OPEC+ Kembali Tingkatkan Kuota Produksi Minyak, tapi Dinilai Tak Efektif
MOSKOW/LONDON – Kelompok negara eksportir minyak OPEC+ pada prinsipnya telah menyetujui peningkatan kuota produksi minyak sebesar 206.000 barel per hari (bph) untuk periode Mei 2026. Meski demikian, kebijakan ini diprediksi hanya akan efektif "di atas kertas" atau bahkan tak berarti apa pun saat ini, lantaran sejumlah anggota utama masih terkendala konflik bersenjata di kawasan Timur Tengah dan gangguan infrastruktur.
Mengutip Reuters pada Minggu (5/4/2026), langkah peningkatan kuota ini serupa dengan keputusan pada 1 Maret lalu, tepat saat perang mulai mengganggu aliran minyak global. Namun, penutupan Selat Hormuz sejak akhir Februari akibat konflik AS-Israel kontra Iran telah memangkas drastis ekspor dari negara-negara produsen kunci seperti Arab Saudi, UEA, Kuwait, dan Irak.
Kesiapan anggota-anggota lainnya juga dipertanyakan. Rusia misalnya, juga tidak mampu menggenjot produksi akibat sanksi Barat serta kerusakan infrastruktur di tengah perang yang masih berlangsung dengan Ukraina. Terbaru, pipa minyak Rusia di salah satu pelabuhan utamanya telah diserang drone Ukraina, yang sekaligus menandai meningkatnya risiko gangguan pasokan.
Di negara-negara kawasan Teluk, kerusakan fasilitas energi serangan rudal dan drone imbas konflik Iran vs AS-Israel dilaporkan sangat parah, sehingga pemulihan operasi normal diperkirakan membutuhkan waktu berbulan-bulan.
Mengenai kelancaran jalur distribusi, pihak Iran menyatakan pada Sabtu bahwa Irak telah bebas dari pembatasan untuk melintasi jalur vital tersebut. Data pengiriman pada Minggu (5/4/2026) pun menunjukkan satu kapal tanker bermuatan minyak mentah Irak telah melewati selat tersebut.
Namun, seorang sumber yang dekat dengan masalah ini bilang, “Masih harus dilihat apakah lebih banyak kapal akan mengambil risiko yang terlibat.”
Krisis ini telah memicu gangguan pasokan minyak terburuk dalam sejarah, dengan hilangnya sekitar 12-15 juta barel per hari atau setara 15% pasokan global. Dampaknya, harga minyak mentah kini melonjak ke level tertinggi dalam empat tahun terakhir mendekati US$ 120 per barel. Analisis JPMorgan bahkan memproyeksikan harga bisa menembus rekor US$ 150 jika Selat Hormuz tetap terganggu hingga pertengahan Mei.
Sumber internal OPEC+ menyebut peningkatan kuota ini lebih merupakan sinyal kesiapan pasar ketimbang solusi instan. Sedangkan Konsultan Energy Aspects bahkan menyebut peningkatan tersebut "tidak berarti" selama gangguan di selat tersebut masih berlanjut.
Pertemuan yang dijadwalkan mulai pukul 13.00 GMT ini melibatkan delapan anggota utama OPEC+ yang fokus pada keputusan produksi bulanan. Kedelapan negara tersebut sebenarnya telah menaikkan kuota produksi sekitar 2,9 juta bph dari April 2025 hingga Desember 2025, lalu kembali melakukan peningkatan untuk Januari hingga Maret 2026.
Editor: Prisma Ardianto
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read Now





