974. Tindakan kolektif sebelumnya dilakukan pada tahun 1991, 2005, 2011, dan dua kali pada tahun 2022.
“Pasar minyak bersifat global, jadi respons terhadap gangguan besar juga harus global. Keamanan energi adalah mandat pendirian IEA, dan saya senang bahwa anggota IEA menunjukkan solidaritas yang kuat dalam mengambil tindakan tegas bersama-sama,” imbuh Birol.
IEA menyebut bahwa konflik di wilayah Timur Tengah yang dimulai pada 28 Februari 2026 telah menghambat aliran minyak melalui Selat Hormuz, dengan volume ekspor minyak mentah dan produk olahan saat ini kurang dari 10% dari tingkat sebelum konflik. Hal ini memaksa operator di seluruh wilayah untuk menghentikan atau mengurangi sebagian besar produksi.
Rata-rata 20 juta barel minyak mentah dan produk minyak per hari melewati Selat Hormuz pada tahun 2025, atau sekitar 25% dari perdagangan minyak dunia melalui jalur laut. Sementara pilihan untuk aliran minyak yang dapat menghindari Selat Hormuz sangat terbatas.
Sekretariat IEA akan memberikan rincian lebih lanjut tentang bagaimana tindakan kolektif ini akan diimplementasikan pada waktunya. Sekretariat juga akan terus memantau pasar minyak dan gas global secara cermat dan memberikan rekomendasi kepada pemerintah negara anggota, sesuai kebutuhan.
Harga Minyak Tak Bergeming
Editor: Prisma Ardianto
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read Now





