Bitcoin (BTC) Anjlok Lagi, Perang Redupkan Narasi ’Safe Haven’ Kripto
NEW YORK, investor.id – Pasar kripto kembali terguncang setelah harga Bitcoin (BTC) melorot hingga ke bawah level US$ 69.000. Pelemahan ini terjadi seiring dengan meningkatnya kekhawatiran pelaku pasar terhadap eskalasi perang antara Amerika Serikat (AS) dengan Israel melawan Iran yang memicu aksi jual masif di aset berisiko.
Sejak pecahnya konflik pada akhir Februari 2026, Bitcoin telah kehilangan sekitar 20% nilainya. Penurunan tajam ini sekaligus mematahkan argumen lama di komunitas kripto yang menyebut Bitcoin sebagai aset safe haven atau pelindung nilai di tengah krisis global.
Sentimen Makro dan Biaya Penambangan
Kepala Strategi Makro di Academy Securities Peter Tchir menilai Bitcoin saat ini terjebak dalam arus jual yang lebih luas, serupa dengan yang dialami pasar saham. Selain itu, lonjakan harga energi turut memberikan tekanan tambahan bagi industri ini.
"Kenaikan harga energi membuat proses penambangan Bitcoin menjadi jauh lebih mahal. Di sisi lain, fokus pemerintah AS di Washington kini teralih sepenuhnya ke perang, sehingga regulasi kripto yang dinanti-nantikan menjadi sulit untuk disahkan," ujar Tchir seperti dikutip Bloomberg internasional, Senin (23/3/2026).
Sinyal Pasar di Akhir Pekan
Pasar kripto yang beroperasi 24 jam memberikan gambaran awal bagi para trader mengenai bagaimana aset tradisional akan bergerak saat bursa dibuka nanti. Data dari bursa derivatif Hyperliquid pada Minggu sore waktu New York menunjukkan kontrak berjangka minyak melonjak lebih dari 4% ke level US$ 99 per barel. Sebaliknya, indeks Nasdaq 100 dan S&P 500 diprediksi dibuka melemah lebih dari 1%.
Ketegangan semakin memuncak setelah Presiden Donald Trump mengancam akan membom pembangkit listrik Iran jika Selat Hormuz tidak segera dibuka kembali. Jalur perdagangan vital tersebut telah ditutup selama berminggu-minggu, memicu lonjakan harga komoditas global. Iran pun membalas dengan ancaman serangan terhadap pangkalan AS dan Israel di Timur Tengah.
Tren Penurunan Sejak Oktober
Kemerosotan terbaru ini memperparah tren negatif yang dimulai sejak awal Oktober 2025, saat Bitcoin masih bertengger di atas level US$ 120.000. Anjloknya harga yang drastis ini dinilai telah merusak sentimen pasar, sehingga reli kecil yang sempat muncul tidak cukup kuat untuk membawa Bitcoin keluar dari zona merah.
Perjalanan Bitcoin dari rekor tertinggi di atas US$ 120.000 pada Oktober 2025 hingga merosot ke bawah level US$ 69.000 pada Maret 2026 mencerminkan tingginya volatilitas aset digital terhadap isu geopolitik.
Meskipun sering dijuluki sebagai "Emas Digital", korelasi Bitcoin dengan aset berisiko, seperti saham teknologi Wall Street, justru menguat saat terjadi krisis energi dan ancaman militer di jalur perdagangan strategis seperti Selat Hormuz.
Penutupan Selat Hormuz, yang merupakan jalur bagi sekitar 20% pasokan minyak dunia, secara historis selalu memicu inflasi energi global. Dalam konteks kripto, hal ini menciptakan tekanan ganda: meningkatkan biaya operasional penambangan (mining) sekaligus mengurangi selera risiko investor yang cenderung memindahkan modal ke aset fisik yang lebih stabil seperti minyak atau emas murni.
Editor: Grace El Dora
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read Now






