Minggu, 21 Juni 2026

Permintaan Emas India Mulai Bangkit, China Justru Melambat

Penulis : Indah Handayani
28 Mar 2026 | 10:00 WIB
BAGIKAN
Ilustrasi emas. (Istimewa)
Ilustrasi emas. (Istimewa)

JAKARTA, investor.id – Permintaan emas fisik di India mulai menunjukkan tanda pemulihan seiring turunnya harga global. Namun, di sisi lain, minat beli di China justru melemah, mencerminkan dinamika pasar yang berbeda di dua konsumen emas terbesar dunia.

Dikutip dari Reuters, penurunan harga emas dalam sepekan terakhir mulai menarik minat sebagian pembeli di India. Meski demikian, banyak konsumen masih memilih menunda pembelian dengan harapan harga akan turun lebih dalam.

Para pedagang emas di India tercatat menawarkan diskon hingga US$ 61 per ons dibandingkan harga domestik resmi, lebih kecil dibandingkan diskon pekan sebelumnya yang sempat mencapai US$ 75 per ons. Harga tersebut telah mencakup bea impor sebesar 6% dan pajak penjualan 3%.

ADVERTISEMENT

Seorang perhiasan di Kolkata mengatakan, penurunan harga memang mulai menghidupkan kembali minat beli. Namun, posisi harga saat ini masih tergolong tinggi dibandingkan tahun lalu, sehingga banyak konsumen bersikap hati-hati.

Pada perdagangan Jumat, harga emas di India berada di kisaran 141.000 rupee per 10 gram atau setara Rp 25,25 juta (kurs, Rp 179), setelah sempat menyentuh 169.880 rupee (Rp 30,42 juta) pada awal bulan ini. Fluktuasi nilai tukar rupee serta volatilitas harga global juga membuat pelaku usaha menahan pembelian, terutama menjelang akhir tahun fiskal.

Di pasar global, harga emas spot bergerak volatil dalam rentang US$ 4.100 hingga US$ 4.600 per ons sepanjang 2026. Bahkan, harga sempat menyentuh level terendah dalam empat bulan di posisi US$ 4.097,99 pada awal pekan, tertekan oleh penguatan dolar serta ekspektasi kebijakan moneter ketat dari Amerika Serikat (AS).

Sementara itu, di kawasan Asia lainnya, Singapura mulai mengambil langkah strategis dengan menargetkan diri sebagai pusat perdagangan emas regional. Pemerintah setempat bersama pelaku industri berupaya memperkuat infrastruktur perdagangan, kliring, dan penyimpanan emas guna menarik lebih banyak aktivitas pasar.

Permintaan China Melemah

Editor: Indah Handayani

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkait


Berita Terkini


International 4 jam yang lalu

Skandal Korupsi Spanyol: Istri PM Pedro Sanchez Diadili dan Paspornya Disita

Istri PM Spanyol Begoña Gómez resmi diadili atas kasus korupsi. Paspor disita dan kubu oposisi mendesak pemerintah untuk mundur.
National 4 jam yang lalu

Ilmuwan Peringatkan Konsekuensi Besar El Nino bagi Cuaca Global

Fenomena El Niño resmi tiba! Ilmuwan peringatkan potensi kekeringan parah dari Indonesia hingga Amazon serta ancaman rekor suhu terpanas.
Lifestyle 5 jam yang lalu

Devin/Faathir Raih Final Perdana BWF Super 300 di Macau Open 2026, Hasil Nyata Pembinaan Berkelanjutan

Capaian ini menandai perkembangan signifikan pasangan muda yang selama ini disiapkan sebagai bagian dari regenerasi bulu tangkis Nasional.
International 5 jam yang lalu

Proyek Ambisius AI Kuras Kas, Investor Pantau Pasar Obligasi

Pembangunan pusat data AI kuras kas perusahaan teknologi. Investor kini wajib pantau suku bunga The Fed dan pasar obligasi global.
Business 5 jam yang lalu

Red Hat Dukung Pengembangan Agentic AI

Red Hat, penyedia solusi open source , baru-baru ini mengumumkan langkah inovatif yang signifikan pada portofolio  Red Hat AI untuk membantu menjembatani kesenjangan antara eksperimen AI dan kendali operasional di tingkat produksi.
International 5 jam yang lalu

Serangan Israel Tewaskan 16 di Lebanon, Dialog AS-Iran di Ujung Tanduk

Gencatan senjata rapuh, serangan Israel tewaskan 16 orang di Lebanon. Masa depan dialog damai nuklir AS-Iran kini kian terancam.
Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia