Permintaan Emas India Mulai Bangkit, China Justru Melambat
JAKARTA, investor.id – Permintaan emas fisik di India mulai menunjukkan tanda pemulihan seiring turunnya harga global. Namun, di sisi lain, minat beli di China justru melemah, mencerminkan dinamika pasar yang berbeda di dua konsumen emas terbesar dunia.
Dikutip dari Reuters, penurunan harga emas dalam sepekan terakhir mulai menarik minat sebagian pembeli di India. Meski demikian, banyak konsumen masih memilih menunda pembelian dengan harapan harga akan turun lebih dalam.
Para pedagang emas di India tercatat menawarkan diskon hingga US$ 61 per ons dibandingkan harga domestik resmi, lebih kecil dibandingkan diskon pekan sebelumnya yang sempat mencapai US$ 75 per ons. Harga tersebut telah mencakup bea impor sebesar 6% dan pajak penjualan 3%.
Seorang perhiasan di Kolkata mengatakan, penurunan harga memang mulai menghidupkan kembali minat beli. Namun, posisi harga saat ini masih tergolong tinggi dibandingkan tahun lalu, sehingga banyak konsumen bersikap hati-hati.
Pada perdagangan Jumat, harga emas di India berada di kisaran 141.000 rupee per 10 gram atau setara Rp 25,25 juta (kurs, Rp 179), setelah sempat menyentuh 169.880 rupee (Rp 30,42 juta) pada awal bulan ini. Fluktuasi nilai tukar rupee serta volatilitas harga global juga membuat pelaku usaha menahan pembelian, terutama menjelang akhir tahun fiskal.
Di pasar global, harga emas spot bergerak volatil dalam rentang US$ 4.100 hingga US$ 4.600 per ons sepanjang 2026. Bahkan, harga sempat menyentuh level terendah dalam empat bulan di posisi US$ 4.097,99 pada awal pekan, tertekan oleh penguatan dolar serta ekspektasi kebijakan moneter ketat dari Amerika Serikat (AS).
Sementara itu, di kawasan Asia lainnya, Singapura mulai mengambil langkah strategis dengan menargetkan diri sebagai pusat perdagangan emas regional. Pemerintah setempat bersama pelaku industri berupaya memperkuat infrastruktur perdagangan, kliring, dan penyimpanan emas guna menarik lebih banyak aktivitas pasar.
Permintaan China Melemah
Editor: Indah Handayani
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read Now






